Tags

,

Dia pengagum Hifatlobrain, blog traveling yang kerap masuk majalah. Bisa dibilang dia anak buah Ayos Aklam Panyun. Dia juga fans berat Agustinus Wibowo. Di perpustakaan C2O Surabaya, dia mirip silent member. Ketika saya banyak menghabiskan waktu di Munduk, dia kerap kirim pesan pendek, “Kenapa tinggal di Munduk terus? Apanya yang menarik?”

kawan yang kurang gaul itu

kawan yang kurang gaul itu

Saat dia mengajukan diri mengunjungi Munduk plus jadi voluntir, saya ‘oke’ saja. Namun saya wanti-wanti untuk siap fisik dan mental. Kenapa? Sekali saya ke Bangkalan dan hendak ke air terjun Torohan bersamanya, karena saya pikir dia tahu tempatnya. Ternyata dia tidak tahu. Padahal dia asli Bangkalan. Saat motor melaju lebih separo perjalanan dan tempat yang dituju kurang 40 km, dia menyerah. Panas mungkin alasannya. Setidaknya saya tahu dia bukan jenis pejalan ulet.

Belakangan saya baru tahu, dia anak rumahan. Memanglah kuliah di Surabaya dan sudah lulus, namun minim pengalaman bergaul. Sebelum menuju Munduk, dia bertanya tentang arah dan jadwal bus. Saya beri ‘ancer-ancer’. Dia naik kereta api Sritanjung dari Surabaya, berhenti di Stasiun Banyuwangi Baru, lalu berjalan kaki menuju pelabuhan penyeberangan feri ke Gilimanuk. Di pelabuhan Gilimanuk, dia harus berjalan kaki 200 meter menuju terminal bus, dan menunggu bus jurusan Singaraja pertama yang selalu berangkat pukul 4 pagi, Kadang malah sudah berangkat sebelum pukul 4.00.

Saya perkirakan dia sampai di Munduk pukul 06.30 seperti jadwal saya biasanya. Ternyata meleset. Pukul 9.00 lebih sedikit dia baru sampai Munduk. Alasannya, angkutan dari Seririt menuju Munduk lama ngetem. Mungkin dia tak langsung naik angkutan pertama, mungkin dia banyak tolah-toleh memahami situasi baru. Hehe.. Karena sebelumnya dia memang belum pernah keluar dari Surabaya atau Bangkalan.

 Tiba di Munduk, dia langsung saya ajak ke Dayang. Ada panen padi hari itu, dan saya ingin mendokumentasikannya. Dia ikut. Kami berjalan sekitar satu jam, melalui jalan beraspal kecil naik turun bukit sebelum menyimpang ke jalan setapak. Tak seperti kawan-kawan lain, khususnya para bule, dia tak banyak bertanya ini-itu. Padahal beragam kebun kami lalui. Ada cengkeh, pala, coklat, dan beberapa pura. Saya tak tahu ketika saya jelaskan di jalan apakah dia menyimak, tertarik, atau malah mengabaikan.

Ketika memasuki sawah yang sedang dipanen pun dia tak terlihat berminat. “Ini banyak di tempatku,” katanya. Saya agak heran karena sepengetahuan saya susah menemukan sawah di Madura, khususnya bagian barat seperti Bangkalan dan Kamal. Terlalu tandus tanahnya. Kalau ladang jagung lumayan ada, juga pohon jambu mente.

Keesokan hari, dia bertanya mana kebun sayur yang biasa saya tanami. Saya tunjukkan teras siring di belakang rumah. Dalam pandangannya mungkin kebun sayur harus ala ‘Mekarsari’ atau yang ada di teve-teve, bukan tumbuh mirip liar dan nyaris tanpa perawatan. Hari itu saya minta dia sedikit membolak-balik tanah. Saya hendak menanam kacang tanah. Tak lama, hanya satu jam di kebun.

dia membantu mencampur tanah dan menanam paprika, belajar dari mang abon

dia membantu mencampur tanah dan menanam paprika, belajar dari mang abon

Saya lebih suka menjelaskan kepadanya tentang Munduk. Tempat mana saja yang bisa dia lihat, air terjun, pura, juga tiga danau yang jauhnya 6-7 km di atas Munduk. Dia mengiyakan, tapi tak berniat jalan-jalan. Saya sendiri tak bisa mengantar, sibuk menuliskan kembali data yang terkumpul. Kalau berminat, bisa saja dia menyewa motor Rp.40.000 sehari lalu berkeliling Bali dari pagi sampai malam. Lebih irit. Tapi dia tak mau. Takut kelelahan. “Nanti saja kalau ke sini sama teman-teman,” alasannya.

Hari ketiga di Munduk, saya tak memberinya tugas. Hanya menyilakan makan di dapur jika lapar atau ingin membuat kopi, teh. Berkali kawan saya si empunya rumah menawarinya makan, tapi dia menolak halus. “Biarkan saja, kalau lapar kan makan sendiri,” kata saya kepada tuan rumah. Dia tertawa.

