Tags

,

Setelah Jon Raby, saya tak lagi menerima tamu couchsurfing atau volunteering asing atau lokal. Selain waktu kedatangan mereka tak pasti (memberi tenggat panjang semisal datang 23 maret, pulang 14 april), juga kerap tak menepati janji, molor di sini molor di sana, padahal kamar sudah disiapkan. Model begini langsung saya ‘skip’, saya bukan pelayan dan tak butuh mereka. Ada lagi yang kerap bikin geram, mengatakan ‘saya ingin melihat Bali, Ubud, Kuta, Sanur etc, tolong tunjukkan pada saya.’ Yah, mungkin mereka berpikir Bali hanya seluas Siem Reap, bisa dijangkau dengan sekali kayuh.

sawah di dayang, munduk

sawah di dayang, munduk

Ada yang perlu saya tegaskan buat pejalan, khususnya bagi pejalan yang baru pertama datang ke suatu tempat. Kesatu, buat rencana. Mau ke mana, ke manu, ke mini pada tanggal anu, ini, ana. Dengan begitu, Anda tak hanya mempermudah diri sendiri, tapi juga orang yang hendak Anda tumpangi.

Kedua, jika Anda hendak tinggal dengan CS, cari lokasi CS yang dekat dengan tujuan kunjung Anda. Jika hendak ke Ubud, cari anggota CS yang tinggal dekat Ubud, mau ke Bedugul, cari anggota CS di sekitar Bedugul, dan begitu seterusnya.

Ketiga, siapkan peta, sehingga Anda bisa memperkirakan berapa jauh tujuan Anda, dan berapa lama waktu tempuhnya. Misal dari Ubud ke Kuta jaraknya berapa km, kalau jalan kaki butuh berapa jam, naik angkot berapa jam, dsb.

Keempat, jangan bergantung kepada teman yang Anda inapi sepenuhnya. Anda pasrah saja mau diajak ke mana, atau meminta ssi kawan CS untuk menunjukkan tempat-tempat yang menarik seantero Bali. Jadilah pejalan yang mandiri, cerdas, dan penuh harga diri, walau hanya berbekal pas-pasan.

langit munduk di malam hari

langit munduk di malam hari

Pesta Kecil di Munduk

Pada Januari 2014, banyak atraksi menarik di Munduk, desa tempat saya tinggal. Mulai pesta pernikahan yang sambung menyambung dari tanggal 3-10 Januari (sesuai hari baik penanggalan Bali), diikuti musim bertanam padi merah antara tanggal 5-15 Januari, lalu ngaben massal pada 16 Januari. Beberapa kawan pejalan yang serius, menyanggupi datang. Jauh-jauh hari mereka sudah memesan tiket pesawat -yang sedang promo- dan menanyakan bekal apa saja yang dibutuhkan.

Kawan-kawan ini hendak membuat dokumentasi kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan Bali, belajar menanam padi, menabuh gamelan, dan kegiatan lainnya. Kegiatan yang saya dan kawan si pemilik rumah apresiasi.

Saya menyediakan satu kamar, plus tikar, tilam, bantal, di rumah samping yang saya tinggali. Ada dapur untuk sekedar memasak air atau mi instan. Bagi saya, tetap menyenangkan menyambut ‘tamu’ yang jelas, punya visi, dan dapat menerima kondisi desa apa adanya. Bukannya aji mumpung dan ‘sok’ ke Bali.

Salam pejalan,

Advertisements