Tags

,

Letusan Merapi subuh, 18 November kemarin mengingatkan akan kenangan labuhan Merapi yang saya ikuti awal Juni. Semoga itu bukan labuhan terakhir, dan semoga berkah maupun rahmad diberikan kepada warga lereng Merapi dan kota-kota yang mengelilingi gunung setinggi lebih 2700 meter ini. Berikut pengalaman saya pada labuhan terakhir ini:

Labuhan Merapi terakhir saya ikuti tahun 2002, jadi sudah sebelas tahun lalu. Pascaerupsi Merapi pada Oktober 2010, tentu banyak yang berubah di Merapi. Saya jadi ingin tahu, perubahan apa sajakah itu? Maka saya hubungi kawan lama, Kang Tonden, untuk mengetahui kondisi Merapi terkini.

Minggu siang, seorang kawan baru, ‘anak’ angkatan yang kuliah di Kehutanan 2010-an, Vella, menjemput saya dari depan Perpustakaan UGM. Diguyur hujan rintik-rintik, kami menuju ke huntap Karang Kendal, sesuai instruksi Kang Tonden. Biasanya, kalau ke wilayah Kaliadem, saya akan mengambil arah berbelok ke kanan sebelum pertigaan Pakem. Kali ini kami berbelok ke kanan menuju arah lapangan golf jauh di atas Pakem.

jogjakarta ah!

jogjakarta ah!


Satu jam kemudian sampailah kami di hunian tetap (huntap) pengungsi Merapi di Karang Kendal. Setidaknya di sini ada 81 unit rumah yang dibangun bagi pengungsi asal Dusun Kinahrejo yang rumahnya ‘habis’ diterjang awan panas pada erupsi 2010 lalu. Modelnya mirip perumnas tipe 36.

Kata Wagiman, salah satu warga yang saya rumahnya saya inapi malam itu, setiap rumah dibangun dengan anggaran Rp 30 juta dan harus selesai dalam satu bulan. Itu untuk rumah batu berkonstruksi tahan bencana yang dilengkapi 2 kamar tidur, ruang tamu yang luas, dan dapur serta kamar mandi di belakang. Saya tertawa, dapurnya masih bergaya lama, pakai tungku batu dan bahan bakar kayu bakar. Tapi secara umum rumahnya masih lebih baik daripada rumah ibu saya di Surabaya. Rumah ini berlantai keramik putih, rumah ibu pakai tegel hitam nggak jelas warnanya. “Tapi itu belum termasuk bea melabur dinding atau memasang lantai keramik. Untuk bea ini, saya keluar duit sendiri,” kata Giman.

Masalahnya, kata Giman, penduduk lereng Merapi yang biasa memelihara sapi, kambing, atau ayam kini tak bisa kembali ke pekerjaan asal mereka. “Kandangnya sudah disiapkan, tapi belum diserahterimakan. Jadi kami belum bisa beternak,” akunya. Itu sebabnya banyak penduduk huntap yang beralih menjadi tukang ojek atau ikut-ikutan jadi pemandu wisata. Ada juga yang membuka warung di bekas Kinahrejo dulu.

Di huntap Karang Kendal, kami menuju rumah Mas Asih –juru kunci baru pengganti Mbah Maridjan- untuk makan, minum, ngobrol dengan para tamu. Setelah itu kami menuju ke sebuah rumah di dekat Balai Desa Umbulharjo, bertemu dengan kawan-kawan Komunitas Lereng Merapi (KLM) yang bakal menjadi panitia labuhan esok hari. Di sini pula malamnya saya bertemu kawan-kawan penjaga sungai seputar Gunung Merapi. Mereka ini tinggal di daerah berbahaya, dan rela mempertaruhkan hidupnya, serta berguna sebagai ‘telik sandi’, yaitu pengirim pesan bagi masyarakat di bawah Merapi, andai Merapi mengirimkan gejala alam sebagai tanda bahaya. Beberapa di antara penjaga kali ini mesti berjalan berjam-jam menuju Umbulharjo demi labuhan karena jalan di sana tak dapat dijangkau alat transportasi.

mbunteli nasi berkah, siap-siap cari kembang kantil

mbunteli nasi berkah, siap-siap cari kembang kantil

Hampir pukul tiga, setelah hujan mereda, kami menikmati pawai, arak-arakan sebagai pembuka acara labuhan. Pawai diikuti peserta yang melambangkan prajurit keraton, ulama, bangsawan, dan mereka yang membawa gunungan, berjalan menuju lapangan di bawah rumah juru kunci di huntap Karang Kendal. Gunungan berupa ubo rampe – hasil kebun penduduk setempat seperti sayur, buah, nasi lengkap dengan lauk dan ayam panggang – yang nantinya diperebutkan usai digelar tari-tarian di lapangan. Pada malam harinya dilakukan kenduri dan pagelaran wayang kulit hingga subuh menjelang.

