“Sedang baca buku apa, Nak?” tanya seorang ibu kepada si sulung.

“Madilog-nya Tan Malaka, Bu?” jawab si sulung tanpa mengalihkan matanya dari isi buku.

“Kamu mau jadi komunis ya, Nak?” Si ibu mengernyitkan dahi, jelas-jelas tidak suka akan bacaan anaknya.

kalau ini gambar orang mentawai di siberut

kalau ini gambar orang mentawai di siberut

Tiba-tiba anak no 2 masuk ke ruangan, membawa buku kimia yang tidak biasa dan sekeranjang benang, mercon, dan sebagainya.

“Hei, kamu mau buat apa? Kok serius sekali, Ton?” Si ibu teralih perhatiannya.

“Buat bom, Ma, mau niru McGyver!” jawab si kacamata sambil tersenyum masam.

“Bagus, cerdas kamu. Mau ngebom apa?” pancing si ibu penuh kekaguman.

“Rumah tetangga kita dekat lampu merah. Anjingnya selalu menyalak. Anton mau ngebom anjingnya, biar mati.”

Si ibu melongo, tak tahu harus berkata apa. Pada saat itulah si bungsu datang, menggelanyut manja di lengannya.

“Ma, minta uang buat beli buku.” Suaranya yang manja, membuat ibu segera menjadi normal.

“Berapa?” tanya si ibu sambil meraih dompetnya. “Lima puluh ribu cukup?”

“Kurang dong ma, seratus ribu,” jawab si bungsu. Dia tersenyum lebar saat ibunya mengangsurkan lembaran warna merah.

“Makasih ma,” teriaknya kemudian sambil menjauh. Dia girang. Buku yang diinginkannya seharga tiga puluh lima ribu, itu artinya dia punya duit enam puluh lima ribu buat jajan.

Nah, jenis mana anak Anda? atau jenis orangtua macam apa Anda?