Tags

, ,

Suatu hari, saat menyusuri pertokoan di Kotabharu, Malaysia, saya melihat sebuah papan dengan kain terbentang berwarna menarik, di emperan sebuah toko. ‘Sale, A, 20-50%‘. Byuuuh..! Niat berjimat ria jadi ambyar. Saya tergoda. Mendekat, makin besar animo saya menghamburkan ringgit. Yang ‘di-sale‘ alias diobral bukan semata kosmetik atau minyak wangi, tapi juga aneka pakaian dalam. Mau tak mau saya raba bra yang saya kenakan. Sudah lebih lima tahun umurnya, saya beli akhir 2006 atau awal 2007, saya lupa. A juga merk-nya. Aduh, saya mesti belanja nih, sebelum telat.

Sejak menginjakkan kaki di Malaysia, menjadi buruh pabrik legal, sudah terbiasa saya akan merk satu ini. Mulanya, saya hanya kenal A sebagai nama produk kosmetik. Dulu, adik saya dan pacarnya getol sekali jualan produk kosmetik satu ini. Sebagai tambahan jajan dan bea skripsi, begitu katanya. Kebetulan Bapak saya minggat mendadak ke alam baka usai kena tembak. Maka, satu per satu anaknya mesti digdaya. Adik saya pun jadi penjual dari kenalan ke kenalan, memasarkan produk kecantikan dengan pacarnya yang cantik itu. Dan saya menjadi pembeli setia, khususnya sabun muka dan krim wajah. Itu dulu pertama.

Dulu kedua, di sela kesibukan memburuh, ada saja kawan yang menyodorkan buklet produk A. Bukan hanya satu, tapi dua, tiga orang. Banyak di antara kami tergiur dengan produk seperti alat kecantikan, parfum, dan pakaian dalam. Saya sendiri yang nyaris alergi perias muka, lebih suka parfum jarinya yang mumer dan pakaian dalamnya. Terjangkau dan bagus kualitasnya. Saya biasanya memilih saat ada diskon. Ketika harga selembar bra antara 17-25 ringgit alias antara Rp 50.000-75.000. Dibanding merk ternama, jelas yang ini lebih murah. Padahal kualitasnya kelas satu juga. Buktinya, bra yang saya pakai bisa tahan lima tahunan.

‘Kenapa nggak beli bra yang sepuluh ringgit dapat tiga?’ Begitu tanya seorang kawan suatu ketika. β€œAkan saya beli, jika mau mengetepel seekor burung gereja,” sahut saya geli. Mending beli pentil sepeda ketimbang bra yang dua tiga kali pakai buang. Sayang uangnya, juga menghargai badan sendiri. Buat saya, baju luar nggak harus mahal. Yang penting bersih dan nggak sobek. Pakaian dalam? Harus kualitas nomer satu. Biar nyaman di badan.

Kualitas nomer satu biasanya saya buru pada waktu ada obralan. Entah ‘Sale Party’, atau ‘70% Off’ atau saat akhir tahun dan cuci gudang. Pada saat itu harga bra yang biasanya ratusan ribu melorot menjadi beberapa puluh ribu. Boleh tahan!

Ada beberapa hal yang saya suka dari bra merk A ini. Modelnya beragam, mulai satu tali hingga 2-3 tali. Mulai dari berserat halus hingga agak kasar. Mulai berenda dan kembang-kembang hingga polos satu warna. Tak selalu feminin, tapi berkesan kokoh dan digdaya.

Pada model yang menggunakan busa dan besi, busa dan besinya dapat kita copot jika terasa mengganggu. Ketika sudah terlalu lama dipakai, dalam hitungan tahun, cup-nya nggak molor atau melar. Tetap enak di tubuh, sampai bolong sana-sini. Satu-satunya yang membuat saya membuang bra A ketika bolongnya semakin banyak. Bukan karena performance-nya yang menurun. Ahaha!

Biasanya saya hanya nyetok 2-3 bra untuk pemakaian 4-5 tahun mendatang. Irit? Memanglah. Malas menumpuk aneka baju di almari. Makanya saya pilih yang benar-benar kuat, tahan, dan enak dipakai. Pokoknya oye. Sayangnya kini harus menyebrang ke Semenanjung Malaya dulu untuk menikmati bra satu ini. Ihik!

Advertisements