Tags

, ,


bandar islami itu

bandar islami itu

Ketika menyeberang dari Sungai Golok menuju Rantau Panjang, aku berniat hanya semalam tinggal di Kota Bharu. Aku termakan gosip bahwa ibukota Negara Bagian Kelantan ini sangat ekstrim menerapkan aturan Islam. Di Kelantan, sudah tiga kali berturut-turut PAS memenangkan pemilu, mengalahkan partainya Mahathir atau Nadzib (UMNO). Jadi terbayang bahwa Kota Bharu maupun Kelantan dipenuhi muslim militan. Konon terkabar, di bulan Ramadhan, banyak razia dilakukan di jalan. Para polisi menangkapi orang-orang yang kedapatan makan di jalan. “Orang Malaysia itu bukan semua muslim. Keterlaluan yang terjadi di Kota Bharu,” begitu keluh kawan keturunan Tamil yang kujumpai di Nibong Tebal.

terminal bus-nya serba merah. busnya juga merah

terminal bus-nya serba merah. busnya juga merah

Tengah hari aku sampai di Kota Bharu, disambut sengatan matahari yang tak ramah. Dari rekomendasi kawan sesama pejalan, kucari rumah Zeck. Kata mereka, penginapan milik Zeck murah. Namun letaknya agak tersembunyi, sekitar 2 km dari pusat kota. Untungnya dua lelaki yang kutanyai alamat Zeck menjawab dengan sangat amat ramah. “Benar ini Kota Bharu? Mengapa orang-orangnya begitu ramah?” Aku mulai bertanya-tanya.

Kota islami ketat dalam bayanganku pun memudar segera. Memang di sepanjang jalan kutemui para perempuan Melayu yang berkerudung, atau lelakinya yang berpakaian sopan. Namun tak seorang pun memperhatikan penampilan jalananku dengan pakaian gaya koboi dan kepala bebas menerpa angin. Tampaknya mereka sudah terbiasa melihat pelancong, entah mat saleh, keturunan Cina, India, atau Melayu. Mereka mirip tak ambil pusing melihat kedatanganku. Dua perempuan Melayu hanya melirikku saat kuminum es cendol sambil duduk di bangku semen pinggir jalan. Tak berapa lama mereka pun menjajariku dengan satu tangan menghirup es dalam gelas plastik, tangan lainnya memegang kerupuk lekor. Aha!

Kelak juga kutahu kalau mereka tak mempermasalahkan andai kau yang perempuan, berwajah Melayu, tiba-tiba masuk masjid tanpa kerudung. Padahal di Kuala Lumpur, kau bisa saja dimaki oleh si penjaga masjid perempuan. “Awak itu muslim, kenapa tak pakai tudung? Muslim benarkah?” begitu lontar seorang perempuan keturunan India Mamak saat melihatku memasuki kawasan shalat buat jamaah perempuan di lantai atas. Aku berada di jajaran pertokoan keling saat kutemukan masjid itu. Andai tanganku belum menjangkau mukena, sudah kutinggalkan masjid keling. Apa peduliku jika memasuki rumah Tuhan pun harus diatur-atur mirip karung? Hal yang demikian tak akan kau temui di Penang, Melaka, atau Kotabharu.

masih ada yang ngepit

masih ada yang ngepit

Di Kota Bharu prinsip ‘bagimu agamamu, bagiku agamaku’ sungguh diterapkan. Di sini kemudian banyak kulihat mat saleh yang hendak atau baru pulang dari ‘Perhentian Islands’. Sepertiku, mereka pun terpikat pada kota modern yang teratur dan tenang ini. Semula mereka hendak bermalam sehari, memanjang menjadi dua-tiga hari. Para mat saleh kelayapan ke penjuru kota dengan pakaian cukup sopan. Bukan kerukupan ala karung, tapi mengenakan celana panjang atau rok yang menutup lutut. Mereka juga mengenakan baju atasan berlengan. Tak harus lengan panjang, tapi cukup menutup bahu. Dan kurasa, mereka tak keberatan dengan aturan ini.

