Tags

Januari 2014 menjadi masa yang berat bagi saya di Munduk. Pada awal bulan, mulai 3-10 Januari setidaknya belasan pasangan melakukan pernikahan. Beberapa di antara pasangan ini saya kenal, membuat saya harus ‘menongolkan’ diri. Tanggal 3, 6, dan 10 Januari dianggap hari-hari yang baik untuk menikah, jadi jangan heran jika pada tanggal itu Anda sempat berkeliling desa-desa di Bali, akan menjumpai banyak pesta pernikahan. Saya beruntung sempat mengabadikan upacara pernikahan walau cuma di satu tempat.

Kesibukan berlanjut pada 10-16 Januari saat dimulai upacara kematian. Pada saat itu ada 5 orang yang meninggal di Munduk, 4 di antaranya saya kenal. Ada yang meninggal karena tua, sakit, maupun keracunan arak. Munduk sempat menjadi headline di berita koran lokal dan masuk di tiga stasiun teve. Lagi, saya beruntung mengabadikan ritual kematian ini dari dekat walau dengan rasa mirip arak oplosan.

kawan-kawan nampang di taman puri

kawan-kawan nampang di taman puri

Di saat itu pula, saya menerima tamu dari Surabaya. Erlin dari C2O dan Ayorek datang tanggal 12 Januari, diikuti Jonas -office manager Sekolah Ciputra- lalu Ayos dari Hifatlobrain, Tinta dari C2O, dua teman Ayos, si Koplo dan Ruli. Mereka mungkin tergoda postingan saya tentang Munduk di FB maupun blog.

Munduk yang saya tinggali sejak 20-an Juli 2013 adalah sebuah desa kecil di pegunungan Bali Utara. Satu dari sekian desa agraris yang tersisa di Bali. Desa yang megap-megap bertahan melawan gempuran pembangunan pariwisata. Mirip langka menemukan anak muda di Munduk yang mau jadi petani dan pekebun, apalagi mau menanam padi. Di sini, tanaman seperti kopi, cengkeh, pala, dan coklat hidup subur. Saya sendiri diberi kesempatan oleh kawan untuk mengolah satu are tanah di antara pepohonan cengkeh. Tanah ini saya tanami aneka sayur. Sayangnya, saya hanya mencangkul 2 jam sehari dan tidak setiap hari karena ‘malas’, keenakan menulis dan motret. Apalagi sekarang, saat sibuk menyelesaikan buku ‘Lelaki dari Samatoa’.

yang ditato pak panca

yang ditato pak panca

Ketika kawan-kawan dari Surabaya datang, saya nyaris tak menjamu mereka. Saya baru dapat menyediakan rumah untuk menginap pada 16 Januari, karena masih pikuk dengan kematian keluarga yang saya tinggali. Kebetulan saya tinggal di rumah bendesa-kepala desa adat- yang keberadaannya cukup dihormati di desa. Jadi dapat dibayangkan betapa melimpah tamu dan handai taulan yang datang selama berhari-hari sejak tanggal kematian hingga jenazah usai dikubur. (Di desa tempat saya tinggal, ada ada dua perlakuan umum pada orang yang meninggal, dikubur atau dibakar sebelum diaben. Ngaben adalah proses terakhir, yang dilakukan beberapa waktu kemudian, bisa berbulan atau bertahun kemudian.

Erlin dan Jo jauh-jauh hari sudah memesan tiket pesawat untuk datang ke Munduk. Erlin sempat merekam prosesi kematian pada tanggal 12-13 Januari dengan kamera videonya. Jonas membantu Pak Lengkong -penyakap atau penggarap sawah di lahan kawan- menanam padi merah. Jonas kemudian terpikat menatokan punggungnya kepada satu-satunya petato Munduk, Pak Putu Panca. Ada pemeo yang terkenal di Munduk, melawan semua kelaziman, ‘seseorang tak akan diberi KTP jika tubuhnya belum ditato’. Pemuda di desa ini umumnya bertato dan bertindik, tak peduli dia petani, tukang bangunan, pemain gamelan, atau pelayan restoran. Mirip identitas.

Ayos, Tinta, dan teman-temannya lebih banyak berkeliling Munduk sendirian. Saya hanya sempat mengantar mereka ke Dayang dan Air Terjun Mlanting bawah. Ngaben yang mereka tunggu-tunggu ternyata baru diadakan 16 Februari. Namun, ada acara pembakaran dua jenazah yang meninggal pada 18 Januari. Sayang, mereka keburu pulang. Bahkan Erlin dan Jo yang masih tinggal tak sempat mengabadikan acara ini karena sudah ‘kelelahan’.

erlin di tengah acara makan 'kematian'

erlin di tengah acara makan ‘kematian’

Mengutip kata Erlin, Munduk tak cukup dinikmati dalam 1-2 hari. Kalau benar-benar ingin menghirup aroma kehidupan di Munduk, orang harus meluangkan waktu 4-5 malam. Banyak hal sebenarnya yang dapat dipelajari di desa tempat saya tinggal. Hal yang berbeda dengan di Jawa, atau Bali bagian selatan. Sebagai gambaran, saya kisahkan pengalaman Jo membantu menanam padi. Sepanjang menanam sejak 8 pagi hingga 3 sore, dia diajak keluarga Pak Lengkong menyantap nasi merah lauk ikan goreng dan jajanan asli desa. Dia juga diajak melayat salah seorang yang meninggal dan harus menggunakan pakaian adat Bali.

Sedang Erlin menikmati pemandangan para lelaki yang sibuk memasak di dapur. Kalau cukup jeli mengamati, Anda akan melihat para lelaki di acara kematian atau pernikahan, akan datang dengan pakaian adat dan lading diselipkan pada selendang di belakang pinggang. Usai menyalami tuan rumah, mereka akan menuju ke dapur, mengeluarkan ladingnya, lalu mencacah daging, mengiris tempe, mengupas bawang, memecah dan memarut kelapa. Semua sibuk memasak. Sedang para perempuan menyiapkan canang -sesaji berbentuk bunga- dan banten -sesaji yang dilengkapi makanan seperti buah, nasi, jajanan- di bagian lain rumah. Keduanya tak bercampur ruangan, dan sangat guyup.

Acara menyediakan makanan dan minuman berlangsung tiga kali sehari selama si jenazah belum dimakamkan atau dibakar. Bisa jadi butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu hingga akhirnya jenazah boleh dikubur atau dibakar, menunggu hari baik. Selama menunggu, kegiatan seluruh anggota keluarga akan terhenti. Mulai bertani, berkebun, atau berdagang. Usai jenazah dikubur atau dibakar -di Bali, dua cara ini ditempuh sebelum jenazah diaben- keluarga akan menjalani cuntake, yaitu larangan bersembahyang di tempat suci seperti pura selama waktu tertentu. (Seluk-beluk istiadat ini akan saya tuliskan pada kesempatan lain.)

Saat ini saya menerima banyak permintaan dari kawan atau anggota CS untuk tinggal di Munduk. Anda dapat datang ke Munduk kapan saja, banyak penginapan -beberapa di antaranya sangat murah, Rp.100.000 semalam dan dapat ditempati 2 orang- di sini. Banyak warung makan, ada pasar, mesin ATM ada di desa sebelah, 3 km dari Munduk. Namun jika hendak tinggal dengan saya, mesti menunggu. Saya butuh istirahat beberapa waktu, dan ketenangan lebih untuk menyempurnakan buku baru. Semoga 1-2 bulan ke depan rampung.

Salam,

Advertisements