Tags


Selalu menyenangkan mengunjungi kantor pos langganan. Melihat tubuhnya yang duduk  meringkuk di sudut, berteman komputer jangkrik dan printer lama LX-800 merk Ep*** yang suaranya memekakkan telinga. Itu berarti dia sedang berbahagia. Banyak pelanggan sepertiku datang hendak mengirimkan barang. Entah sepucuk surat, pakaian, oleh-oleh, atau malah barang elektronik.

kalau ini kantor pos di banda neira, bukan di dekat rumah saya

kalau ini kantor pos di banda neira, bukan di dekat rumah saya

Tubuhnya yang tinggi dengan perawakan sedang akan terpekur memandang layar monitor, sementara senyum tak lepas dari wajah kotaknya melayani setiap pertanyaan dari pelanggan. Mulai dari mahalnya harga pengiriman, jenis-jenis pos yang dapat dikirimkan, pembelian materai, hingga keluhan perempuan yang tak puas karena paket posnya tak jua sampai di pedalaman Kei.

“Minggu kemarin Mas bilang kalau paket saya bakal sampai lima hari. Ini sudah seminggu belum juga sampai,” keluh si Mbak sambil menggebrak-gebrak meja.

Lelaki itu hanya menghela nafas panjang. “Benar Mbak, biasanya lima hari sudah sampai. Kalau Mbak mau komplen, ke kantor pos pusat saja. Di sana Mbak bebas mengemukakan keluhan,” kata si Mas yang kutaksir umurnya di awal tiga puluhan.

“Tapi kan saya kirimnya dari sini, Mas. Kenapa saya mesti ke kantor pusat? Mas aja yang  kerjanya nggak becus.” Kembali marah Mbak meledak.

“Benar, tapi semua data dan pengiriman ke luar daerah ditampung di kantor pusat. Merekalah yang lebih tahu permasalahan di lapangan. Kalau Mbak komplen dan paket Mbak hilang pun, kerugian akan dibayarkan dari sana.” Si Mas lalu duduk diam, tak menjawab semua keluhan si Mbak. Akhirya si Mbak pun melangkah pergi.

“Kirimnya ke mana, Mas?” tanyaku iba.

“Ke Kepulauan Kei, Bu.”

“Ooo.. biasa kalau telat bulan-bulan begini. Kan musim ombak. Nggak setiap hari ada kapal sandar,” kataku mencoba memahami masalahnya.

“Benar.. Ibu kok tahu soal musim ombak?” Dia bertanya dengan nada penasaran.

“Lha saya kan pernah ke Maluku beberapa kali, Mas. Penelitian.”

“Ooo.. hebat ibu sudah ke mana-mana.”

Sejak saat itu kami menjadi kawan baik, dalam arti dia selalu baik melayaniku, ramah, dan banyak bertukar kata. Soal senyum? Semua orang disenyumi, kecuali saat si jangkrik ngadat, sehingga pelayanan kilat khusus terhenti serentak. Itu berarti dia akan menganggur seharian, hanya melayani mereka yang membeli materai, benda-benda pos, atau menggantikan kawannya melayani pembayar listrik, penerima wesel, atau uang pensiun. Tentu hidup menjadi lebih membosankan baginya.

“Berapa semua?” begitu tanyaku setelah dia mengetik satu demi satu alamat dalam tumpukan paket yang hendak kukirim.

Dan dia selalu bertanya, “Buku ya Bu? Biasa?” Aku memang selalu mengirimkan paket buku dalam kilat khusus biasa. Selain ongkosnya lebih murah, waktu sampainya pun sama saja dengan kilat khusus ekspress. Yang membedakan, hanya nama dan harga. Andai ada selisih waktu sampai, tak lebih dari sehari.

Pernah suatu hari dia bertanya kepadaku saat melihat paketan buku menggunung yang hendak kukirim. “Ibu jualan buku ya?”

“Iya,” jawabku.

“Onlen?” tanyanya lagi.