Walau menerapkan syariat islam ketat buat warga muslimnya, kota ini cukup toleran buat pelancong. Kau boleh menenggak bir di rumah makan Cina. Di bulan Ramadhan, ketika ditegakkan aturan bahwa pertokoan, kantor, dan rumah makan baru buka sore jelang masa berbuka, kau bisa memasuki restoran Cina lewat pintu belakang dan makan di sana.

penginapan pakcik zeck

penginapan pakcik zeck

Pakcik dan Makcik Zeck, si empunya penginapan Zeck’s Traveler’s Inn, orang Melayu tulen. Mereka menerapkan aturan cukup keras pada para pelancong. Misalnya, dia tak mengijinkan mat saleh menenggak bir di penginapan. “But you can drink beer in Chinese restaurant, or go to the island and get drunk there. But don’t do it at my house or in the street. I’m totally moeslem,” katanya kepada dua turis Perancis. Pakcik tak mempermasalahkan kedua turis berbeda jenis kelamin itu, atau pasangan kumpul kebo lainnya, tidur di satu kamar. Baginya, status mereka bukan urusannya. Namun apa yang terlihat secara fisik, seperti botol dan kaleng bir, haram buatnya.

Sekali pernah kunyatakan kekagumanku akan toleransi di Kota Bharu kepada Makcik. Apa jawabnya? “Kalau Ary datang tepat hari Jumat atau ketika Ramadhan, Ary boleh lihat banyak orang duduk sampai meluber ke jalan-jalan sepanjang pertokoan, demi mendengar khutbah dari Guru. Siapa saja boleh berdebat dengan Guru, dan Guru menyukai orang yang berilmu.” Yang dimaksud Guru oleh Makcik semacam ulama, pembimbing agama. Namun seorang Guru tak hanya pakar ilmu agama, tapi juga ilmu dunia seperti fisika, hubungan internasional dan lainnya. “Guru selalu mengajarkan kita untuk terus menuntut ilmu, tidak sombong, dan terbuka menerima pandangan dari luar.”

pindang ikan patin juga ada di sini

pindang ikan patin juga ada di sini

Aku belum membuktikan kebenaran ucapan Makcik. Aku datang di hari Minggu. Saat Kota Bharu melimpah dengan turis lokal dari penjuru Malaysia maupun turis manca mirip aku dan mat saleh. Namun sudah kurasakan kehangatan dan keramahan penduduk Kotabharu.

Di tempat Makcik, aku menempati sebuah kamar sempit dengan sebuah kipas angin di atasnya. Tak ada jendela atau lubang angin. Anehnya, kamar itu tak terasa pengap. Kamar mandi ada di luar. Jika hendak mencuci pakaian pun di luar. Aku tak punya masalah dengan itu semua. Toh harga sewa kamar cukup murah, 15 ringgit (setara dengan 45 ribu rupiah) semalam.

daerah pecinan

daerah pecinan

Usai memberi kunci kamar dan air mineral, Pakcik Zeck mengangsurkan peta tentang Kota Bharu kepadaku. Di peta itu bisa kulihat apa saja yang dapat dikunjungi. Musium-musium, sentra kerajinan seperti wayang kulit dan wau, tempat pertunjukan seni jauh di ujung kota, hingga pusat jajanan. Pak Cik memberitahuku jalan-jalan mana yang harus kutempuh dan sesiapa nama pengrajin itu. Kemampuanku berbahasa Melayu ikut mempermudah polah gelidikku. Apa saja yang ada di Kota Bharu hingga membuat turis kere sepertiku bertahan tiga malam di sini? Dan mengapa Pakcik begitu baik dengan pejalan sepertiku? Ikuti sambungannya (kapan-kapan).