Tags

, ,

Pakcik Zeck mengajak aku dan dua pasangan Prancis itu ke sebuah acara suatu hari. “Malam pukul delapan, you semua mesti siap. Kita akan datang kenduri. Semua orang diundang,” katanya mewanti-wanti. Kupikir itu kenduri biasa, yang diadakan dalam satu kampung. Rupanya itu kenduri besar, diadakan di pinggiran kota. Kami naik mobil Pakcik, menempuh sekitar satu jam perjalanan menuju ke sana.

gaya tamu lelaki. mereka tak haram bertatapan dengan tamu perempuan, dan suka ngobrol lho. mereka

walau sepintas mirip FPI, tapi bukan. ini para tamu lelaki dalam acara kenduri. mereka tak haram bertatapan dengan tamu perempuan, dan suka ngobrol lho.

Baru kutahu kemudian kalau itu mirip acara syawalan, halal bi halal yang dihadiri pejabat setempat. Ada dua tenda besar didirikan di depan sebuah rumah, menaungi ratusan kursi plastik. Para pejabat dan orang yang dihormati, duduk di bagian depan tenda, lalu di belakangnya para lelaki dengan pakaian khas Melayu atau muslim. Di tenda satunya, duduk perempuan Melayu dan anak-anaknya.

bagian kiri para pejabat dan tuan rumah, sisi kanan para turis tak diundang

bagian kiri para pejabat dan tuan rumah, sisi kanan para turis tak sengaja diundang

Malam itu akan diadakan fashion show buat anak-anak, lelaki maupun perempuan. Lalu ada pembagian hadiah, mirip bingkisan atau parcel, dan uang kepada para pemenang maupun kepada anggota masyarakat yang berprestasi.

Sebulan lalu, di awal perjalananku menuju Kamboja dan Thailand, aku sempat mengikuti buka bersama di sebuah masjid yang diadakan pejabat sebuah partai di Nibong Tebal. Kini, aku mengikuti jamuan makan di Kota Bharu. Wah, belum tentu hal seperti ini terulang lagi di kemudian hari. Jadi pejalan di bulan Ramadhan maupun Syawal memang mooi.

fashion show khusus anak-anak

fashion show khusus anak-anak

Entah apa yang dibicarakan keempat kawan asingku, karena aku asyik ngobrol dengan penduduk tempatan. Bukannya menyimak pidato para pejabat dan tokoh masyarakat. Kudekati David, seorang Cina keturunan yang juga diundang ke acara. Aku ingin tahu pendapatnya tentang hidup di Kota Bharu dan sikap masyarakatnya.

“Ai golongan minoritas di sini. Sejauh ikuti aturan mereka seperti toko tutup di bulan Ramadhan, dan hanya buka saat sore sih tak ada masalah,” katanya dalam bahasa Inggris. Dia dilindungi hak dan keberadaannya selama mengikuti kelaziman.

[enganan embuh yang lupa saya coba

mirip botok, cuma berdaging. tapi bukan ‘tum’,

“Apa kau tak takut kehilangan pelanggan saat itu?” tanyaku penasaran.

“Pelanggan saya mayoritas kan muslim. Lagipula, jika orang non muslim butuh layanan saya, cukup telpon. Saya yang akan mengantar barang ke rumahnya.” Nah!

Ketika acara jamuan makan dimulai, ada sedikit keributan. Bukan pejabat atau tokoh masyarakat yang mengambil tempat pertama di meja makan dekat panggung, tapi kami-kami para turis dipersilahkan makan duluan. Alamak! Andai ini terjadi di negeriku. Hidangan ala Melayu tersedia lengkap di meja, mulai nasi, lontong, sayur, ikan, daging, hingga jajanan. Kami bebas mengambil yang kami sukai. Ada beberapa perempuan yang melayani dan membantu memberi penjelasan kepada para turis. Usai kami mengambil tempat duduk, baru para pejabat mengambil tempat duduk. Mirip seruan  dalam Islam, untuk mendahulukan tamu. Aku jadi terharu.

AKu tak makan banyak saat itu, namun minum amat banyak karena kegerahan. Usai meninggalkan acara halal bi halal, Pakcik Zeck dan anaknya yang sudah malang-melintang ke manca negara pun memacu mobilnya kembali. “Saya senang kalau tamu-tamu saya senang,” katanya gembira. ‘Saya juga, senang dan kenyang,’ sahutku dalam hati. Terbayang sudah katil untuk rebahan.

Advertisements