Tags

,


‘Kalau kumati, bakar jasadku. Lalu tebarkan abuku di kebun mawar kita,’ itu pesan mendiang istrinya 33 hari lalu, saat perempuan itu tampak bugar, riang, tak kurang suatu apa. Lelaki itu hanya tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin istrinya bakal mangkat duluan, bukankah dirinya yang penyakitan selama ini. Noktah sebesar tahi kumbang banyak bersarang di kedua parunya, belum lagi ginjalnya yang tinggal satu. Tubuh kurusnya berhias muka tirus pasi kerap diolok kawannya sebagai mayat hidup. Memang itulah sejatinya, si kelelawar penjelajah kegelapan. Hidup di malam hari, terkapar sejak subuh hingga tengah hari. Toh gaya hidupnya tak menuai protes dari sang terkasih, istrinya.

‘Ameida’, bisiknya di sebuah senja, ‘tak kusangka engkau pergi mendulu. Padahal perapian kita masih hangat, arang dan abu yang kau nyalakan masih sisakan bara.’

Memanglah cintanya meluap menderas dalam hitungan tahun kedua pernikahan mereka. Mirip pohon, siap menunas dan berbuah. Mereka sedang merencanakan momongan untuk yang kesekian kali. Penyakitnya membuat jutaan benihnya pejal. Menanam namun tak menuai. Padahal gambaran bocah perempuan terus menari di angan-angan. Bocah bermata bulat jernih, dengan rambut ikal besar seperti istrinya, tapi berbadan jenjang tinggi mirip dirinya.”Tapi harus semontok aku,’ protes istrinya kala itu. Tentulah, siapa yang mau punya anak mirip jerangkong ala bapaknya?

Sambil menanam benih di rahim istrinya, mereka pun bertanam mawar di kebun nyata. Kebun sepetak, tepat di depan garis jendela kamarnya. Gubuknya yang seukuran belasan jengkal, berada di tengah kebun cengkeh seluas tiga are. Di sana mereka mencangkul mimpi, menanam bulan, dan mengintip ular memagut katak. Di sana mereka menghardik tikus, mengejutkan kumbang yang hendak menerkam bebungaan, terutama mawar kuning kesayangan istrinya.

Seminggu usai berucap pesan, istrinya terbaring dimakan demam. Ada infeksi di usus, kata dokter yang memeriksanya di puskesmas. Mulanya mirip typhus. Dengan berat hati, sang istri pun mondok di rumah sakit kabupaten. Pada hari ketiga, perempuan bermata hitam pekat itu pun berpulang. Infeksi ternyata sudah merambat ke bagian tubuh lainnya. Lelaki itu mirip bermimpi melepas kepergian tautan hatinya. Separo nyawanya ikut melayang.

Ada bagian dirinya yang tercerabut saat tubuh istrinya dibakar. Impian bersama, harapan akan masa depan, hilang begitu saja. Mengabu, mirip jasad istrinya kini. Sedang kenangan manis masa lalu, kini serupa tikaman memilukan di hati. Ingin dirinya ikut mati, seperti cintanya yang direnggut paksa. Menjelmalah kini lelaki berparas angin itu serupa zombie dalam raga dan jiwa.

Kini, tak ada lagi hal menarik di dunia dalam pandangan sepasang matanya. Tak ada. Bumi begitu sunyi. Malam dingin menggigil. Purnama hanya mencuatkan kenangan akan silam. Andai ada yang bisa dilakukannya tuk mengubur kebersamaan. Andai.

Malam ini purnama. Dipandanginya vas bunga yang nyempil di gagang jendela. Di sana, dalam kotak kaca panjang berwarna darah itu, tersemayam abu istrinya. Dalam pikirannya yang dangkal, tentu istrinya bahagia memandang kebun mawar mereka. Sepanjang siang. Sepanjang malam. Lewat vas bunga. Tak terniat olehnya menaburkan abu itu ke kebun mawar mereka. Tak boleh. Hanya abu itu yang membuatnya merasa dekat dengan istrinya kini. Satu-satunya ikatan yang tersisa. Yang juga mengabu.

Diliriknya kebun cengkehnya dari anak jendela. Begitu tenang. Teratur. Apapun yang ditanamnya dalam sunyi, menyubur meruahkan harum bunga-bunga pemikat pelaut Kastilia berlabuh. Dihelanya nafas panjang. Dicecapnya senyap, berharap ada sisa harum istrinya di itu. Tak terasa, air matanya menitik. Satu persatu. Lalu menderas. Mengaburkan pandangan. Ditengadahkan wajahnya, berharap airmatanya tak jatuh membasahi lantai. Dia bergegas melongokkan tubuh, melewati pembatas jendela kayu buka tutup. Tak dihiraukannya bulir-bulir bening sepasang perigi menyiram kebun mawar mereka.

Dia terus mengisak. Menatap purnama. Diterbangkan angan jauh di silam. Luput dari pandangannya betapa putik-putik mawar yang mulai menguncup, seiring airmatanya yang berjatuhan. Sungai airmatanya menjadi penyiram hebat kebun mawarnya, mirip hujan kesedihan. Membuat kuncup-kuncup mawar berayun, bergoyang-goyang, seolah menjalani lara yang sama.

Senggutnya sekejap membutakan mata. Ketika tangannya berusaha menjernihkan pandangan, tak sadar sikut kanannya menyenggol vas berwarna darah. Vas terguling ke arah kebun mawar, menumpahkan isinya. Semburat abu bertebaran. Hanya dalam hitungan detik. Dibantu angin malam beterbangan. Lelaki itu menjengit, lalu memekik. Segera berlari ia mendatangi kebun mawar. Tergopoh memandang tumpukan abu. Lalu meraunglah dia mirip orang gila. Bergulung. Menghempas. Memuku-mukul kepala. Sepanjang malam berkelebat mirip kelelawar yang terkoyak sayapnya. Hingga akhirnya dia tertidur saking lelahnya, dengan kepala menopang gundukan tanah yang berbalur abu istrinya.

Esoknya, silau mentari menusuk-nusuk korneanya. Lelaki itu terbangun setengah menyesal. Mengapa tak mati saja semalam. Sesal yang diikuti takjub, kala matanya bertumbukan dengan belukar mawar kuning di depannya. Kuntum-kuntum mawar terangguk-angguk, seolah memberi salam suka cita. Menghangatkan jiwanya yang sunyi. Ada seraut wajah terkasih di sana, tersenyum memandangnya. Di kebun mawar abadi  mereka.

Selamat menyambut tahun 2014. Damai di bumi, damai di hati. Satu jalur dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan😀