Tags

, ,


Berikut lanjutan tulisan ‘Pelatihan Etnografi’ yang diberikan Pak Bambang Rudito awal November di perpustakaan c2o Surabaya. Perlu saya tegaskan, saya tak pernah kuliah di antropologi, menulis ini semata berbagi dengan keterbatasan kapasitas intelektual yang saya miliki. Tulisan ini pun dibuat atas permohonan berbagai pihak -secara free pula-, dari kawan-kawan yang kebetulan tinggal di luar Surabaya, dan amat berminat mendalami etnografi seperti saya.

Salam,

Bagian ketiga yang saya anggap menarik adalah bagaimana menuliskan laporan etnografi. Hal ini terkait juga akan banyaknya penulisan bergaya etnografi namun si penulis tak melakukan metode etnografi.

3.Bagaimana Menuliskan Laporan Etnografi?

Laporan etnografi mirip ‘bukan tulisan orang mengusir anjing’ tapi ‘cara mengusir anjing’. Jika Anda hendak memaparkan pekerjaan seorang petani misalnya, maka dapat Anda tuliskan, ‘Pukul 5 pagi dia mengambil cangkul, bakul berisi nasi hangat dan ikan teri yang sudah disiapkan istrinya, juga sebotol besar air matang. Dia lalu berjalan kaki telanjang sejauh 3 km menuju sawah di tepi desa. Sampai di huma, gubuk berukuran 2×1 meter persegi yang terbuat dari bambu dan beratap daun ilalang, dia letakkan bekal makanannya, lalu mulai mengangkat pacul, membenamkannya ke tanah di depannya. Pekerjaan membolak-balik tanah di area selua 500 meter persegi itu berulang-ulang dilakukannya. Tiap lima menit sekali dia akan berhenti, meluruskan tubuhnya, mengusap keringat yang mengalir dari kedua dahinya… bla bla bla.” Itulah laporan etnografi, penuh deskripsi yang terperinci.

Pada penulisan laporan etnografi digambarkan benda-benda budaya, tingkah laku budaya, serta pengetahuan budaya, yang dilakukan untuk memahami lingkungan di mana masyarakat tersebut tinggal, baik lingkungan alam, sosial, maupun budaya. Dengan membaca laporan etnografi, orang akan paham bagaimana masyarakat tersebut hidup, bagaimana mereka memaknai alam dan lingkungannya lewat hubungan keseharian mereka dengan alam dan lingkungan, serta bagaimana mereka bertahan, bernegosiasi dengan lingkungan tempat tinggalnya hingga saat ini. Ada perubahan budaya, ada perubahan pandangan dan pemikiran dalam menyikapi alam dan lingkungan yang berubah. Namun ada juga nilai-nilai budaya yang bertahan.

4.Memahami Konflik lewat Stigma dan Labeling

saya suka damai, ala buddha. berdamai dengan diri sendiri, maka padamlah niat menjadi pengadudomba dan membuat banyak kambing hitam

saya suka damai, ala buddha. berdamai dengan diri sendiri, maka padamlah niat menjadi pengadudomba dan membuat banyak kambing hitam

Bagian yang paling menarik minat saya adalah saat Pak Bambang berbagi pengalaman saat diminta pemerintah memecahkan beberapa konflik yang pernah meletus di Indonesia.

Indonesia tergolong negara yang rawan konflik. Hal yang disadari Mpu Tantular sejak dulu lewat ‘bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa’, yang berarti ‘berbeda-beda tapi tetap satu, tiada kebenaran yang mendua’. Banyaknya suku dan budaya berpotensi memunculkan friksi. Perbedaan antara budaya satu dengan lainnya mulanya akan memunculkan stereotipe, yaitu perbedaan budaya yang mendominasi. Misalnya anggapan bahwa suku A pandai mengendalikan perekonomian dan irit, sedang suku B dikenal boros dan gemar akan kemewahan. Padahal sifat ini tak dianut oleh semua anggota suku A atau B.

Tataran stereotipe dan prasangka masih dianggap wajar dalam hubungan antar suku antar budaya. Misalnya, ketika lelaki Jawa hendak menikah dengan perempuan Sunda, di keluarga si lelaki akan muncul pertentangan karena takut jika setelah menikah, maka si istri akan menguasai harta suaminya. Hal ini muncul karena pada banyak pernikahan perempuan Sunda yang berakhir perceraian, harta suami akan jatuh ke mantan istri.

