Tags

, ,


Tersamar dalam pemukiman padat, tak menghapus jejak bahwa di sana suatu masa, pernah berdiri kerajaan besar. Puluhan candi dan ribuan artefak menjadi saksinya. Saksi bertautannya dua agama besar, Hindu dan Buddha, yang membentuk roh tanah Jawa dan mempersatukan nusantara.

Kota kuno itu bernama Trowulan. Luasnya 100 km persegi, meliputi dua kabupaten, Mojokerto dan Jombang. Kawasan yang padat oleh rumah penduduk dan berbatasan dengan areal industri. Padahal tujuh abad lalu kota itu masih berupa hutan lebat, alas gung Tarik. Raden Wijaya kemudian membabatnya. Seorang pengikutnya memuntahkan buah berasa pahit yang dipikir bisa mengobati haus dan lapar kala bekerja. Jadilah tempat itu bernama Majapahit, yang berkembang menjadi kerajaan besar selama dua abad. Satu-satunya kerajaan yang wilayah kekuasaannya melebihi Indonesia sekarang.

Kejayaan Majapahit banyak ditulis dalam buku sejarah. Namun menelusuri langsung candi-candi dan artefak yang tersebar di kawasan Trowulan, kita seolah diajak menggali 1001 legenda, anekdot, dan filosofi hidup yang tertimbun selama berabad silam, bersembunyi di setiap cagar budaya, lebih dari membaca buku sejarah.

candi tikus

candi tikus

Kolam Cuci Piring

Perhentian Pertama menapak jejak Majapahit adalah Gapura Wringinlawang. Terlihat jelas dari pinggir jalan raya, gapura ini dulunya adalah pintu gerbang menuju kompleks kedaton. Konon, di samping gapura pernah tumbuh pohon beringin. Nama Wringinlawang (beringin di pintu) diambil dari sini.

Wringinlawang terbuat dari bata polos setinggi 13,7 meter. Ujung atasnya terpisah atau terbelah sehingga disebut Candi Belah atau Bentar. Bekas sesaji teronggok di tangga gapura. “Dari peziarah yang datang, agar beroleh restu saat masuk kompleks keraton,” jelas Sugiyono, pegawai dinas purbakala yang menjaga candi, seolah dapat membaca pikiran saya.

Ada gapura lain. Bajangratu namanya, artinya ratu yang masih bayi. Gapura ini dibangun untuk memperingati kematian Jayanegara, Raja Majapahit yang naik tahta kala masih bocah. Berbeda dengan Wringinlawang, ujung atas Bajangratu menyatu. Bentuknya mirip piramida, hingga disebut paduraksa. Paduraksa berhias relief kepala singa, elang, dan naga, sebagai lambang pengusir mara bahaya. Relief bertabur mulai dari atas hingga ke kaki. Ada relief Ramayana di bagian sayap, atau Sri Tanjung di kaki. Sayang, pipa-pipa besi yang dipasang saat candi di pugar menghalang mata membaca relief di bagian dalam candi. Dari dalam, kita dapat menikmati eloknya panorama di luar. Mirip membingkai pemandangan.

Kisah menarik muncul dari kolam segaran. Menurut penuturan masyarakat setempat, kolam berukuran 375mx175m ini dulunya adalah simbol prestise raja tatkala menjamu tamu. Usai jamuan makan, perkakas seperti gelas, piring, dan sendok akan dilempar begitu saja oleh raja ke dalam kolam. Tindakan ini untuk menunjukkan betapa makmurnya Kerajaan Majapahit kepada tetamu yang umumnya pejabat negara tetangga. Begitu si tamu pulang, bekas alat makan yang terbuat dari perak, perunggu itu pun dicari dan dicuci kembali.

Kolam Segaran kini menjelma menjadi tempat pemancingan. Di sekitar kolam yang tampak terpelihara dipasang pagar agar tak sembarangan orang boleh masuk. “Kalau menyelam ke dalam kolam, bisa jadi kita menemukan barang antik,” harap Harry, seorang pemancing dengan mimik serius. Kebanggaan dan harapan akan kolam ini masih kuat tertanam dalam hati penduduk setempat.

