Tags

, ,

Berikut adalah penuturan DR Bambang Rudito tentang awal mula keterlibatannya dengan Orang Mentawai, bagaimana cara dia melakukan etnografi terhadap mereka, apa yang dia lakukan, hingga kemudian menjadi kepala klan Sakukuret, bahkan menjadi orang yang dituakan oleh Orang Mentawai. Kisah ini dituturkannya dalam bedah buku ’Bebetei Uma: Etnografi Orang Mentawai’ yang diadakan di perpustakaan c2o Surabaya. Saya tulis apa adanya, dengan sedikit proses penghalusan dan suntingan. Selamat Membaca.

Bambang ketika menurunkan ilmunya di pelatihan etnografi

Bambang ketika menurunkan ilmunya di pelatihan etnografi

Saya pertama kali datang ke Mentawai tahun 1987. Waktu itu niat saya hanya mau main-main. Tiba di ibukota kecamatan, saya lihat ada Orang Mentawai menjual gaharu. Saya jadi penasaran dan mengira-ngira apa dia merasa terasing. Jadi saya ikuti dia ke rumahnya. Rupanya dia ‘welcome’ sekali dengan orang luar. Saya pun jadi tamunya dan kerasan tinggal di rumahnya. Rencana berkunjung yang semula seminggu akhirnya molor menjadi dua minggu.

Dalam dua minggu dia sudah memperkenalkan saya dengan semua penduduk di Dusun Muntei. Dia juga mengajak saya mencari gaharu di hutan. Pada saat itu tahulah saya untuk mendapatkan gaharu, orang menebang banyak sekali pohon. Saya amati bagaimana orang mencari gaharu. Mereka menebang pohon dulu, baru membelah batangnya. Gaharu yang diambil pada teras yang berwarna hitam. Jika terasnya belum matang, kembali mereka menebang pohon. Begitu terus sampai mereka menemukan teras yang menghitam. Kelak saya temukan cara baru untuk mendapatkan gaharu tanpa menebang banyak pohon, yaitu dengan bantuan karbit. (Biasanya orang menebang pohon, membelahnya, untuk mendapatkan teras berwarna hitam di bagian tengah sebagai gaharu. Namun kini, cukup menusuk batang pohon dengan bantuan karbit, dapat diketahui apakah terasnya masih muda atau sudah berwarna hitam. Jadi tak perlu menebang banyak pohon lagi).

Oya, saya sempat juga mengajar di SD. Guru SD tersebut, yang kebetulan orang Padang, jarang datang ke dusun pedalaman. Lalu saya menawarkan diri untuk menggantikannya sambil belajar Bahasa Mentawai dari anak-anak. Wah, saya sering dikerjain murid-murid SD itu. Mereka mengajari saya kata-kata saru. Ketika saya berbicara dengan orang dewasa, saya pun ditertawakan saat mempraktekkan kata-kata itu. Nakal sekali anak-anak itu.

Waktu tinggal dengan penjual gaharu itu saya menyadari akan adanya potensi masalah. Mereka bertanya, ‘Bapak agama apa?’ Saya jawab, ‘Islam’. Lalu mereka berkata, ‘Berarti Bapak tidak makan babi.’ Tak ingin hal ini menjadi masalah di kemudian hari, saya pun menjawab, ‘Saya tidak makan daging. Tubuh saya gatelen kalau makan daging.’ Itu jawaban yang selalu saya gunakan jika bertemu Orang Mentawai. Akhirnya mereka menyuguhi saya ikan.

Ketika saya datang ke Siberut, Orang Mentawai sedang mengalami proses transisi. Mereka dilanda demam nilam. Dalam setahun, mereka panen nilam 2-3 kali. Padahal tanaman ini membuat tanah tidak subur. Daun nilam lalu disuling, untuk diambil minyaknya. Biasanya mereka butuh 9 pohon berdiameter 10 cm yang tingginya 4 meter untuk memasak nilam selama 10 jam. Jadi bayangkan berapa pohon yang habis ditebang demi nilam. Saya telusuri untuk apa nilam ini. Rupanya dulu Orang Mentawai menggosok-gosokkan daun nilam ke tubuh saat mandi, agar tubuh mejadi wangi.

buku 'Bebetei Uma, Kebangkitan Orang Mentawai', karya Bambang Rudito, diterbitkan Gading.

buku ‘Bebetei Uma, Kebangkitan Orang Mentawai’, karya Bambang Rudito, diterbitkan Gading.

Saya pernah bertemu seorang lelaki ketika masuk hutan. Dia mengumpulkan daun-daun tertentu untuk obat penyakit malaria. Dia hafal benar daun mana terdapat di mana. Saya pun mengikutinya, ikut mengambil daun yang dia ambil, memasukkannya ke dalam plastik, dan menamainya. Lalu saya melihat pohon tirokat yang berfungsi sebagai batu nisan. Saya pun mulai mempelajari pohon penanda kematian itu.

