Tags

Berbulan lalu aku suka tinggal di sini. Bukit-bukit menghijau dipenuhi tanaman cengkeh, pala, kopi, dan coklat itu sungguh menyegarkan. Segenggam biji apapun jika kau tebar ke tanah sekitarmu dalam seminggu atau lebih akan menjelma benih, calon pohon baru. Rupanya tanah tak menolak apapun yang diumpankan kepadanya. Mirip alam yang selalu memberi segala yang kau pinta.

mistisme pasir di TN Penang

mistisme pasir di TN Penang

Itu dulu, berbulan lalu. Anak-anak mudanya gandrung gadget terbaru, entah yang android atau OS. Merk mirip Samsung, BB, atau seburuknya Evercoss model terbaru tak jauh dari jangkauan. Apalagi fasilitas free-wifi selalu tersedia di setiap warung, restoran, atau penginapan. Entah itu kelas backpacker hingga setara hotel melati. Jadi, teknologi sebagai penopang modernisasi ada dan nyata di desa ini. Aku suka. Dalam sunyi, menyepi, masih kutemukan perangkat untuk bekerja mandiri.

Kalau begitu apa masalahnya?

Suatu hari kau bersua kenalanmu, dan dia sedang kesakitan. Kakinya bengkak, ada benjol di punggungnya. Jatuh iba, kau pun memijatnya dan memberinya ramuan. Mengeluarkan ilmu simpananmu yang biasanya tak begitu diperlukan. Bengkak karena asam urat itupun mengempis, benjolan di punggung menghilang. Hari yang lain datang kenalan yang lain, terisak karena kehilangan barang. Kau sebut -dengan gaya asal mirip dukun- barang itu masih ada di rumah, terselip antara tumpukan baju. Benar, tiga hari kemudian dia datang lagi menemuimu dan membenarkan ‘penglihatanmu’.

Ketrampilan memijat dapat kau pelajari di buku-buku, mungkin juga diwariskan oleh orangtuamu, ibumu, bapakmu, kakekmu almarhum. Warisan teori memijat yang kemudian kau praktekkan awalnya di tubuhmu sendiri tatkala sakit atau pegal. Soal ramuan pun bisa kau baca dalam buku-buku yang membahas jejamu nusantara, atau kau kumpulkan resep-resep dari pelosok tatkala kau melakukan perjalanan. Lalu resep-resep itu kau ujicoba langsung menggunakan dirimu, keluargamu, saat mereka jatuh sakit dan ’emoh’ ke dokter. Begitulah awal mula kisah pengobatan dan pemijatan ini.

Lalu tentang ‘ilmu dukun’ itu tak lebih mengasah indera keenam. Semua manusia memilikinya, hanya kemudian ada yang luntur dimakan prasangka atau hdup mirip kuman. Ini hanya soal olah rasa, rasa tanpa benci atau dendam, tanpa curiga atau prasangka. Semata ditujukan membaca dan memberi.

Berminggu lalu ada orang memintaku menolong seseorang yang sulit mendapat keturunan. Pasangan ini sudah lebih tiga tahun menikah, namun belum mendapat momongan. Mereka sudah berobat ke mana-mana, ke dokter spesialis kandungan, ke dukun A, ke orang pintar, sembahyang ke pura, dan beragam cara lainnya.

Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Pernah kujumpa kawanku sendiri menikah belasan tahun tak jua beranak. Ada lagi yang baru memiliki anak setelah 15 tahun menikah, mengangkat anak orang lain. Ada juga yang terpaksa menempuh bayi tabung atau meminjam rahim orang lain. Beragam cara, tak sama antara satu dengan lainnya. Jadi jangan tanyakan aku mengapa atau bagaimana.

Aku hanya sekedar menolong sebisaku. Kupijat bagian indung telurnya. Kuminta mereka bersabar. Soal anak, sungguh Sang Pencipta -jika kau ber-Tuhan- yang tahu, atau.. karma masa lalumu yang berbicara. Namun manusia memang harus berusaha.