“Benar, lebih murah jualan onlen ketimbang lewat toko-toko buku. Lebih murah biayanya,” jawabku asal. Tak kubilang bahwa yang kujual buku yang kutulis sendiri dan kucetak secara POD. Takut berkesan sok. Lagipula aku kan juga menjual buku-buku bekas untuk mengurangi timbunan koleksi buku di rumah ibu.

“Ooo..,” hanya itu yang keluar dari mulutnya kemudian.

Pernah aku keliru menuliskan alamat dan kode pos kiriman buku untuk kawan di Jakarta. Harco yang dia maksud berbeda dengan Harco yang kukira. Akhirnya aku telepon kantor pos itu, dia yang menerima dan membetulkan kekeliruanku. Baik sungguh pak pos muda itu. Barangkali hatinya aduhai juga.

Kantor pos tempatnya bekerja kecil saja. Namanya juga kantor pos cabang pembantu. Hanya ruangan ukuran empat kali tiga, dibagi menjadi dua bagian. Sebelum menempati Jalan Ciliwung, kantor pos ini sudah berpindah di tiga tempat. Semula di depan terminal angkot Joyoboyo, lalu di samping Kebun Binatang, dan terakhir di Jalan Kutai, menjadi satu dengan agen pengiriman paket swasta.

Aku sudah merasakan jasa keempat kantor pos tadi. Rumah orangtuaku tak pernah kena gusur nyaris 30 tahun. Jadi, ketika jasa paket swasta menjamur, aku masih setia dengan jasa pak pos. Kecuali jika aku harus mengirimkan barang dalam jumlah besar. Buku-buku seberat hampir satu kilogram misalnya, akan lebih murah diangkut pakai jasa paket partikelir.

Hari itu aku sengaja ke kantor pos pagi-pagi sekali. Ada beberapa buku yang harus kukirim, sebagian lewat pos, sisanya dengan paket partikelir. Buku karya lamaku sebenarnya, hanya cetakan ulang. Entah mengapa, buku-buku karyaku laris manis belakangan ini. Mungkin aku mulai dikenal, mungkin tulisanku serenyah kerupuk sehingga mudah dimamah. Baru tiga hari aku cetak buku, lebih separo habis dipesan dan lunas dibayar. Jadi aku harus mengirim buku pesanan ini segera.

Sudah lebih sebulan aku tak sambang kantor pos langganan. Aku banyak bepergian. Begitu kulongok pintu, wajah di balik komputer jangkrik pun sumringah. “Maketkan buku lagi ya?”

“Benar,” jawabku sambil menyodorkan empat bungkus kecil buku.

“Saya kemarin lihat Mbak di acara teve lho,” katanya menyebut satu tayangan yang kebetulan aku menjadi bintang tamunya. Aku tertawa. Tumben dia mengganti kata ’Bu’ dengan ‘Mbak’. Apa aku terlihat lebih muda setelah tampil di teve. Tak urung hatiku menghangat menerima perhatiannya. Di antara ratusan bahkan ribuan pelanggan, dia masih mengenali wajah dan namaku saat tampil di teve. Siapa yang tak sumringah.

“Sempat lihat teve juga to, Mas?” Sungguh jawaban bodoh, pikirku. Bukan berarti tukang pos hanya menggemari acara gosip dan mosip, tapi juga bincang penuh motivasi.

Dia segera mengetik paket kirimanku. “Saya nggak nyangka Mbak suka jalan-jalan,” katanya sembari kedua tangannya memainkan papan ketik. Aku tak menanggapi. Bukan hal besar menurutku tampil di teve. Semua orang dapat masuk teve, demonstran, buruh, tukang becak, pembunuh, atau koruptor.

“Berapa Mas?” tanyaku kemudian. Dia menyebutkan sejumlah angka, dan aku membayar. Senyumnya terus menyungging hingga punggungku meninggalkan pintu keluar. Mirip kanal teve yang lupa dimatikan ibuku saat tertidur.