Tags

, ,

Jauh-jauh hari aku sudah memesan tempat di Mindful Farm, sebuah rumah volunteering di pegunungan Chiang Mai. Aku terpikat dengan promo pembukanya, ‘Di sini Anda dapat belajar bertani organik, membuat rumah dari lumpur, sekaligus bermeditasi dengan bimbingan Pi Nan, mantan bhiksu pemilik Mindful Farm yang pernah 20 tahun menjadi bhiksu.’

Wow! Aku tak berminat belajar meditasi. Belum pada waktu itu. Aku hanya ingin bertani ala Orang Lana, salah satu suku asli di Siam Utara. Aku juga ingin belajar membuat rumah dari lumpur. Sudah bertahun-tahun ibuku resah takut rumah yang lebih 30 tahun kami tinggali bakal digusur. Maklum, kami menempati asrama tentara, dan sudah lebih 20 tahun bapakku mati. Padahal tak cukup uang untuk membeli rumah baru. Pernah dia mencoba kredit rumah. Tapi tabungan terakhirnya Rp15 juta lenyap dibawa kabur developer nakal. Jadi aku berencana membuatkan rumah untuknya. Rumah ala lumpur atau tanah liat pun tak apa. Yang penting kami punya rumah sendiri.

Pi Nan di kebunnya

Pi Nan di kebunnya

Dengan menumpang truk petani setempat, aku dan Berm -teman yang kutemui di tengah perjalanan- sampai di Pang Term Village lalu menuju Samoeng tengah hari. Nau dan putrinya, Pema -yang juga voluntir- dengan girang menyambut kami. Sedang Pi Nan dan istrinya, Noriko, sibuk dengan bayi mereka.

Mindful Farm sedang sepi saat kudatang. Tak banyak voluntir singgah. Sorenya ada Wanda, teman Nau, datang dan membantu. Waktu itu hanya ada dua pondok lumpur untuk menginap. Pema dan Nau tinggal di sebuah pondok, aku dan Berm di pondok satunya. Wanda tinggal di ruang kosong di samping dapur. Berlampu, terbuat dari kayu, dan tertutup. Lumayan hangat buat tidur. Kupikir ruang tidurnya paling menyenangkan.

Bentuk pondok lumpur cukup sederhana, hanya semacam dipan dengan kelambu di atasnya. Tak ada lampu atau penerang lainnya. Pondok yang ditinggali Nau lebih besar dan tertutup. Ada tempat luas untuk meletakkan barang selain matras. Tapi, di belakang pondok, sempat kami temukan kulit ular yang ditinggalkan induknya entah ke mana. Seram juga.

pondok yang ditinggali Nau dan Pema

pondok yang ditinggali Nau dan Pema

Pondok tempatku dan Berm tinggal, menghadap langsung ke bawah, ke sawah-sawah penduduk. Pondok kami berada di tepi jalan. Tatkala malam, bintang-bintang dan bulan yang jadi lampu penerang. Agak ngeri juga bagi yang takut gelap. Apalagi banyak semut rang-rang berjatuhan dari atap atau merambat dari bawah. Namanya juga rumah lumpur. Untung ada kelambu.

Malam pertama saat Berm tidur di bagian kamar samping, aku masih bisa terlelap. Berm punya senter yang dapat kuguna buat memeriksa keadaan. Sayangnya Berm pulang pagi sekali. Malam kedua dan ketiga aku benar-benar begadang, sulit menutup mata. Apalagi langit mendung, sama sekali tanpa cahaya. Mirip tidur di hutan. Tapi sungguh, tenda terasa lebih hangat, nyaman, dan aman ketimbang rumah lumpur di ujung bukit. Hari keempat aku pindah ke rumah volunteering lain yang lebih hangat suasananya, Happy Healing Home..

Jadwal di Mindful Farm cukup ketat dan kurang santai waktu itu. Mungkin karena tak banyak voluntir, sehingga tak bisa leluasa ngobrol, tak banyak yang menuangkan ide, yang ada hanya kerja dan kerja. Apalagi Pi Nan orangnya kaku saat itu, sulit menerima ide dari luar. Menurutnya apa yang dilakukannya sudah paling benar.

kamarku

kamarku

Bangun pukul 06.00, sebentar aku dan Nau membantu Pi Nan membuka kran air untuk menyiram kebun sayurnya. Dia menanam lobak dan kol. Lalu kami memasak, menyiapkan sarapan. Nau membuat api dari kompor berbahan kayu dan arang. Menu sarapan beragam. Ada bubur, sayur, buah, roti, pokoknya menu-menu vegetarian.