Saya tak ikut acara di malam hari, memilih tidur di rumah Wagiman beralas kasur busa super empuk. Tak berasa dingin udara. Sungguh berbeda dengan pengalaman bermalam di Kinahredjo belasan tahun lalu, khususnya di rumah Pak dan Bu Pudjo. Di rumahnya yang sebagian dindingnya bambu, saya akan tidur di ranjang bambu panjang beralas sleeping bag atau selimut. Dinginnnya.. brrr bikin badan molak-molek ke kiri kanan. Sayangnya, rumah Pak Bu Pudjo tak ada lagi, habis terlindas awan panas. Pak dan Bu Pudjo pun ikut jadi korban. Pedih hati mengingatnya.

Subuh saya bangun, bersiap-siap. Sementara tertawa melihat kawan saya, Kang Tonden berpakaian adat Jawa tapi memakai sepatu trekking, kami menuju wilayah Kinahrejo. Sangu mendaki saya waktu itu hanya sebotol kecil air putih dan seplastik ampyang –yang akhirnya habis saya bagi-bagikan ke kawan- serta kamera. Saya pikir dengan nyaris tanpa beban saya akan mendaki lereng Merapi tanpa kesulitan.

Sepanjang perjalanan di jalur pendakian, saya lihat banyak relawan yang menunggu di pos-pos tertentu. Dulu lereng Merapi dipenuhi banyak pencinta alam, yang kemudian menggabungkan diri ke dalam Sekber DIY. Kini isinya para relawan. Ada juga anggota SARDA DIY. Yang jelas saya tak kenal satu pun. Tapi kesannya, kehadiran para relawan membuat suasana jadi sangat dan mencekam. Seolah-olah Merapi siap meletus dan memuntahkan awan panas kapan saja. Untungnya tak saya lihat peserta labuhan yang mengenakan helm pelindung atau jaket penyelamat.

kang tonden dan mbak elisabeth

kang tonden dan mbak elisabeth

Labuhan adalah ritual untuk memohon restu arwah leluhur, penguasa Gunung Merapi, agar melindungi dan memberi keselamatan kepada Kraton Yogyakarta. Labuhan  juga menjadi bukti kuatnya ikatan antara masyarakat lereng Merapi dengan alam tempatnya hidup. Ikatan yang dibalut tradisi sejak berabad lalu, yang tak lekang oleh majunya peradaban.

Labuhan alit Merapi ini adalah runtutan labuhan di Pantai Parangkusumo dan bersamaan dengan labuhan di Gunung Lawu dan Dlepih. Acara yang dilakukan di awal Ruwah ini diwariskan oleh Panembahan Senopati, Raja Mataram yang pertama. Dulu, upacara ini merupakan tanda syukur Senopati dan penghormatannya kepada Ratu Laut Kidul dan Penguasa Merapi atas bantuan mereka mendirikan Kerajaan Mataram. Upacara juga diadakan untuk memperingati jasa rakyat kecil yang membantu Senopati membuka Alas Mentaok, cikal bakal Kerajaan Mataram.

Selama pendakian saya jumpai banyak orang berpakaian adat Jawa. Yang lelaki mengenakan beskap warna gelap, jarit, blangkon, serta keris terselip di pinggang belakang. Yang perempuan dibalut jarit, kebaya, dan berkonde. Sebagian dari mereka adalah para sesepuh desa dan abdi dalem keraton Jogjakarta. Ada juga peserta labuhan yang sangat sepuh, hingga berjalan pun mesti dipapah anak istrinya. Namun tekadnya kuat. Satu setengah jam kemudian saya sampai di gapura Sri Manganti. Sudah banyak peserta labuhan baik yang berpakaian adat Jawa maupun pakaian preman ala saya sampai di sana. Kami menunggu iring-iringan juru kunci.

