Ini sebuah kenangan. Tahun 1994. Beberapa bulan setelah bapak mati ditembak. Suatu sore di Pelabuhan Sape, dalam jemu menunggu feri yang akan membawaku ke Pulau Komodo, aku bersua mereka. Dua lelaki muda, kutaksir belum 25 tahun umurnya, membawa tiga karung rami penuh yang mereka bopong bergantian.

kalau yang ini feri dari ketapang menuju  gilimanuk, bali

kalau yang ini feri dari ketapang menuju gilimanuk, bali

“Apa isinya?” tanyaku ingin tahu. Aku duduk malas di dermaga, tahu bahwa akan menghabiskan malam di sini. Konon, kapal baru merapat besok pagi. Terhadang ombak besar di tengah selat .

“Sepatu. Kami jualan sepatu cibaduyut.” Lelaki yang bertubuh lebih pendek dengan topi merah bergambar matahari menjawab. Logat sundanya begitu kental. Ah, sepatu cibaduyut memang sedang ngetren. Ketika masih kuliah, kawan-kawan di kampus kerap memamerkan sepatu cibaduyutnya kepadaku. Buatku, itu sepatu mahal. Harganya bisa buat bayar kos-kosan sebulan.

“Kalian dari Jawa Barat?” Aku tersenyum. Rupanya ada juga Orang Sunda yang nyasar ke Sumbawa.

“Benar. Kami dari Bandung, mau dagang sepatu ke sini. Kira-kira laku nggak ya?” Ada nada ragu dalam suaranya.

Aku mengangkat bahu. Aku sendiri tak tahu mau ke mana. Bukan dalam rangka mencari pekerjaan pula. Hanya sekedar lari, berjalan sambil berpikir. Aku butuh waktu untuk menyendiri, memahami berbagai petaka yang bertubi memukuli. Aku juga ingin tahu apa yang benar-benar kucari dalam hidup.

“Kamu Orang Jawa?” Kawannya yang bertubuh lebih tinggi bertanya. Peluhnya berleleran usai membopong dua karung besar. Aku mengangguk.

“Jawanya mana?” Kujawab segera.

“Mau apa ke Flores?” Kuangkat bahu. Lebih baik begitu ketimbang kujawab ‘bukan urusanmu!’

“Dia mau jalan-jalan, melihat Indonesia.” Tiba-tiba kawannya yang bertubuh kecil menjawab. Jawaban bijak dan membuatku tersenyum.

“Oo.. dia pengembara juga seperti kita ya?” tambah si tinggi.

“Kenapa kalian tak dapat menjual sepatu cibaduyut di Bandung atau Jogja saja? Kan lebih gampang. Kenapa harus merantau sampai Sumbawa bahkan mau ke Flores? Apa tidak malah menghabiskan banyak uang?” Mulutku nyerocos tanpa kendali, membuat keduanya termangu. Bisu beberapa saat.

“Ya.. kami hanya coba-coba, mengembara sambil jualan sepatu buat sangu. Siapa tahu nanti kami bisa menemukan sebuah tempat untuk tinggal dan membuka usaha di luar Jawa..” Si pendek yang bijak menjawab. Aku manggut-manggut. Pasti mereka hidup susah di Jawa sana. Tak punya tanah untuk digarap, dan mesti membanting tulang untuk berjualan. Jadi kepalang basah, menyelam saja ke Subawa sini.

Malam itu kami bertiga, bersama puluhan calon penumpang yang hendak menuju Flores tidur di pelabuhan Sape. Kedua kawan baruku itu bergantian tidur di sebuah bangku dikelilingi barang dagangannya. Kadang kulihat seorang dari mereka menghilang ke perkampungan Bugis di belakang Sape, mungkin sedang membeli makan. Kadang hanya buang air kecil di kamar mandi.

Keesokan harinya tatkala kapal datang, mereka menghampiriku. “Mbak, kami mau menetap di sini dulu. Mau coba berdagang di pasar sekitar sini,” kata si panjang.

“Sungguh? Tak jadi ke Flores?” Tiba-tiba kurasakan kesedihan dan kehilangan.

“Kalau di sini tak berhasil baru kami ke Flores,” kali ini si pendek yang menjawab. “Sukses ya di jalan, semoga menemukan apa yang kau cari.” Keduanya menjabat tanganku erat-erat.

Ketika kapalku berangkat, kulihat lambaian tangan mereka di balik kerumunan penumpang yang turun dan penjual nasi. Kelak, 7 tahun kemudian, ketika kembali mengunjungi Sape, kusempatkan berjalan-jalan ke pasar Kampung Bugis sekedar mencari tahu keberadaan mereka. Namun tak kutemui penjual sepatu cibaduyut atau warung burjo. Mungkin sepertiku, mereka sudah mengembara ke pulau lain lagi.

Advertisements