Tags

,

Let me take you down, ‘cos I’m going to Strawberry Fields.
Nothing is real and nothing to get hung about.
Strawberry Fields forever.
–Beatles

Daun-daun stroberi bergoyang di atas pot-pot plastik, di balik green house mungil. Mirip menari. Sementara Berm sibuk dengan selang airnya, aku mengatur nafas. Berlari mendaki anak tangga sepanjang tujuh lantai sungguh bikin ngos-ngosan. Tapi begitu sampai di puncak flat, rasa penat terbayar. Bebas memandang kepadatan kawasan pemukiman Chatuchak, sambil menikmati kebun stroberi mungil di depan mata. Hah, siapa sangka atap gedung bertingkat Bangkok dapat diubah jadi kebun hidroponik?

“Ini masih ujicoba. Kadang bibit yang kusemai mati, kadang hidup. Tapi kurasa aku sudah menuju jalan yang benar. Dan dua bulan lagi kuharap stroberiku mulai panen,” kata Berm, sarjana ekologi yang kemudian berminat mendalami penelitian tentang hidroponik.

the green n healthy strawberry tree

the green n healthy strawberry tree

Setahuku, menumbuhkan stroberi di Bangkok tidaklah mudah. Tanaman ini biasa tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Di Chiang Rai misalnya, atau pegunungan utara Chiang Mai. Namun di kota seperti Bangkok yang di musim panas bisa mencapai suhu 39 derajad? Apa dia gila, pikirku? Belum-belum, tanaman stroberinya sudah mati dilibas penyakit dan hama pengganggu.

Namun Berm ngotot dengan rencananya itu. Apalagi sebelumnya dia berhasil menumbuhkan persawahan, juga di atap flat, dengan sistem hidroponik yang dikembangkannya. Sayangnya, padi yang siap dipanen habis dimakan semacam burung gereja yang banyak menghuni atap kuil Buddha di Bangkok.

“Burung-burung di kota lebih cerdas daripada di desa. Mereka tak dapat ditakut-takuti dengan suara atau orang-orangan. Mereka juga lebih ganas. Lihat, pagar kawat yang kubuat pun dilubanginya.” Aku memandang anyaman tipis kawat yang melingkungi atap flat, berlubang di sana sini.

Demi mewujudkan impiannya membangun kebun stroberi, Berm pun menuju Desa Bakeo di Samoeng, pegunungan utara Chiang Mai. Bakeo memang pusat segala jenis stroberi di Thailand. Bahkan di sana ada jenis stroberi manis yang kerap dijumpai di Jepang. Berm membawa sekitar 100 bibit stroberi, menyimpannya dalam wadah gabus berwarna putih, dan membawanya ke Bangkok tiga minggu lalu. Inilah cikal bakal kebun stroberi yang kulihat saat ini.

Iseng kutanya kenapa dia tertarik pada hidroponik. “Kau tahu,” katanya, “begitu banyak chaos dalam pertanian, khususnya hidroponik. Kuharap dengan memperdalam hidroponik, aku dapat menarik minat orang-orang untuk bertani lagi. Selama ini banyak orang Thailand menganggap bertani itu menghabiskan tenaga. Tapi dengan sistem hidroponik, kau tak butuh banyak tenaga, dapat bertani di manapun dan cara ini mudah dilakukan.”

strawberry man

strawberry man

Secara umum, hidroponik adalah istilah bagi bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Bisa menggunakan air, bahan berpori seperti pecahan genting, pasir kali, kerikil, gabus. Kulihat Berm menggunakan gabus sebagai media penyemaian, lalu meletakkan bibit stroberi ke dalam pot-pot kecil yang ditanam pada semacam pasir dan kerikil pada bak sepanjang 2m x 1m di green house miliknya.

Bertanam secara hidroponik memiliki banyak keuntungan, di antaranya tak membutuhkan lahan khusus. Pilihan Berm memanfaatkan atap flat sungguh tepat bagi kawasan Bangkok yang sangat padat pemukiman dan bangunan ini.

Tanaman yang dikembangkan secara hidroponik biasanya lebih cepat tumbuh, Berm tak berharap banyak. “Aku menggunakan pupuk organik selain menyuntikkan mineral yang dibutuhkan tanaman. Biasanya tanaman yang diberi pupuk organik lebih kecil bentuknya, dan butuh waktu lebih lama untuk siap dipanen.”

Kebun hidroponik Berm memanfaatkan air limbah, misalnya air bekas memasak, cuci piring, atau mandi. Jadi dia bisa berhemat soal air. Sedang tenaga yang dia keluarkan untuk merawat kebunnya tak banyak. Dia hanya butuh merawat kebunnya satu jam di pagi hari, biasanya mulai pukul 6 pagi, dan satu jam di sore hari. Di luar itu dia dapat melakukan penelitian yang lain.

Dalam mengembangkan stroberi di luar kondisi alaminya, Berm mengaku menghadapi beberapa kendala. Misalnya, hawa yang panas membuat stroberi mudah terkena penyakit, lalu pemakaian pupuk dan pemberian mineral yang berlebihan telah membuat beberapa tanaman stroberinya mati. Tapi dia tidak berputus asa untuk menemukan formula yang tepat bagi pertumbuhan terbaik stroberinya.

“Yang kukembangkan ini sistem hidroponik yang berbeda dengan yang ada sekarang. Sistem ini dapat mencegah penyakit tanaman, dan berhasil menumbuhkan padi, wortel, lobak, dan berikutnya stroberi dalam segala cuaca,” jelasnya penuh keyakinan. Jika sistemnya sudah benar-benar sempurna, Berm akan menjualnya ke perusahaan dan mematenkan penelitiannya. Harapan Berm, sistem hidroponik akan memperbaiki produktivitas dan kualitas tanaman.

“Jika sistem hidroponik menjadi sangat murah, akan banyak orang kota besar seperti Bangkok yang mau bertani. Jika hal itu terjadi, maka ketahanan pangan masyarakat perkotaan akan meningkat.” Benar juga. Tapi kalau mesti beli paten?

Advertisements