Tags

,

Sepintas namanya mirip rumah untuk merawat orang-orang ‘sakit’ dan membuat mereka bahagia. Tapi Happy Healing Home (3H) memang tempat yang membahagiakan. Di sini para voluntir manca berkumpul, mengerjakan sesuatu yang berguna dan mereka sukai, membina persahabatan, dan kenangannya terukir sepanjang ingatan.

memotong dan menarik bmbu

memotong dan menarik bmbu

Ketika pertama berkunjung ke 3H dengan Wanda, aku sudah terpikat. Padahal saat itu hanya ada 4 voluntir tetap, Andre dari Rusia, dan Luc dari Prancis yang sudah sebulan tinggal di 3H. Lalu pasangan asal Amerika Latin yang baru beberapa hari datang. Kami terkesan karena para voluntir begitu ramah, terbuka, dan berpandangan luas. Di saat makan siang, Pi Nan Jim dan istrinya, Pi Nan Tea, si pemilik 3H, mengajak ngobrol dan bergurau. Padahal Jim dulunya juga seorang ‘monk’ selama 16 tahun. (Oya, saat itu baru kutahu makna kata pi nan, yaitu orang baik :D).

Hari itu Andre mengajakku menyelesaikan rumah bambu. Aku membantunya menganyam dua jendela berangka bambu yang ditinggalkan seorang voluntir China sebelumnya. Kukumpulkan rumput kering dari gunung dibantu Andre, untuk dijalin menjadi penutup jendela. Karena pekerjaan menganyam tak selesai, esoknya kuputuskan hijrah ke tempat 3H dari Mindful Farm.

Pi Nan Hoeng melepasku dengan setengah hati saat kutinggalkan Mindful Farm. Dia bilang ingin aku berada di tanah pertaniannya, membantunya menyiangi sayuran dan bertanam. Masalahnya aku hanya sendirian di sana, 3 voluntir lain sudah pulang. Tak ada teman bicara. Aku juga mirip menjadi pekerja di sana, bukan voluntir. Sudah bekerja berjam-jam, masih bayar pula. Hubungan kami bukan mirip kawan, tapi atasan bawahan. Aku jadi tertekan.

jendela dari gedebog pisang yang kubuat

jendela dari gedebog pisang yang kubuat

Begitu sampai di 3H, tak berapa lama datang lagi 3 voluntir asing. Suasana benar-benar meriah. Padahal letak 3H tak seindah MF. Namun di sini setiap voluntir diberi kebebasan membuat program sekaligus kapan menjalankan programnya. Si pemilik, Pi Nan Jim dan istrinya amat santai. Baru kemudian kutahu ketika menjadi pendeta, Pi Nan Jim berkawan akrab dengan Pi Nan Hoeng.

Waktu itu ada 2 program utama yang para voluntir jalankan, membuat rumah bambu yang dimotori Andrem dan Luc, serta bertanam yang digagas pasangan Amerika Latin. Aku jelas memilih membuat pondok bambu, walau tak sekali pun pernah memotong pokok bambu, menggergajinya, mengapak dan memaprasnya menjadi tipis-tipis, lalu memakunya. Menurutku, pekerjaan membuat rumah bambu lebih heroik. Dan ternyata menggergaji pokok bambu tidaklah sulit. Biasa saja.

Lebih sulit menyelesaikan anyaman rumput di atas jendela bambu. Butuh ketekunan, kerapihan, dan amat sangat lama. Andre dan Luc ribut sekali melihat anyamanku tak selesai-selesai. “Gila! Kenapa lama begitu? Kami sudah bikin satu pondok, kau baru rampung satu jendela.” Luc berteriak mirip orang marah. Aku hanya tersenyum. Sebetulnya aku ingin menyerah saja. Memangnya enak menganyam dari rumput kering atau batang pisang kering? Apalagi aku belum pernah melakukannya di tanah air. Tapi aku bisa menganyam tikar dari daun pandan. Masalahnya, mana ada daun pandang atau daun kelapa di pegunungan begini? Dapat rumput kering pun setengah mati girangnya, walau harus mendaki gunung 40 menit. Untung si Rusia membantuku memikul rumput-rumput tadi.

