Tags

Setiap kali hendak menuju tangga keluar kapal dari dek 2 tempatku tinggal di KM Ciremai, selalu aku harus bersirobok dengan wajah itu. Wajah pemilik rambut lurus kemerahan sebahu, dengan dada bidang dan pandangan menusuk. Wajah lelaki yang kutaksir tingginya hanya 30 cm di atasku, dengan kulit gelap dan alis tebal nyaris berimpit. Wajah yang seolah menikamku, menyudutkanku ke tiang palka tertinggi, sebelum tubuhku meluncur bebas ke laut.

lelaki di atas kapal

lelaki di atas kapal

“Keluar lagi?” tanyanya. Alisnya bertaut.

“Mau ambil air panas di dapur,” jawabku cepat, mengangkat sepasang kakiku yang tiba-tiba memberat.

“Oooh.. oke.” Senyum tipisnya tersungging manis. Aku menelan ludah. Tiba-tiba tenggorokanku kering.

Aku memang mengambil air panas di dapur yang terletak di pertengahan dek 4. Namun aku enggan berbalik segera. Mending berlama-lama di luar, memandang laut lepas. Sambil mengatur jantung yang berpacu cepat. Mirip joki kuda balap.

‘Sial!’ pikirku. Aku kan bukan abege ababil kemarin sore. Umurku sudah 23, sudah meninggalkan bangku kuliah dua tahun lalu. Aku sudah pernah pacaran. Tanpa sadar kutekuk jari-jari tangan kiriku, menghitung angka pacaran yang pernah kandas. Riko, teman SMU hanya selama tiga bulan. Iyan, seniorku di jurusan selama setahun, dan Adil, lelaki terakhir yang kupacari hingga delapan bulan lalu. Semua tak meninggalkan kesan mendalam, mirip keset tempatku membersihkan alas kaki ketika keluar masuk rumah. Dan mereka tak menarikku mirip magnet kuat di lorong pintu keluar itu.

Apa guna lelaki? Untuk ditiduri? Jadi tukang ojekmu? Atau pangeran katak kala dirimu kesepian? Semua tak masuk dalam hitunganku. Lelaki bagiku hanyalah.. mirip sebatang nyiur kala kau menantikan kapal tuk berlabuh di dermaga, kapal yang akan membawamu berlayar selamanya.

Angin memorandakan buritan. Meninggalkan gulungan ombak putih dan buih bak sabun memanjang. Beberapa orang berteriak panik. Ombak menyerbu geladak tepi kapal. Membasahi tempat mereka rebahan.

“Sialan, mau hujan!” teriak seorang lelaki. Terpaksa aku kembali ke dek, bersua dengan magnet Antartika itu lagi.

“Masuk lagi?” sapanya pelan. Tak mengangkat matanya, melainkan meneliti lembaran karcis tanda masuk gedung bioskop yang dijaganya.

“Di luar ombak, mungkin bakal badai,” kataku sekenanya.

“Mau nonton film?” tanyanya.

Aku menggeleng. Melihat judul filmnya saja sudah membuatku muntah. ‘Selimut Panas’, ‘Bersatu dalam Lubang’, ‘Gairah Tanpa Akhir’. Aduh, kapan sutradara film negeri ini mau memaculi otaknya? Sekalian saja mereka membuat judul film bombastis seperti ‘Mari Senggama Bersama-sama’, ‘Ayo Montokkan Tubuhmu, Agar Lelaki Keblinger’, atau ‘Estafet Ngeseks itu Ngetren’. Itu lebih masuk akal buatku.

Tiba-tiba muncul rasa penasaran di hatiku. Kudekati si pembuat terombang-ambing hatiku. “Apa kau sudah menonton film-film itu?”

Dia menengadahkan mukanya. Matanya menatapku tajam. Menikam. Lagi-lagi mulutnya yang penuh menyungging senyuman. “Tentu saja. Aku menonton dan memilih film-film yang akan diputar. Semacam garansi agar penonton tak kecewa,” jawabnya tegas.

“Hmm.. boleh kubilang seleramu buruk. Selimut Panas. Gairan Tanpa Akhir. Kau ingin penonton di kapal ini terkena beri-beri saat berbaur dengan penumpang lain?” tanyaku lancang. Terlanjur. Kukepalkan kedua tanganku menunggu reaksinya yang kupastikan menakutkan.

 Dia terbahak. Lama. Satu tangannya memegang perutnya. Satu lagi memukul-mukul meja. Membuatku terbengong. Setelah satu dua menit, tawanya mereda. Lalu memandangku lembut. “Aku hanya mengikuti selera penonton. Pernah kuputar film garapan Walt Disney, tapi yang nonton hanya sedikit. Semakin panas judul filmnya, semakin banyak yang mau nonton. Percayalah, aku tidak sedang menyebar bibit beri-beri. Malah mengobati kejemuan penumpang kapal.”

 Aku hanya mengangkat bahuku. Hendak segera berlalu. Namun kaki kirinya menghadang lajuku. “Hei.. siapa namamu?” Kusebutkan namaku perlahan.

“Aku Mulawarman. Panggil saja Lawa. Senang berkenalan denganmu.” Lalu dia menggeser kakinya, memberiku jalan. Membuatku terhuyung meninggalkannya. Masih kudengar lirih tawanya. Sial, dia tak sedungu yang kukira. Dasar lelaki menawan penjaga bioskop jahanam. (bersambung entah kapan)

Advertisements