Tags

,


Istilah jungle train saya kenal saat menjajal kereta api di Malaysia lewat jalur utara menuju Kuala Lumpur. Saat itu saya naik dari Stasiun Wakaf Bharu dan berencana turun di Kuala Lipis. Setelah semalam menginap di kota tua itu, saya berencana melanjutkan perjalanan via kereta api juga, dari Kuala Lipis menuju stasiun kecil sebelum masuk Kuala Lumpur. Kalau tak salah, Tampin namanya. Dari Tampin, saya hendak menuju Melaka dengan bus.

Dari membaca beberapa buku panduan wisata terpercaya, saya tahu jalur kereta api ini dianggap menantang, karena akan melewati hutan perawan Semenanjung Melayu yang angker itu. Hutan yang menjadi wilayah Taman Negara Pahang. Imajinasi saya langsung terbang ke para peri dan manusia kate penghuni hutan larangan. Sungguh rayuan yang menggoda iman, melebihi seksinya lelaki Gayo dan sepiring black forest hidangan Pakcik Malik.

stasiun kereta api di Kuala Lipis

stasiun kereta api di Kuala Lipis

para buruh kebun sawit di sebuah stasiun kereta api

Saya melupakan fakta bahwa buku panduan wisata itu mungkin saja ditulis belasan tahun lalu, atau berpuluh tahun lalu, tatkala sawit belum merangsak hutan-hutan Malaysia. Beberapa minggu lalu, saya diajak kawan melakukan trekking ke hutan sekitar Perak dan Penang daratan. Yang mereka sebut hutan rupanya adalah perkebunan sawit yang jelas tidak meneduhkan. Saya pun kecele hahaha. Kali ini pun saya kecele.

Kereta meninggalkan Wakaf Bharu tengah hari, membelah punggung pegunungan yang umumnya ditumbuhi sawit. Kadang melalui kampung-kampung Orang Melayu yang tak banyak rumahnya. Menjelang Goa Musang baru saya lihat kerimbunan hutan yang sebenarnya hutan, wilayah Taman Negara Pahang. Sayang hari menggelap, saya tak dapat menikmati banyak pemandangan. Bahkan saya tiba di Kuala Lipis jelang pukul 10 malam. Gelagapan mencari penginapan yang tak ada yang murah.

Semalam di Kuala Lipis, esok tengah hari saya lanjutkan perjalanan menuju Tampin. Lagi-lagi, sejauh mata memandang hanya disuguhi Kampung Melayu dan perkebunan sawit. Menurut saya justru menarik mengamati kereta apinya sendiri.

Kereta api di Malaysia mirip kereta api di Indonesia kini. Semua kelas dilengkapi AC, dan penumpang dilarang merokok. Hanya, kereta api di Malaysia suka molor. Keterlambatan beberapa menit sampai setengah jam itu biasa. Kereta api di Malaysia juga tak banyak penumpangnya, meski itu kelas ekonomi. Stasiun keretanya pun tak seketat stasiun kereta api di Jawa. Bangunannya tak tertutup. Tak ketat dalam pengecekan, sehingga semua penumpang dan calon penumpang bebas duduk di dalam maupun luar stasiun. Mungkin karena di stasiun kereta tak ada orang yang berniat jadi calo atau penjambret.

si khotbah

tukang khotbah di atas kereta api

program pemerintah buat turis: wisata kereta api

program pemerintah buat turis: wisata kereta api

Di dalam kereta tak ada pengamen, apalagi pengemis (lagi-lagi kondisinya sama dengan di Jawa). Tapi sekali saya lihat lelaki tua bersorbang yang berdakwah tentang agama. Namun dia tak pernah menjulurkan tangan, memohon derma. Sekedar berdakwah.

Mengenang jalur ‘jungle train’, saya jadi membandingkan dengan kereta api Probowangi -jurusan Banyuwangi-Probolinggo dengan tiket Rp.18.000- atau Pandanwangi -jurusan Banyuwangi-Jember dengan tiket Rp.4.000. Pemandangan dari Ketapang menuju Jember sungguh tak terkira menantang dan indahnya. Setidaknya kereta api dua kali menembus terowongan, melalui hutan-hutan tembakau, jati, durian, kopi, dan banyak lagi. Juga melalui rumah-rumah kayu yang menjadi gudang tembakau.

Ada lagi saat menegangkan ketika kereta api meniti dua lembah. Memandang kiri atau kanan begitu jauhnya, jauh di bawah tanah persawahan menghampar. Saya bersyukur ada Belanda yang mau bersusah payah membangun jalur kereta api di Jawa-Sumatra. Konon, dulu jalur kereta api Hindia Belanda merupakan yang terbaik di dunia.

Kini dunia perkeretaapian di Jawa mulai tertib. Tak ada lagi pedagang asongan, pengamen, maupun pengemis yang boleh masuk kereta. Petugas keamanan dilipatgandakan. Kebersihan di dalam kereta dijamin. Selalu ada tas kresek buat tempat sampah di setiap kursi penumpang. Bahkan ada tisu gulung di toilet.

pemandangan dari atas kereta probowangi

pemandangan dari atas kereta probowangi

Jika Anda naik kereta dari Banyuwangi ke Jember, akan Anda saksikan pemandangan menarik saat berhenti di Stasiun Garahan. Banyak penumpang bergegas keluar kereta, menyambut nasi pecel berdaun pisang yang dijual di luar kereta. Nasi pecel seharga Rp.3000-Rp.5000 pun jadi rebutan, tak peduli perut sudah kenyang atau belum.

Kelebihan di atas, andai jeli diperhatikan pihak perumka, dapat dijadikan daya tarik bagi turis asing. Wisata naik kereta api tentunya. Pemerintah Malaysia sudah memanfaatkan kereta api sebagai obyek wisata, sehingga turis bisa naik kereta tujun tertentu, lalu menginap di tempat tertentu, sebelum melanjutkan lagi perjalanannya dengan kereta. Semua dikelola oleh pihak jawatan kereta api bekerjasama dengan dinas pariwisata. Bukan agen perjalanan swasta.

Beberapa kawan asing yang datang ke Surabaya lebih memilih naik kereta api jika menuju Bali. Alasannya menarik. “Pemandangannya indah. Beda dengan di belahan Asia lainnya. It’s truly Indonesia, maybe truli Java.” Nah.. nah!

Saya ingat dulu sebelum pedagang asongan dilarang berjualan di dalam kereta, jalur Probolinggo-Lumajang kerap dipenuhi penjual buah, mulai nangka, mangga, duku, dan lainnya. Bahkan ada kerupuk tahu, keripik nangka, pokoknya aneka penganan yang kadang hanya ditemukan di swalayan. Di sini aneka penganan itu dijual murah meriah, seolah mengingatkan penumpang bahwa di stasiun mana pedagang asongan menjual satu jenis penganan di situlah asal penganan itu berasal. Mirip identitas komoditas lokal. Sayang, kini mereka dilarang berjualan di kereta. Entah bagaimana nasib mereka dan keluarganya. Mungkin mereka ganti berjualan di terminal, atau di pagar luar stasiun. Semoga demikian.

Selamat menikmati naik kereta api 😀