Jim dan andrew berlagu setiap malam

Jim dan andrew berlagu setiap malam

Istri Pi Nan Jim, Pi Nan Tea, amat senang dengan jendela buatanku. “Nanti kami pasang jendelamu menghadap langsung lembah,” katanya sambil tersenyum.

Tea dan Jim pasangan yang hangat. Di rumahnya kami memasak bersama, pagi, siang, malam, bergiliran. Aku pernah membuatkan mereka tahu telur dan pisang goreng. Lagi-lagi protes kuterima saat membuat pisang goreng. “Pi Nan Ary, kenapa repot-repot menggoreng pisang segala? Dimakan biasa pun pisang sudah nikmat,” tegur Luc si janggut kambing. Pisang gorengku agak hitam. Awalnya tak ada yang tertarik menyomotnya. Namun begitu seorang kawan memakannya dan tak bisa berhenti, yang lain pun ikut-ikutan. Dalam sepuluh menit, ludeslah si pisang goreng.

Aku sempat membuka bekal, abon tuna buatan kawan. Pi Nan Tea menambahkan bumbu khas Lana. Rasanya keras dan menyengat. Saat kami makan bersama, semua senang. Bahkan anak pasangan Jim dan Tea berkali nambah nasi lauk abon. Kawan voluntir yang lain memasak kue tar dari ketan. Di rumah 3H, kami biasa makan nasi ketan lauk segala macam sayur, telur, ulat bambu, dan makanan tradisional Lana lainnya. Masakan Pi Nan Tea sungguh kaya daun jeruk, lengkuas, dan beberapa empon-empon khas Siam.

Ada satu hal yang kupelajari saat volunteering di 3H. Kekompakan plus kekonyolan perlu untuk hidup. Di sini, ego pribadi, mau menang dan tampil sendiri, jelas ludes dimakan kepentingan bersama. Aku belajar dari Luc dan Andre, yang menghabiskan 8 tahun hidupnya berkeliling dunia, tinggal terpencil di tempat tak biasa. Mereka selalu punya ide segar yang dilemparkan ke forum yang kemudian kami wujudkan bersama. Pasangan Amerika Latin yang awalnya suka menyendiri karena masalah bahasa pun ikut lebur. Begitu juga ABG Amerika yang awalnya amat mau menang sendiri. Semua kompak, bergotongroyong, mulai memotong bambu, menggergaji, memaku, memasak, hingga menuci piring. Tak ada lagi ego ini aku itu kamu. Yang tinggal hanya berbuat, berkreasi, dan guyon konyol. Setiap malam ada saja yang kami lakukan, mulai bermain musik, diskusi, hingga pijat-pijatan.

Tiga malam kemudian kutinggalkan 3H dengan berat hati. Tentu aku masih ingin berlama-lama di sana. Namun visaku akan habis 2 hari lagi. Jadi aku harus menuju perbatasan segera. Pagi itu ketika diantar Pi Nan Jim dan Pi Nan Tea menunggu angkot yang membawaku ke Chiang Mai, aku berjanji kepada mereka mengenalkan 3H dan misinya kepada dunia luar. Berkat tinggal di 3H, aku jadi teringin membuat kegiatan semacam di tanah air. Tidak melulu bertani, tapi mengenalkan budaya lokal ke semua orang, tak hanya orang asing. Dengan begitu akan tercipta kerjasama, ikatan kekeluargaan, dan keinginan memberi tanpa pamrih. Menjadi manusia yang tak semata mementingkan egonya. Pelajaran dari pegunungan utara Chiang Mai ini begitu berharga.

Advertisements