Tags

, ,


Membaca ‘Dari Penjara ke Penjara’ karya Tan Malaka, membuat saya semakin menyadari makna sebagai keturunan kuli Deli. Ayah saya lahir di Klambir Lima, sebuah desa kecil di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang sekarang. Nyaris semua saudara dekatnya -adik, kakak, sepupu, ipar- adalah pernah -bahkan masih ada yang- bekerja di perkebunan tembakau Deli. Orangtua, kakek-nenek, dan moyang mereka dulunya adalah kuli tembakau Deli yang mengerjakan perkebunan di Tanjung Morawa dan sekitarnya.

beginilah yang dilakukan bude nono selama 40 tahun lebih bekerja di perkebunan tembakau deli, memilih dan memilah daun tembakau -sumber: tembakaudeli.blogspot.com

beginilah yang dilakukan bude nono selama 40 tahun lebih bekerja di perkebunan tembakau deli, memilih dan memilah daun tembakau -sumber: tembakaudeli.blogspot.com

Februari 2010, ketika berkunjung ke kampung halaman ayah yang kedua kali, baru saya sadari dari mana asal saya. Semasa saya kecil, ayah selalu bercerita tentang kakek yang mengerjakan kebun tembakau, berpanas-panas, sejak subuh hingga malam menjelang. Ayah juga memamerkan kehebatannya menari Melayu, atau berdendang lagu Melayu. Saya sendiri tak memiliki bakat seni secara khusus. Tak bisa menari, bermain musik, atau mengukir seperti ayah dan ibu.

Hari itu, saat memandang kebun tembakau deli yang tersisa untuk pertama kali, ada rasa haru, sesak, juga semangat yang meletup-letup, Saya sudah banyak membaca buku yang berkisah tentang pedihnya menjadi kuli Deli. Namun sungguh baru saya sadari bahwa keluarga ayah adalah bagian dari mereka. Saya jadi berpikir, apakah pertautan masa lalu itu yang menuntun saya menjadi buruh, TKI, di Malaysia 2005-2009 sekaligus meneliti kehidupan mereka? Sebuah gen warisan masa lalu sebagai kuli (Deli) secara turun-temurun? Apakah itu yang membuat saya ingin menggugat nasib para buruh, juga orang kecil, di sekitar saya? Saya tidak seberuntung Tan Malaka, yang digaji 350 gulden oleh penguasa Belanda untuk mendidik anak para kuli Deli. Tapi, perlawanan biasanya muncul karena kita merasakannya, bagian darinya, bukan sekedar melihat, simpati, atau empati.

Saya teringat pengalaman masa lalu, sejak SD hingga perguruan tinggi. Saya selalu  mengkerut jika kawan-kawan saya mulai menyebut ‘bibit bobot bebet’ dalam pergaulan, masa berpacaran dan berburu jodoh. Jelas ketiga kriteria itu tak saya miliki. Jurus 3B ala Jawa di Tanah Jawa ini kerap membuat saya muak. Apalagi  saya pernah ditolak orangtua pacar dengan alasan 3B, terang-terangan pula. Haha.. (Kini penolakan itu sangat  saya syukuri sangat, walau saat itu saya sempat berandai-andai. Andai saya secantik Barbie, mungkin saya bisa meraih bobot dengan menjadi artis, atau bibit dengan menikahi keluarga bangsawan anu atau pengusaha anu). Bagi saya, 3B adalah usaha turun-temurun untuk menanamkan diskriminasi yang sesungguhnya, diskriminasi perlakuan yang nyata pada anak bangsa selama berabad-abad.

Prinsip 3B di atas jelas mematikan harapan hidup seorang anak yang lahir dari rahim pelacur, orang super miskin yang bekerja sebagai pengeruk sampah, atau si cacat yang hidup melarat dan buruk rupa pula. Sungguh diskriminatif sekali, manusia yang tak memanusiakan manusia.

Mungkin para kuli Deli di masa lampau adalah kategori yang memenuhi syarat dimasygulkan dari 3B tadi. Didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia -khususnya Jawa- dengan janji bekerja untuk mendapatkan pohon berdaun emas, diperdaya dengan judi saat hari gaji, lalu diperas tenaganya demi kemakmuran para penguasa. Wujud kuli Deli di masa lampau bisa kita saksikan dari nasib sebagian TKI -khususnya yang ilegal- di luar negeri, umumnya yang bekerja di Malaysia dan Timur Tengah.

sketsa gang tempat kerabat tinggal di tanjung morawa

sketsa gang tempat kerabat tinggal di Hamparan Perak

Kembali ke kisah awal, kawasan bekas perkebunan tembakau Deli di Tanjung Morawa dan sekitarnya, termasuk Hamparan Perak, kini menjelma menjadi pemukiman padat dan semarak. Bemo hilir-mudik tak kenal lelah, sejak pukul 4.00 hingga 23.00. Belum lagi motor dan mobil yang nyaris tanpa putus lalu-lalang di gang-gang dan jalan selebar 5-6 meter. Kerabat dari pihak ayah sebagian tinggal di sepanjang jalan besar, ada juga yang masuk ke gang-gang bersuasana masa lampau namun semarak. Bagaimana tidak mirip masa lampau, jika halaman rumah masih luas, diteduhi nyiur tinggi dan pohon-pohon kapuk di belakangnya. Kalau ada yang berbeda, karena rumah-rumah kini terbuat dari bata dan batu, tak lagi kayu.