Pernah daun-daun yang saya kumpulkan terbawa sampai ke Padang. Efeknya mirip santet. Kaki saya jadi bengkak. Meski sudah diobatkan ke mana-mana tapi tak sembuh-sembuh juga. Akhirnya saya kembali ke Mentawai, menemui kawan yang menjadi sikerey. Ajaib, dia mengeluarkan semacam batu karang dari kaki. Kaki saya pun normal kembali. Menurutnya saya kena santet ‘hantu sungai’ karena tak menggunakan daun tersebut sebagai obat.

Ketika masuk hutan, saya menjumpai sebuah rumah. Namun rumah itu kosong, penghuninya sedang keluar. Saya melihat ada gambar kadal dan lutung di dinding rumah. Dari situlah saya terpikat mendalami mitologi Orang Mentawai. (Mitologi Orang Mentawai di bukunya, Bebetei Uma, Etnografi Orang Mentawai tergolong lengkap dan mendetail, serta menarik pemaparannya).

Pernah juga saya ikut seorang ibu yang mencari lokan menggunakan bambu di sungai. Saya heran di sana tak ada lelaki, semua perempuan dan anak-anak. Saya amati bagaimana mereka mengambil lokan dari dalam sungai, menusukkan bambu ke dasar sungai. Ketika pulang, saya ditegur para lelaki. “Kamu dari mana?” tanya mereka. Ketika saya jelaskan, mereka tertawa. “Itu pekerjaan perempuan,” kata mereka. Saat itulah saya tahu bahwa ada penggolongan pekerjaan berdasar jenis kelamin pada suku Mentawai di Siberut, dan saya tertarik untuk mengamatinya.

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama di Mentawai. Misalnya belajar bahasa lokal dari anak-anak. Saya juga mengenalkan penduduk pada tanaman caberawit untuk dimakan. Ketika saya datang Orang Mentawai hanya memanfaatkan sagu, talas, dan pisang. Mereka juga makan ulat sagu dan ulat pohon. Babi dan ayam hanya dihidangkan saat upacara. Anak-anak malah unik. Begitu berhasil menangkap belalang, langsung saja dimakan tanpa dimasak. Lalu suatu hari saya ambil daun singkong, saya masak, dan saya tumbuh dengan cabe. Orang-orang menyukainya. Sejak hari itu kami makan lauk daun singkong dan cabe. Saya juga mengajari penduduk cara membuat emping. Selama ini mereka makan biji melinjo begitu saja.

dalam sebuah upacara

dalam sebuah upacara

Di ibukota kecamatan saya berjumpa lelaki Jawa yang beristrikan orang Mentawai. Bahagia benar dia dapat berbahasa Jawa dengan saya. Pekerjaannya mengolah sagu. Sagunya lebih putih, dan dijualnya kepada orang Mentawai. Lalu saya sarankan dia untuk berbagi ilmu membuat sagu kepada Orang Mentawai. Tak lama kemudian dia mempekerjakan Orang Mentawai. Ketika marak pembangunan di kecamatan, saya ‘kompori’ dia untuk beralih usaha menjadi pembuat batu bata dan mempekerjakan orang lokal.

Kalau dihitung-hitung, sekitar 7 tahun saya meneliti dan mempelajari kehidupan Orang Mentawai secara intensif, selebihnya hanya datang dan pergi. Itu sebabnya mereka menjadikan saya mirip kamus berjalan. Kalau ada masalah atau pertikaian di antara mereka, maka saya jadi penengah alias saksi ahli. Bahkan kemudian saya dinobatkan sebagai ketua klan Sakukuret, dan dijuluki ‘Si atak alay sakukuret’. Mereka biasa memanggil saya Sabambang.

Pengangkatan saya sebagai ketua klan diresmikan dalam sebuah upacara di kampus. Waktu itu saya masih menjadi dosen jurusan antropologi di Universitas Andalas. Kawan-kawan dari Mentawai datang, termasuk dua sikerey sambil membawa ayam dan banyak barang-barang asal Mentawai. Setidaknya ada 110 jenis barang asal Mentawai yang saya kumpulkan, setiap jenis ada 3-4 macam. Semua barang kini saya hibahkan ke Museum Adityawarman. Pihak museum memberi saya satu ruang khusus yang berlabel ‘Mentawai’. Lucunya kini kalau mahasiswa asal Mentawai hendak belajar tentang adat dan budaya mereka, justru datang ke museum.

Setelah cukup lama mengenal Mentawai, ritual menjadi pusat perhatian saya. Mengapa? Karena setiap kegiatan dimulai dan diakhiri dengan ritual. Ada dua ritual yang menarik dan terhitung ‘sadis’ menurut saya, yaitu upacara meruncingkan gigi dan tato. Pada ritual meruncingkan gigi, digunakan golok dan kayu. Jadi bayangkan betapa sakit yang dirasakan orang yang diruncingkan giginya. Sudah sakit berdarah pula. Sementara sedang diruncingkan giginy, dia menggigit pisang kecil mirip pisang emas.