Tak berapa lama rombongan juru kunci muncul, didahului dengan yang membopong peti berbentuk rumah joglo, berisi benda-benda yang akan dilabuhkan. Lalu si pembawa payung kuning keemasan, untuk memayungi peti dan lakunya Sang Juru Kunci. Lalu.rois si pembaca doa, juru kunci dan anak buahnya, terakhir ibu-ibu yang menggendong bakul berisi nasi, ayam, dan sesajen.

Saat ritual dimulai pengamanan sangat amat ketat. Hanya yang berpakaian adat Jawa yang boleh berada di tengah lapangan. Para tukang poto harus berdiri di sisi kiri atau kanan lapangan. Nantinya tukang foto akan menghalangi peserta labuhan yang berpakaian seadanya. Jadi orang-orang yang berangkat dari Imogiri, Bantul, Wates dan sekitarnya tapi tak berpakaian adat Jawa hanya mendengar samar apa kata juru kunci dan dipameri bokong-bokong bahenol para juru jepret. Untuk ini saya harus tertawa, hahaha..!

Rombongan juru kunci segera mengambil tempat menghadap sebuah batu besar, sela dhampit namanya. Setelah itu pandangan saya tertutup pantat-pantat semloheh para juru foto. Saar-samar saya dengar juru kunci menyebut barang-barang yang mesti dilabuh seperti sinjang cangkring yang dipercaya dapat mengusir hawa jahat, semekan bangun tulak – kain biru yang di tengahnya berwarna putih – yang dipercaya dapat menolak bahaya, dan aneka kain lain dengan khasiat yang berbeda. Juga ada sebundel ses wangen (rokok berbau harum), amplop berisi uang, meratus atau kemenyan, dan apem mustika. Setiap barang dan sesajen yang akan dilabuhkan memiliki makna khusus, yang tujuannya untuk memberi perlindungan kepada keraton.

Setelah meratus dibakar dan asapnya memenuhi udara, Mas Asih mulai menyerahkan barang-barang sesaji sambil membaca doa. Barang-barang itu dilabuh, yang bermakna menyucikan manusia kembali dari berbagai dosa dan kesalahannya di masa lalu, membuatnya bersih dan siap memulai hidup baru yang lurus dan baik. Lalu rois membaca doa, yang diamini oleh seluruh pengikut labuhan.

Sepanjang labuhan yang pernah saya ikuti selalu muram cuacanya, berkabut, agak gelap, penuh kedut istilahnya. Konon, pada saat itu para lelembut Merapi turun ke altar labuhan. Tapi kok saya tidak merasa semriwing. Sekilas saya dengar doa rois berisi rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada  Yang Maha Kuasa, penghormatan kepada leluhur, alam Merapi yang telah menjadi sumber penghidupan mereka. Paska erupsi, tanah Merapi luar biasa subur. “Pepaya yang ditanam di kebun penduduk buahnya besar-besar dan sangat manis. Kalah pepaya dari Purworejo, Mbak. Cabenya juga besar-besar,” kata kawan yang sempat melakukan penelitian di lereng Merapi.

Usai pembacaan doa, para ibu yang dipimpin istri alm Mbah Maridjan dan istri Mas Asih mulai meracik nasi berkah, berupa suwiran ayam dan kembang kanthil ke dalam plastik, sebelum dibagi-bagikan ke peserta labuhan. Nasi kepal ini dianggap sebagai berkah dari Ngarso Dalem – julukan Raja Mataram yang berkuasa – sebagai penanda bahwa labuhan  mereka diterima.

Mas Asih kemudian menanam bibit sawo kecik emas yang melambangkan menanam kebecikan dan berkah bagi penghuni lereng Merapi. Lalu saya membaur dengan kawan lama masa muda, saat masi hobi naik Merapi dulu. Sekilas saya bertemu Mbak Elisabeth Inandiak yang menulis buku ‘Merapi Omahku’, lalu 4 seri tentang Serat Centhini, juga menerjemahkan fabel-fabel karya Tan Swie Hian.

Bagi saya pribadi, labuhan kali ini terasa manis karena bertemu dengan banyak kawan lama, jadi bisa mengenang Merapi jaman dulu. “Sekarang dinding puncak Merapi makin tipis, sedikit dipijak sudah menguar asap belerangnya,” kata Kang Tonden. Mungkin ini yang membuat Merapi mendadak meletus subuh 18 November 2013 tanpa tanda pemberitahuan. Merapi tak hanya kaya mitos, tapi juga penuh kejutan.

Baca juga:

Menebar berkah labuhan Merapi

Perempuan perkasa lereng Merapi

Lagi labuhan merapi

Advertisements