Umumnya para kerabat menjadi pedagang. Ada yang membuka kedai di bagian depan rumah. Sepupu saya dan istrinya menjual sayur-mayur dan sembilan bahan makanan pokok. Bibi saya menjual penganan seperti dawet, bubur, dan rujak manis. Anak-anak mereka bekerja sebagai pelayan toko di sebuah mall di pusat kota Medan. Ada juga yang masih memburuh di PT Perkebunan Nusantara II sebagai buruh harian pemilah dan pemilih daun tembakau. Bahkan ada yang masih menggarap sedikit kebun milik sendiri maupun orang lain. Berkat mereka, kisah ‘Jatuhnya Tembakau Deli’ versi buku ’30 Hari Keliling Sumatra’ mengalir.

Tak banyak kerabat yang mencicipi bangku kuliah seperti saya. Umumnya anak-anak mereka cukup puas usai menamatkan SMA lalu kursus ketrampilan beberapa bulan hingga setahun, sebelum bekerja. Pikiran kuliah mirip angan-angan, baik 30 tahun lalu maupun saat ini. Untuk yang satu ini saya merasa amat sangat beruntung. Bapak saya yang tamatan ST berkenan merantau ke Jawa menjadi tentara. Ketika bertugas, dia sempatkan menamatkan STM, dan tak membiarkan anak-anaknya hanya mencicipi bangku SMA. Beruntung juga saya hidup di akhir abad 20, di saat pendidikan tinggi di Indonesia masih bisa dijangkau keluarga pas-pasan namun berotak cemerlang. Bukan ala sekarang yang uang sumbangan gedung dan kuliah semesteran sebuah perguruan tinggi negeri melebihi gaji setahun seorang pegawai negeri dengan kondisi ekonomi ala bapak saya. Saya amat beruntung.

Saya ingat orang-orang di sana menggunakan bahasa Indonesia logat Melayu. Hanya kadang-kadang saja mereka berbahasa Jawa Deli. Anak-anak mereka disebut Pujakesuma, singkatan dari putra Jawa kelahiran Sumatra. Kadang mereka menyebut diri Jadel, Jawa Deli. Namun mereka tidak melulu berdarah Jawa. Ada juga yang menikah dengan orang lokal seperti Aceh, Batak, dan Melayu. Namun mereka tetaplah keturunan para kuli Deli.

Suatu hari di masa silam, di sekolah, kami diminta memperkenalkan leluhur kami oleh guru. Kawan saya maju, memperkenalkan ‘Bapak saya seorang dokter, ibu saya tinggal di rumah. Kakek saya juga dokter, kami tinggal di rumah besar di Jalan Flores.’

Saya pernah ke rumahnya, memang megah dan mirip gedung raksasa di mata saya. Saya sempat bertanya-tanya, bagaimana empat orang mampu mendiami rumah semegah itu. Apakah tidak melelahkan saat membersihkan rumah? Bukankah butuh banyak perabot untuk mengisi rumah sebesar itu? Kawan saya ini, lumayan pintar dan tidak sombong. Kebanggaan dalam nada bicaranya, memang sewajarnya dia nyatakan. Tak tahu saya apakah dia juga menjadi dokter sekarang.

Sementara menunggu dirinya bercerita, saya merangkai kisah saya sendiri dalam pikiran. ‘Bapak saya tentara, ibu saya anak sinder yang hanya sekolah sampai kelas 3 SR. Kakek dari pihak bapak dulu bekerja jadi buruh tembakau Deli, dan saya bercita-cita ingin membantu mereka yang tertindas.’

Baru kini saya sadari, mungkin itulah masa perlawanan saya mulai berakar. Masa-masa kritis menyadari dari mana saya berasal. Ada kawan yang mengibaratkan 3B seperti memilih bibit dalam tanaman.  agar hasil panennya baik. Walau bagian dari alam, manusia bukanlah tanaman. Digolong-golongkan, dibeda-bedakan sebagai bibit unggul, super, premium, macam begitu. Andai Anda golongan premium pun selayaknya membantu golongan penyakitan, yang terbuang, tereliminasi, terkalahkan. Bukan sebaliknya, malah menjauh dan menyombongkan diri. ‘Sebagai manusia hendaknya kita tidak merasa tinggi sendiri, hebat sendiri. Karena yang begitu tentulah belum menjadi manusia luar dalam.’

catatan: ini mirip bentuk kemarahan yang tak mampu tertuang sebagai makian, apalagi bogeman. cukuplah menjadi tulisan
.