Tags

,


Ada 4 hal menarik yang saya catat selama hampir tiga jam (molor dari dua jam waktu yang disediakan panitia) pelatihan etnografi oleh Dr Bambang Rudito di perpustakaan c2o, 8 November lalu. Hal tersebut adalah:

1.Mengapa susah mengatur Indonesia ?

2.Bagaimana cara melakukan etnografi?

3.Bagaimana cara menuliskan laporan etnografi?

4.Memahami konflik lewat stigma dan labeling

Tentu saja ada banyak hal menarik seperti penyelesaian konflik perusahaan lewat SWAT, dan lain istilah ‘salah kaprah’ dalam masyarakat tentang budaya. Namun saya hanya akan menyorot keempat hal di atas yang saya anggap sedang aktual. Kalau Anda menginginkan hal lebih, sebaiknya datang ke pelatihan etnografi lain atau belajar langsung ke Pak Bambang di Sekolah Bisnis Manajemen ITB sana. πŸ˜€

Bambang ketika menurunkan ilmunya di pelatihan etnografi

Bambang ketika menurunkan ilmunya di pelatihan etnografi

1.Mengapa Susah Mengatur Indonesia?

Kalau dulu etnografi identik dengan ilmu yang meneliti tentang suku bangsa, kini tidak lagi. Justru etnografi lebih pas disebut untuk menggambarkan budaya. Mengapa demikian? Karena sebuah suku bangsa dapat memiliki beragam budaya. Sebagai gambaran, Orang Jawa yang hidup di metropolis Jakarta tentu memiliki budaya yang berbeda dengan Orang Jawa yang hidup di pesisir utara pulau. Atau Orang Madura yang tinggal di Sumenep tentu memiliki budaya yang berbeda dengan Orang Madura yang tinggal dan menetap di Johor, Malaysia.

Setidaknya ada 72500 suku bangsa di Indonesia. Amat beragam! Suku Jawa terbagi menjadi 12 budaya (Purwokerto, Jawa Tengah, Osing Banyuwangi, Suroboyoan, dsb), sedang Orang Sunda memiliki 15 komunitas adat. Jadi bayangkan betapa beragamnya budaya di Indonesia.

Dari keberagaman ini, terbagi menjadi 7 pola hidup di Indonesia yang tak dipunyai negara lain, entah Malaysia, China, Thailand, Amerika Serikat, dan entahlah. Pola tersebut adalah:

1.Masyarakat atau komunitas berburu dan meramu

2.Masyarakat berladang berpindah-pindah (slash and burn)

3.Masyarakat beternak (sebagian NTT)

4.Masyarakat nelayan

5.Masyarakat berkebun (berladang tetap)

6.Masyarakat bertani atau irigasi

7.Masyarakat industri, barang, dan jasa.

memanen cengkeh menggunakan 'ondo lanang'

masyarakat berkebun cengkeh (menetap) di bali utara

Ke-7 pola hidup ini ada dan ditemukan di Indonesia. Komunitas berburu dan meramu misalnya masih ditemukan pada Orang Mentawai Siberut, komunitas ladang berpindah apa pada Orang Rimba di Jambi, masyarakat bertani dan irigasi banyak terdapat di Bali Utara, dan sebagainya.

Karena ada beragam budaya, maka sulit untuk mengatur dan mendisiplinkan orang di Indonesia. Sebagai gambaran, menurut Orang Batak, jika disuguhi minuman harus dihabiskan. Sedang Orang Sunda menganggap minuman harus disisakan sedikit sebagai tanda kesopanan. Jika kedua suku ini bertemu, pasti ada friksi karena perbedaan persepsi budaya tadi.

Hal lain, jika Anda ke Madura dan diundang ke rumah penduduk, Anda harus mampir sebagai tanda kesopanan. Jika menolak, Anda dianggap menghina mereka. Namun di bagian lain Indonesia, undangan kerap dilontarkan sebagai basa-basi. Jika kedua suku yang menganit nilai budaya berbeda ini dipertemukan, jelas yang terjadi adalah friksi. Jika ada ribuan suku bangsa, maka akan ada ribuan budaya yang berbeda, dan kemungkinan terjadinya friksi pun ribuan pula. Itu sebabnya mengapa kebijakan yang diambil guna mengatur kehidupan masyarakat harus memperhatikan kebudayaan setempat. Jika tidak, bakal bermasalah. Itu sebabnya amatlah susah mengatur Indonesia.

