“Aku cinta padamu,” kata Bunga.

“Aku juga cinta kepadamu,” jawab Samudra.

Lima tahun kemudian, setelah hidup bersama dalam lindungan langit dan awan gemintang.

“Aku cinta padamu,” rajuk bunga. “Aku juga cinta pada harta dan kemewahan yang kau beri.”

senja di teras rumah hati

senja di teras rumah hati

“Aku pun cinta padamu, dan cinta pada lumba-lumba yang kau lahirkan. Hartaku hartamu juga, sayang,” jawab Samudra penuh keihlasan.

Lima belas tahun kemudian ketika berpasang lumba-lumba aneka warna menjelajah lautan dan benua.

“Sayang, aku cinta kepadamu,” ucap Bunga sambil mengamati rangkaian mutiara yang melilit mahkota di kepalanya.

“Aku juga cinta padamu, Sayang,” jawab Samudra.

“Tapi aku juga cinta pada Batu, Paus yang perkasa, Elang yang suka berburu, dan Neptunus yang tak pernah puas,” tambah Bunga memamerkan sederet putik ungunya yang basah.

“Aku tahu,” Samudra menjawab dengan tenang.

“Aku membagi-bagikan hartamu kepada mereka. Bukankah kau bilang hartamu hartaku juga,” jawab Bunga enteng.

“Benar, Sayang. Aku rela kau membanyak. Demi lumba-lumba.” Samudra menarikan gelombang merah. Hiu-hiu menepi. Karang mengikis.

Dua puluh lima tahun kemudian, saat es di kutub berlomba mencair, dan samudra kelimpahan air, hingga musim salah mangsa menyerang jagad mayapada.

“Sayang, aku masih cinta padamu.” Bunga terisak. Kelopaknya yang dulu segar dan dipenuhi embun, kini mulai layu dimakan usia. Paus, Neptunus, maupun si elang telah pergi meninggalkannya.

“Apa lagi yang kau pinta, Sayang?” Samudra menghela nafas. Hidupnya tak menyisakan harta selain lumba-lumba yang mulai menjelajah lautan dan kebijaksanaan.

“Dirimu, aku mau dirimu. Jiwamu, aku mau jiwamu. Nyawamu, aku mau nyawamu,” jawab Bunga.

“Kau tahu, sudah kuberikan semua itu buatmu sepanjang umurmu. Kau meminta terlalu banyak. Aku tak mampu memberi lebih banyak lagi. Bahkan aku tak menyisakan diriku sedikit pun untuk kumiliki,” lirih Samudra menjawab. Ah, mengapa Bunga tak pernah mengenal kata cukup. Segala, bunga mau segala. Segala adalah fana, segala akan berakhir merana.

Bunga mulai meraung, marah. “Kau tak cinta lagi kepadaku, kau.. kau mulai membenciku!” tuduhnya.

“Sayang, yang tinggal padaku kini adalah kebijaksanaan. Ambillah!” Usai berucap, Samudra pun moksa. Menghilang menuju kehampaan. Ketiadaan. Meninggalkan Bunga dalam lengking durjana.

Selamat Menjalani Hidup,