Malam baru dia makan. Beberapa pelayan restoran menegur saya, “Kawan Mbak tahan lapar ya, nggak mau makan-makan.” Hahaha…!

Pada hari ketiga itu dia baru mau membuka percakapan dengan orang sekitar, Mbok Luh yang suka bantu bersih-bersih rumah, beberapa pekerja restoran. Itu pun setelah saya ‘semprot’, “Jadi orang kok gak gaul, gak mau berkomunikasi dengan orang lokal. Apa gunanya ndengerin kuliah Pak Bambang tentang etnografi kemarin.”

“Etnografi kemarin isinya apa sih?” dia balik bertanya. Tahulah saya dia tak berminat dengan kuliah Pak Bambang. Itu juga disampaikannya langsung kepada salah satu anggota c2o. Mungkin karena tak tahu manfaatnya. Kegemaran seseorang memang berbeda-beda, namun belajar ilmu baru selalu ada manfaatnya. Sore hari saya lihat Mbok Luh memberinya pekerjaan, mencabuti rumput di halaman. Bonusnya, mengajaknya ngobrol.

Ada satu prinsip yang saya pegang. Saya takkan menolak voluntir lokal selama jadwal kosong. Tapi saya akan memilih dan memilah voluntir asing yang ke Munduk. Menyenangkan rasanya jika ada pejalan lokal yang berminat menanam sambil melihat masyarakat Bali pedesaan. Akhir November ini merupakan waktu menanam di Bali, sesuai kalender setempat. Jadi kalau ada yang datang ya silakan saja, tapi saya tak dapat full menemani. Saya sedang sibuk mengumpulkan data tentang Munduk dan orang-orangnya.

Saya juga pantang memberi tugas khusus kepada voluntir. Saya hanya menjelaskan apa yang saya butuhkan, selanjutnya silakan mereka berinisiatif dan bekerja menuangkan ide-idenya. Di kebun misalnya, masih tersedia luas tanah kosong yang bisa ditanami. Di gudang ada botol-botol plastik yang siap diubah menjadi pot. Bibit yang sudah disemai dan siap ditanam pun ada. Calon bibit yang mau disemai di tempat khusus pun ada. Kalau mau, mereka dapat langsung bekerja.

Nah, kawan saya ini mungkin tak terbiasa dengan cara ini. Yang dilakukannya hanya melihat orang menanam, bekerja jika disuruh, dan tak berinisiatif sama sekali. Ya sudah. Dia mengaku butuh menyepi, bertapa, sambil memikirkan masa depannya nanti. Mungkin di kampungnya dia pun pusing, sedang menganggur. Dia baru saja ‘resign’ dari tempat kerja lama. Mungkin juga dia hendak berpetualang, mencari pengalaman baru, namun takut dan tak tahu memulainya. Jadi saya memberinya waktu dan membiarkannya.

Di hari keempat dia masih lontang-lantung, mulai ngobrol dengan satu dua pegawai restoran. Dia mulai makan dengan dua tiga kali ajakan. Dia mungkin sudah berjalan-jalan di sekitar Munduk, tapi hanya dalam radius 1 km ke atas dan bawah. Hahaha..

Pagi tadi, Senin pukul 07.00 wita dia pamit mau pulang. Namun rutenya berbeda, jalan kaki menuju tiga telaga -Tamblingan, Bratan, Bruyan- lanjut ke Bedugul, barur naik angkot menuju Denpasar, terus ke Gilimanuk dan kembali ke Surabaya.

“Jauh nggak danau dari sini?” tanyanya waktu pamit.

 “Sekitar 6-7 kilo,” jawab saya.

 “Satu jam sampai ya?”

 “Bisa. Tapi biasanya 1,5 jam.”

 “Kalau jalan kaki ke Bedugul, kira-kira sampai sana jam berapa?”

 “Kalau kamu jalan kaki dari sini jam 6, di Bedugul jam 2-an.”

 “Oke, aku jalan.”

 Saya tak sempat mengantarnya keluar rumah atau ke jalan raya. Maklum, masih asyik maculi dan menyiangi kebun. Jadi saya hanya mengucapkan selamat jalan. Saya harap perjalanan kali ini mampu membobol benteng ‘ragu’ dan ‘takut’. Membuatnya dewasa.

Epilog

Pukul sepuluh dia SMS. “Baru tekan danau. Gendeng.. apik banget.”

Saya tertawa. Sejak hari pertama saya bilang dia untuk menjenguk danau, tapi tak pernah didengarnya. Dasar lelet dan manja.

Tampaknya saya mesti memilah dan memilih voluntir lokal juga nih setelah ini. Jangan lantas ada yang baru putus cinta terus melarikan diri ke Munduk, atau bosen ditegur orangtua kok nganggur terus lalu bilang bekerja di Munduk. Bisa kacau dunia kecil saya.

Advertisements