Tags

,


Kali ini saya hanya ingin menceritakan beberapa kenangan dan ngatan. Umur saya empat tahun kala itu, sedang berlibur di rumah kakek-nenek di desa. Rumahnya besaaar, luaaas. Di dapur, saat ramai-ramainya orang memasak di siang hari, saya melihat nenek ‘yang lain’. Dia sedang memarut kelapa. Orang di dapur pun ‘gempar’, tapi tak ada yang mengolok-olok saya sedang melamun, mengigau, atau bodoh. Syukurlah.

mbunteli nasi berkah, siap-siap cari kembang kantil

bentuk kegiatan untuk membuat energi semesta harmonis: LABUHAN MERAPIl

Kembali ke rumah ibu di Surabaya, tatkala masih SD kelas 5-6. Setiap malam saya terus memincingkan mata. Ada saja yang terjadi di kamar depan yang saya tiduri. Kalau terlelap, tiba-tiba tubuh saya dilambung ke atas atap, lalu jatuh ke lantai. Tempat tidur tingkat dari besi pun diguncang-guncang, dibuat ‘enjot-enjotan’. Sangat menyiksa. Tapi saya tak hendak mengadu kepada siapa-siapa.

Lalu beberapa tahun kemudian, di kamar kos di Samirono, saat menjadi mahasiswa UGM, siksaan yang sama berulang kembali. Setiap malam ada angin yang bergulung-gulung di dalam kamar. Meniup muka saya. Tentu bulu kuduk saya tidak berdiri. Hanya saya merasa ngeri. Kebetulan saat itu saya sedang senang-senangnya naik gunung, setiap minggu, entah Merapi, Merbabu, Sumbing, Sundoro, atau Lawu. Umumnya naik sendirian.

Gunung yang pertama kali saya daki selalu meninggalkan kesan ‘ngeri’. Saya sempat kesurupan di Semeru, juga seturun dari Agung, dan bertemu dengan perjaka tampan mirip bangsawan era Majapahit di Rinjani. Saya melihat harimau di Lawu, bertemu seorang pastor di Sumbing via Garung, dan masih banyak lagi. Bangga? Matamu! Takut, sudah pasti. Tapi takut saja tak cukup kuat menghentikan kaki menembus jejak hutan pinus atau padang eidelweis. Saya merasa nyaman naik seorang diri karena tak akan dijadikan lelucon jika kebetulan ‘kesurupan’, ‘ketempelan’, atau ‘berbincang’ dengan makhluk kasat mata itu.

Merugikankah kemampuan mirip itu? Atau justru menguntungkan? Atau saya sedang mengada-ada? Awalnya saya sangat terganggu, dan berkeras menolaknya. Saya kerap dianggap aneh, tidak normal, diledek, Malas rasanya menjalani itu semua. Namun semakin keras kemampuan itu saya tolak, semakin hancur hidup saya. Saya menjadi ‘mudah terbakar’, emosi naik turun ala roller coaster. Semakin aneh jadinya saya. Semakin gelak orang menertawakan saya.

Saya lalu membaca bahwa dukun di bajo pun memiliki kemampuan ini, juga sikerey dari Mentawai. Tak luput pemangku di Bali, yang memimpin warganya lewat upacara. Semakin saya baca banyak buku, semakin saya tahu di setiap generasi, dalam setiap suku bangsa, selalu ada orang ber-‘energi astral’ yang hidup damai dengan sukunya. Bahkan, di beberapa suku hal ini mirip ‘kebanggaan’. Jadi saya mulai menghargai diri sendiri.

Saya kemudian memilih jalan tengah, berdamai dengan ‘kebisaan’ ini, sekaligus membuka ‘kontak’, hubungan dengan ‘apapun’ atau ‘sesiapapun’. Saya tanya apa maunya, kenapa mengikuti saya, lalu saya bernegosiasi dengannya. Hasilnya, hidup jauh lebih nyaman, dan saya mulai berbahagia.

Saya juga belajar hal baru, hal yang di luar pemikiran saya saat itu. Apapun atau sesiapapun itu, adalah bentuk energi. (Ada gunanya juga kuliah di teknik nuklir yang sudah berganti nama itu). Saya mencoba memahami energi lebih baik, yang hidup, yang mengalir, atau yang hendak mati. Lalu saya mulai membaca energi manusia, energi hatinya, juga energi pemikirannya. Ini membuat saya mulai memahami orang sekitar. Apakah dia bermaksud buruk atau baik. Dalam banyak perjalanan saya di kemudian hari, kemampuan ini menyelamatkan saya. Saya dapat membaca orang-orang di kapal, sopir truk yang hendak memberi tumpangan, dan lainnya.

Saya ingat pada malam kedua berkunjung ke Ijen, usai kawan saya pamit turun duluan, saya justru bersahabat dengan semua orang di sana. Pemilik dan penjaga warung, jagawana, bahkan petugas koramil. Saya dapat tumpangan kamar gratis. Esoknya, saya diajak jagawana yang bertugas patroli, keliling daerah tak bertuan. Eh, tiba-tiba dia konsultasi tentang sebuah masalah. Saya ‘asal jawab’, dia tampak senang. Urusan bersenang-senang mengejar penebang hutan ilegal hari itu beres. Dan, saya mendapat berita yang laku ditulis di majalah.

Kisah lain? Dalam perjalanan ke Praya, saya bertemu dengan bapak kawan yang sakit. Saya minta dia minum ‘rendaman air sirih’. Tiba-tiba sakitnya hilang. Mereka pun mirip keluarga hingga kini.

Kisah lain? Semalam anak kawan ‘kerasukan’ usai menari di pura. Anak dara ini mungkin kuat, atau berpura demikian. Namun emosinya naik turun, namanya juga pubertas. Iseng saya pijit tangannya, karena saya lihat ‘lirikan matanya’ tidak biasa. Benar, dia sedang ‘ditempeli’ atau diikuti’ sesiapa yang mengaku ‘DD’. Dan DD adalah kerabat pendulunya di dua generasi atasnya.

Ada kawan menyarankan untuk menggunakan kemampuan ini demi hidup, mendapatkan uang. Peroleh nomor togel gratis misalnya, atau meminta imbalan usai menyelesaikan masalah orang. Sekali lagi saya jawab, “Matamu!” Sudah nikmat hidup saya sekarang, tak perlu dilebih-lebihkan. Kemampuan membaca energi, lalu membuatnya sinkron, harmonis, mirip kemampuan kita menjalani hidup, baik atau buruk, dan berdamai dengannya.

Salam,