Satu peninggalan indah lainnya yang masih utuh adalah Candi Tikus. Berada 3,5 meter di permukaan tanah, candi ini ditemukan secara tidak sengaja pada 1914. Waktu itu ada wabah tikus, penduduk lalu menggali makam yang berbentuk gundukan tanah. Ternyata di bawahnya ada candi. Maka candi itu disebut candi tikus.

candi brahu

candi brahu

Candi Tikus awalnya merupakan petirtaan. Arsitektur candi meniru Gunung Mahameru dari India, berupa puncak suci yang dikelilingi delapan puncak kecil dilengkapi 2 kolam kecil dan 17 pancuran pada pelipis pondasi. Air yang mengalir melambangkan air amerta atau air kehidupan yang dipercaya memiliki kekuatan magis, memberi kehidupan dan kesejahteraan kepada makhluk hidup. Mirip air yang mengaliri Gunung Mahameru.

Belum Komersil

Kisah lain dikandung Candi Kedaton dengan Sumur Upasan. Sumur ini berada tepat di mulut gua, beracun pula. Pernah seorang pengunjung nyaris meninggal karena sesak napas ketika mencoba masuk ke dalam sumur. Dia ingin membuktikan mitos bahwa gua yang dipintui sumur merupakan lorong rahasia menuju tempat-tempat sakral seperti Gunung Lawu, Semeru, atau lorong penyelamat saat pasukan Campa menyerang Majapahit.

Candi Kedaton tak pernah sepi pengunjung. Ada saja yang datang untuk berbagai keperluan. “Bagi masyarakat di sini, candi ini mirip pintu masuk Desa Trowulan. Di candi ini bersemayam roh para leluhur. Itu sebabnya mereka selalu datang, minta izin, jika hendak melakukan sesuatu. Agar para leluhur merestui kehendak mereka,” kata bapak juru kunci candi.

Kondisi candi sungguh mengenaskan. Tumpukan batu berserajan di mana-mana. Kurangnya dana membuat pemugaran candi tersendat.

Lelah berjalan kaki menyusuri kompleks Trowulan, kita dapat menuju pendopo, menikmati segarnya es kelapa muda. Di bagian belakang pendopo, dibangun petilasan Raden Wijaya dilengkapi sumpah palapa. Sebuah papan bertuliskan ‘poncoliko’ atau lima petunjuk hidup dipajang di sana. Tujuannya untuk mengingatkan manusia agar selalu eling akan nilai-nilai hidup seperti ‘mencintai sesama, tidak melanggar aturan negara, tidak saling menghujat dan ingkar janji’. Nila-nilai yang saya rasa mulai kita tinggal dan abaikan.

Perhatian saya lalu teralih pada tiang pancang kuno yang menghadang jalan menuju petilasan. “Dulu tiang itu digunakan untuk mengikat gajah putih,” kata Mbah Wantu, penjaga petilasan. Gajah putih, di belahan bumi mana saya mampu mendapatkannya di jaman sekarang?

Sebetulnya masih banyak kisah menarik yang tersembunyi di balik banyak bangunan, semisal Candi Reco Lanang, Candi Gentong, Makam Putri Campa, pemukiman di Nglinguk dan Sentono. Tak cukup sehari ternyata untuk menyusuri peninggalan Majapahit di Trowulan. Selain banyak, lokasinya pun tersebar dari jarak beberapa ratus meter hingga beberapa kilometer. Kalau ingin berkeliling, selain membawa mobil dan motor sendiri, kita dapat menyewa ojek. Pemandu bisa kita pinjam dari pihak museum atau penduduk lokal.

Ketika mengunjungi Trowulan kali pertama (akhir 2002), saya tak dikenai bea apapun. Saya bebas keluar masuk situs. Bahkan juga museum. Entah kini. Waktu itu penduduk sekitar Trowulan sangat ramah, bersahaja, dan siap membantu. Mungkin karena belum banyak wisatawan yang datang. Umumnya Trowulan hanya menarik minat pengunjung mirip arkeolog dan peneliti sejarah.

Di Museum, kita dapat menyaksikan aneka koleksi peninggalan Majapahit mulai arca, terakota, perhiasan, alat rumah tangga hingga pencetak uang. Lewat aneka koleksi ini, kita tahu bahwa nusantara abad ke-12 dan 13 sudah maju. Kemajuan yang kini terasa di awang-awang karena banyaknya masalah bangsa. Sejenak memandang masa lalu mungkin adalah obatnya, walau sementara sifatnya.

Catatan.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Familia keluaran Kanisius edisi Februari 2003. Saat itu kompleks Trowulan belum jadi polemik seperti sekarang. Hendak dijadikan pabrik, atau habis-habisan dijarah. Saya ‘posting’ kembali di sini sebagai pengingat.

Tulisan ini juga untuk mengenang alm Pak Harry, mantan sopir alm bapak, saat mengantar saya berkeliling Trowulan denga jeep tuanya.