Lebih satu jam kami memasak, lalu sarapan. Pukul 09.00 kembali kami sibuk berkebun, menyiangi tanaman. Tengah hari dilanjutkan dengan acara memasak untuk makan siang. Lagi-lagi, menunya melimpah. Banyak banget yang mesti dimasak. Lebih lama waktu buat memasaknya ketimbang memakannya. Apalagi aku cuma makan sedikit. Kalau Pi Nan, walau tubuhnya kurus, makannya mirip gerbong kereta api. Sambung menyambung tiada henti.

Usai makan siang, kami istirahat satu jam, lalu kembali ke kebun pukul 3 petang. Dua jam berkebun, kami lalu mandi dan mempersiapkan makan malam. Lalu pukul 20.30 kami melakukan meditasi duduk selama setengah jam di dalam rumah yang didiami Pi Nan dan Noriko. Aku dan Pema yang berumur 9 tahun itu kerap tertidur dalam meditasi duduk. Beda dengan Wanda atau Nau yang tampak menikmati meditasi.

kawan-kawan voluntir

kawan-kawan voluntir

Ada satu aturan tak tertulis yang diterapkan Pi Nan, dan membuat voluntir yang tak biasa, merasa kurang nyaman. Dalam banyak hal, kita harus bermeditasi. Saat makan misalnya, kita tak boleh ngomong, tapi harus merasakan betul makanan yang kita makan. Alangkah susahnya menutup mulut jika kau bertemu dengan orang asing. Umumnya sesama orang asing, voluntir dari berbagai negara akan suka ngobrol, bertukar kabar, dan pengalaman saat di meja makan, sehingga timbul keakraban. Namun hal itu ‘tabu’ diterapkan di Mindful Farm. Gerak jadi tak leluasa. Padahal di sana kami bekerja, benar-benar bekerja lebih 4 jam sehari, tak dibayar, malah harus membayar 150 bath sehari untuk bea makan.

Dalam bertani, hal itu juga berlaku. Lebih banyak Pi Nan yang bertanya dan kami menjawab ketimbang dialog dua arah. Ada satu pelajaran dari Pi Nan yang kuingat terus hingga saat ini. Dia selalu meminta kami mengumpulkan biji-biji buah atau tanaman apapun saat makan. Biji-biji ini kemudian kami semai, untuk ditanam di kebun.

Aku dan Pema suka dengan tugas ini. Suatu kali Pi Nan melihatku memilih dan memilah biji yang hendak kusemai. “Jangan dipilih, Ary. Semai saja semua,” tegurnya, membuatku sejenak menghentikan pekerjaanku dengan heran.

“Tapi kenapa, Pi Nan? Bukankah kita harus memilih biji yang bagus dan cukup tua agar tanaman tumbuh dengan baik?” Aku protes.

“Biarkan tanah yang memilih mana benih yang hidup mana yang akhirnya mati,” nasihatnya. Aku terperangah.

Kelak, setelah mendalami meditasi vipassana secara sungguh-sungguh, kutahu kalau Pi Nan melaksanakan meditasi dalam kehidupan sehari-hari, mulai makan, bertani, termasuk memilih bibit. Andai saat itu aku sudah kenal meditasi, tentu bakal kunikmati hidup tenang di Mindful Farm.

Oya, gara-gara aturan yang dianggap ketat ini membuat Wanda keesokan harinya memilih mengunjungi Happy Healing Home, rumah volunteering yang jauhnya sekitar 2 km dari Mindful Farm. Aku ikut dengannya, dan kepincut. Rencana seminggu di Minful Farm akhirnya kandas hanya 3 hari, sisanya kuhabiskan di HHH. Namun kenangan di MF, terutama pelajaran memilih bibit dari Pi Nan, terus membekas. Walau, aku tak menerapkannya dalam bertanam sayur di lahan kawanku di Bali.

Advertisements