Kelak, jika pernikahan berlangsung bahagia, dan si istri ternyata pemurah, maka pupuslah stereotipe perempuan sunda ‘suka harta’ ini. Sebaliknya jika pernikahan gagal, berakhir perceraian, dan suami jatuh miskin, akan memperkuat stereotipe ini.

Stereotipe dan prasangka yang ‘mengeras’ akan menghasilkan stigma. Hasilnya adalah ‘hindari berhubungan dengan suku itu, orang itu’. Nah, di sinilah mulai muncul bibit konflik. Dan jika stigma ‘menguat’, bisa muncul ‘Bunuh orang itu, habiskan suku itu’ sehingga pecahlah konflik seperti kasus Sampit, ketika Orang Dayak melawan Orang Madura.

Kasus Sampit pecah setelah ada Orang Madura di Sampit yang berkata ‘Sampit Milik Madura’. Pernyataan ini melukai harga diri Orang Dayak. Labelling ini akhirnya membuat Orang Madura diburu dan terusir dari Sampit.

Bambang berkisah bagaimana menentukan senjata pembunuh berdasar etnografi. “Kalau leher korban yang ditebas mulus, dapat dipastikan dia dibunuh oleh Orang Dayak. Tapi kalau bekas lukanya bergerigi, yang membunuh Orang Madura.”

Rekonsiliasi konflik Sampit pun rumit. Sepuluh tahun pascakonflik meletus, tepatnya 2007, masih sulit bagi Orang Dayak menerima kembali Orang Madura ke Sampit. “Saya mencoba menggunakan lahan pertanian Orang Dayak yang dirusak tikus. Saya bilang biar Orang Madura yang membenahi lahan tersebut,” kata Bambang.

Konflik SARA yang meletus di Lampung antara transmigran asal Bali dan penduduk lokal, menurut Bambang, oleh si oknum pencetus konflik, hendak dibuat ala konflik Sampit. Jadi suku Bali di Lampung hendak diadu dengan penduduk lokal. Namun sebelum hal itu terjadi, pemecah konflik mengalihkan perhatian menjadi bentuk konflik lain, yaitu masalah persaingan ekonomi.Transmigran asal Bali memang cukup sukses hidupnya di Lampung, jauh dibanding penduduk lokal.

Hal yang sama terjadi pada konflik di Ambon, yang dipicu ulah segelintir suku BBM (Buton-Bugis-Makassar) yang mengatasnamakan agama (Islam), padahal mereka hendak menguasai perekonomian informal di Ambon, dan tak ingin tersaingi oleh warga kelas bawah Ambon.

Konflik Ambon kemudian memicu konflik di Maluku Utara antara Islam-Kristian, padahal sebetulnya sasaran pencetus konflik adalah perebutan lahan ekonomi. (Bab konflik seperti ini saya mengambil beberapa referensi, buku-buku dan laporan penelitian yang dikirim oleh beberapa kawan, jadi tak sekedar penjelasan Pak Bambang.)

Ada satu masalah penting yang saya kira luput dari para pemecah konflik, entah pemerintah maupun LSM, yaitu sosialisasi hasil penelitian. Sepengalaman saya berjalan ke pulau-pulau kecil yang pernah kena imbas konflik sara, masyarakat di sana masih menganggap murni bahwa konflik belasan tahun lalu karena dipicu kebencian antar agama. Yang muslim menganggap kristian membenci dan memusuhi mereka, demikian sebaliknya. Mereka tak tahu bahwa ada kepentingan lain -politik dan ekonomi- yang menunggangi konflik SARA. Ini yang membuat banyak penduduk pulau terpencil bersikap ‘antipati’ terhadap pendatang, tamu, yang berbeda agamanya. Stereotip dan prasangka buruk bermunculan, juga stigma. Jika dibiarkan, mirip menyulut arang di rumah kayu. Siap terbakar setiap waktu, bergantung ada tidaknya angin yang berhembus atau orang yang bermain kipas.

Tampaknya pemerintah kesulitan mencari orang atau LSM yang mau dan mampu menyebarkan hasil penelitian ini ke masyarakat awam, yang tinggal di pelosok, dan amat merasakan imbas konflik, serta susah menerima akses informasi dari luar. Anda berminat menjadi agen ‘solusi damai’ ini?