Tags

,


Jumat pagi, usai sarapan lauk rebusan daun bayam dan sambal terasi yang bikin klenger, saya duduk mendekati para tukang di lincak belakang rumah. Mereka sedang mengerjakan penginapan milik kawan tempat saya numpang.

“Mbak, tahu nggak cara mengusir tuyul?” tanya seorang tukang.

Saya membelalakkan mata, mirip tak percaya. Urusan tuyul bukan bidang studi pilihan saya di universitas.

kalau ini bukan tuyul, tapi keponakan yang 'doyan'

kalau ini bukan tuyul, tapi keponakan yang ‘doyan’

“Iya Mbak, di rumah saya ada tuyulnya. sudah empat ratus ribu duit saya hilang bulan kemarin,” seorang tukang menambahkan. Ada tiga tukang di sana, berwajah serius saat berbincang pasal tuyul.

“Yang bikin sedih, kemarin saya hutang bapak (kawan saya, pen) seratus ribu buat belanja istri. Tadi pagi, saat membuka dompet, duitnya tinggal selembar lima puluh ribu.”

“Itulah Mbak, kalau dirampok tuyul, sangat terasa saat kita nggak punya uang. Mau marah, tapi kok lawannya balerong, tuyul. Mana bisa dilawan?”

Lalu riuhlah mereka berceloteh tentang pengalaman dirampok tuyul. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Saya menyimak, sambil berpikir keras. Bagaimana cara membantu mereka.

Andai saya tinggal di metropolitan, kisah tentang tuyul tentu saya anggap isapan jempol. Ada-ada saja. Yang bercerita akan saya anggap pembual. Namun saya tinggal di sebuah desa di pegunungan Bali Utara, di mana dunia nyata berbaur indahnya dengan alam magis. Mana yang supra natural atau yang tampak mata, kerap sulit dibedakan, karena keduanya mewujud di depan mata.

Di sini, di Munduk, di mana banyak jelata tinggal, menjadi kaya mendadak tetaplah cita-cita kodrati sebagian penduduknya. Andai mereka mirip pejabat di ibukota, cara termudah ya korupsi. Namun karena mereka cuma petani, pedagang kecil, tukang, maka cara termudah menjadi kaya adalah memelihara tuyul. Tak percaya?

Sekali tempo jika ke Munduk, pergilah ke pasar tradisional dengan segepok lembaran lima puluh ribuan. Masukkan dalam kantong, berlama-lamalah di pasar. Pulang dari pasar, hitung lembaran lima puluh ribuan. Apa tetap sama jumlahnya? Orang-orang terdekat saya sudah mengalaminya. Percayalah!

Bagaimana dengan saya? Karena jarang punya uang, dan umumnya uang saya pecahan dua ribuan, lima ribuan, maka saya terhindar dari perampokan para begundal tuyul.

Kembali pada kisah di atas, saya punya pengalaman dirampok ‘entahlah’ itu ketika tinggal di Jogja belasan tahun lalu. Untung saya segera pindah kos. Saya tak tahu bagaimana mengamankan uang dari jangkauan tuyul. Paling banter hanya berdoa, atau memecah uang lima puluh dan seratus ribu dalam pecahan lebih kecil. Namun saya ingin membantu mereka ‘yang tidak pantas’ dirampok tuyul. Jadi saya mulai buka-buka internet. (Syukurlah, meski desa pelosok, di sini free wifi ada di mana-mana).

Ada beberapa hal yang patut saya catat:

1.Tuyul biasanya dikomando majikannya untuk mengambil dua bentuk uang, misal yang limapuluh ribu rupiah atau seratus ribu rupiah. Duit jenis ini memang yang paling kerap hilang. Makanya, pecah duit besar ke dalam satuan yang lebih kecil.

2.Tuyul hanya mengambil 1-2 lembar uang. Kalau duit Anda hilang beberapa lembar, bisa jadi yang merampok uang Anda grup tuyul atau padepokan tuyul. Paling baik, simpan duit tidak di tempat yang sama setiap hari. Mumet? Sama!

Tentang taktik menangkal tuyul ada beragam cara. Sila cari sendiri di internet dan pilih mana yang masuk akal. Setelah mengumpulkan taktik menangkal tuyul sebanyak-banyaknya, saya cari yang paling masuk akal, menggabungkan beberapa taktik, dan memberitahukannya kepada mereka. Tujuan saya cuma menolong semampu saya, bukan masalah percaya atau tidak pada tuyul, atau apalah.

“Mbak, bisa menangkap tuyul?” tanya seorang tukang sambil menyalakan mesin motornya, jelang pulang sorenya.

Saya cuma tertawa, sambil melirik duit di kantong yang tinggal selembar ungu. Amboooi!

Catatan: kayaknya saya mesti bikin ‘tavel warning’ buat pejalan yang mampir Munduk. Tips bagaimana mengamankan sangu mereka dari jarahan tuyul jahanam.