2.Bagaimana Cara Melakukan Etnografi?

Kebudayaan ada karena munculnya kebutuhan manusia, entah kebutuhan biologis, sosial, dan psikologis. Kebudayaan lalu mewujud dalam bentuk keyakinan, organisasi sosial, bahasa, dan seni. Sementara itu kebudayaan menciptakan mata pencarian, mata pencarian lalu disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Untuk menyetabilkan mata pencarian, dibutuhkan teknologi.

Lalu bagaimana kebudayaan dapat diamati? Lewat pola hidup, tingkah laku, dan bahasa. Karena itu, jika hendak melakukan etnografi sebuah masyarakat, amati tingkah laku masyarakat tersebut, juga benda-benda budaya masyarakat tersebut, atau pelajari bahasanya. Lewat pengamatan ini, etnografer akan mendapat pengetahuan budaya, sehingga dapat memahami pola pikir masyarakat tersebut.

Etnografer biasanya berpartisipasi langsung ke dalam obyek yang diamatinya.

Etnografi praktis dapat dilakukan bertumpu pada: tempat, pelaku, dan aktivitas.

Jika etnografi bertumpu pada tempat, maka yang diamati dan ditulis adalah aktivitas pelaku, dan sesiapa pelaku tersebut. Misalnya melakukan etnografi di desa A, maka yang diamati siapa saja penghuni desa A, apa saja aktivitas penduduknya.

Jika etnografi bertumpu pada pelaku, maka yang diamati adalah gerak dan aktivitas pelaku. Misalnya, apa saja yang dilakukan pelaku hari itu, ke mana saja dia pergi. Etnografi mirip ini kerap dilakukan pada konsumen produk merk tententu, misalnya HP, mobil, dan sebagainya.

Jika etnografi dilakukan berdasar aktivitas sebuah masyarakat, maka etnografer mesti mencatat perilaku pelaku, ke mana saja dia, serta siapa saja yang melakukan aktivitas tertentu tersebut.

Pengamatan tentang pelaku, peran, dan aktivitasnya pada kelompok budaya tertentu dapat diamati menggunakan jaringan sosial atau social mapping. Dalam metode ini, pelaku A, B, C, dst ditempatkan dalam rantai kehidupan masyarakat.

Sedang pada metode focus group discussion, diskusi dilakukan maksimal 2 jam, dengan menampilkan 10-15 orang. Tentu saja yang ditampilkan adalah mereka yang memegang peran kunci dalam komunitas tersebut. Bambang menyarankan untuk melakukan wawancara maksimal 1 jam terhadap 1 obyek atau pelaku. Alasannya, 15 menit pertama wawancara adalah ‘basa-basi’, 30 menit selanjutnya menuju ke inti yang diteliti, sedang sisanya obyek yang diwawancarai mulai bosan dan mengiyakan jawaban penanya. Hasilnya, tentu tidak obyektif lagi.

Hal lain yang perlu dipegang si etnografer adalah kejujuran. Bambang mengisahkan pengalamannya ketika di Mentawai. Dia mengganti kata ‘Islam’ yang tidak makan babi dengan ‘saya gatelen jika makan daging’. Bukan berbohong, dia konsekuen dengan ucapannya, tak menyentuh daging di Mentawai, dan hanya menyantap Islam.

Kejujuran bentuk lain adalah jika Anda hendak survei tentang pajak penghasilan, cukup katakan ‘hendak meneliti pengeluaran seseorang, alokasi dana buat mengangsur rumah, mobil, bayar sekolah, telepon, juga besar gaji.’ Cerdik, tanpa perlu menjebak atau berdusta.

Penelitian etnografi seharusnya bersifat menyeluruh, holistik, sehingga hasil yang didapat pun maksimal.