Kelak, iseng saya bawa pisang ini ke Padang untuk diteliti. Ternyata pisang ini mengandung bahan untuk menumbuhkan email gigi. Saya lalu mencari tahu mengapa Orang Mentawai merasa perlu ‘menaringkan’ semua giginya. Mungkin ini ada hubungannya dengan menyantap babi. Bagian babi yang paling disukai adalah rahang dan punggungnya. Biasanya, babi yang dimasak saat upacara tidak benar-benar matang. Jadi butuh taring untuk mengoyaknya.
Saya juga bertanya-tanya mengapa Orang Mentawai yang cenderung santai hidupnya kok memiliki tubuh ramping. Rupanya ini ada hubungannya dengan zat yang dikandung sagu sebagai makanan utama mereka.

Yang paling berkesan saat saya diajak seorang pemuda yang membawa panah. Tak tahu apa-apa, saya pun ikut. Di tengah jalan dia bercerita hendak mencari seseorang untuk dia bunuh. Dulu dia sudah membunuh orang tersebut, lalu mnyerahkan diri ke polisi dan dipenjara. Rupanya yang dia bunuh masih hidup. Tentu saja saya gemetar dan ketakutan. Mana enak jadi saksi pembunuhan. Untungnya orang yang dia cari tak ketemu.

Pernah juga saya diajak kepala suku desa lain untuk membeli lem besi. Saya pikir dekat saja tempanya. Rupanya kami harus berjalan, juga naik perahu semalaman. Pulang dari membeli lem besi, kepala suku itu memberi saya bibit pohon durian. “Ini untuk kuburanmu nanti,” katanya. Jadi saya sudah punya kuburan di Mentawai.

Sejak tahun 1999-2000 saya membantu Kepulauan Mentawai menjadi kabupaten tersendiri. Saya lalu dimintai pendapat untuk menentukan letak ibukota kabupaten, serta bandara. Saya bilang bandara lebih cocok didirikan di Dusun Tuapejat. Bukan karena letaknya yang strategis, tapi pemandangannya yang indah.

Dulu, sebelum reformasi, saya membantu pemerintah memukimkan kembali Orang Mentawai. Kini saya amati program transmigrasi cukup berhasil di Mentawai. Banyak sawah dibuka. Mayoritas transmigran berasal dari Jambi. Ketika saya tanya, rupanya Orang Jambi sedang menyiapkan tanah buat anak cucunya.

Saya juga melihat beberapa program pemerintah yang tak tepat guna. Niat baik justru menimbulkan hama. Misalnya hama kerbau dan sapi. Kerbau dan sapi sengaja didatangkan dengan tujuan membantu penduduk meningkatkan kesejahteraan. Tapi mental penduduk tak dipersiapkan, penduduk tak diajari bagaimana memelihara dan memanfaatkan kerbau dan sapi. Akhirnya banyak sapi kena penyakit. Yang menggelikan, melihat sapi sakit dirubung lalat, oleh penduduk malah dikipasi. Mungkin kasihan dengan sapinya, jadi mereka mencoba mengusir para lalat.

Begitu juga dengan kerbau. Tak tahu mau diapakan, kerbau-kerbau itu dibunuh dengan cara dipanah. Lha, kapan matinya. Kebijakan yang tak tepat tujuan begini seharusnya tak terjadi.

Riwayat hidup.

Bambang Rudito lulusan antropologi UI tahun 1984. Lalu menyelesaikan pascasarjana di bidang demografi (MSi) dari UGM tahun 1995, dan MA UI tahun 1998. Tahun 2005 dia meraih gelar doktor di bidang antropologi dari UI. Promotornya, alm, Prof. Parsudi Suparlan, dalam ujian terbuka mengatakannya sebagai, ‘seorang yang saya kenal sebagai preman doktor’. Hal ini untuk menegaskan bahwa Bambang menjalani banyak kehidupan sebelumnya, mulai tukang batu, pengedar daun setan, dukun reiki, sopir bluebird –walau akhirnya tak dilakoni-, juga menjadi supir truk kosongan Padang-Jakarta ketika baru diangkat menjadi dosen antropologi di Universitas Andalas sehingga membuat jawatannya malu.

Mulai menjadi dosen antropologi Universitas Andalas 1988, dia kemudian mendirikan Sekolah Bisnis Manajemen ITB. Keahliannya sekarang di bidang ‘Coorporate Social Responsibility’, hal yang dia amat nikmati karena mengisi otak-otak bisnis muridnya dengan antropologi, khususnya etnografi, sehingga murid-muridnya mau menggunakan hati, menciptakan keseimbangan ekonomi dengan memberdayakan potensi bisnis masyarakat sekitar. Jadi tak melulu perusahaan besar.

Ketika di Mentawai, tak segan dia menggunakan dirinya sendiri sebagai obyek penelitian. Misalnya, dia menjadi murid sikerey –walau tidak lulus karena faktor X-, juga melakukan pendekatan tak biasa. Bukannya membagi-bagikan rokok atau tembakau, penggemar GG ini justru membagi-bagikan vitamin B –yang dikenalkan sebagai vitamin kuat jalan dan bergerak- sebutir satu buat penduduk yang ditemuinya.

Advertisements