Ada kisah lain lagi. Aku diminta menolong perempuan muda yang kandungannya tak berkembang. Jika tak menunjukkan perkembangan lebih lanjut, dokter akan membuangnya dua minggu lagi. Si perempuan dan keluarganya takut dia diguna-guna. Kebetulan ada kerabat dekatnya yang tak suka dengan perkawinan mereka. Nah.. nah!

Di desa tempatku tinggal sekarang, mistisme masih kuat mengakar. Seorang wanita hamil dipercaya memancing banyak godaan. Yang kandungannya kurang dari 3 bulan, bisa dimangsa leak atau mereka yang sedang mencari ilmu. Konon terkabar, dengan menghisap darah si jabang bayi, maka tingkatan ilmu seseorang akan naik cepat. Sementara yang besar kandungannya, umur 6 bulan ke atas pun dilarang berkeliaran setelah maghrib. Lagi-lagi dia menjadi calon mangsa makhluk supranatural. Itu baru dari sisi kehamilan.

Kerap juga kumemijat orang sakit, lalu yang kupijat bertanya, “Sakit saya dibuat orang ya?” Susah menjawabnya. Aku tak suka menuduh orang, atau berprasangka apa yang terjadi pada diri kita karena ulah orang lain. Semua kukembalikan kepada diri sendiri. Apa sudah benar cara hidupku, makanan yang kutelan? Apa sudah cukup tidurku? Atau sudah terpujikah perilakuku? Namun di desa ini, kerap kutemui seseorang mencurigai kerabatnya, orang yang dekat dengannya, dengan alasan iri, persaingan harta, hak waris, dan sebagainya.

“Kau hidup di pulau dewata, yang kehidupan sehari-harinya dikepung ritual. Maka yang nyata, natural dan supranatural hidup berdampingan. Jadi jangan mengeluh,” kata karibku.

“Betul,” kataku. “Di pulau ini kuasa alam begitu nyata. Penduduknya merasakan langsung lewat pori-pori kulit mereka, betapa roh leluhur terus hidup berdampingan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Betapa tanah yang hidup, tumbuhan yang hidup, bahkan gaman dan lelading yang hidup, melingkupi sekeliling mereka. Sebetulnya tanpa sembahyang pun mereka sudah merasakan kuasa Tuhan. Tuhan terlihat di mana-mana. Pada sebuah wajan yang terpanggang, bara yang menyala-nyala, bambu-bambu yang melagukan angklung. Hanya… “

“Hanya apa?” tanya karibku. Dia tampak penasaran.

“Prasangka ada di mana-mana. Jika kulitmu terasa panas lalu berbintik-bintik usai mengunjungi kerabat, bisa jadi kau alergi atau salah makan. Namun kau mengira itu karena ulah kerabatmu yang tak suka.” Aku mendengus kesal.

“Jika sakitmu tak sembuh-sembuh walau sudah berobat ke puskesmas, bisa jadi diagnosa mantri kesehatan tak akurat. Mungkin kau butuh dokter spesialis dan pemeriksaan laboratorium lengkap. Bukan berarti sakitmu karena ada sanak yang iri pada kemakmuran hidupmu.” Kembali aku mendengus. Kesal sekesal-kesalnya.

“Jika kau miskin, maka bekerjalah yang giat. Segiat-giatnya sehingga kebutuhan hidupmu terpenuhi. Bukan berarti kau hanya perlu memelihara tuyul, lalu merelakan puting istrimu atau anak gadismu ‘diempot’ tuyul itu setiap petang.” Kali ini kawanku terbeliak kaget.

“Kalau kau ingin melakukan perjalanan ke tempat-tempat tak biasa, belajarlah yang tekun. Siapa tahu dapat beasiswa sehingga dapat pergi ke negara entah. Bukannya belajar meringankan tubuh agar dapat terbang dengan imbalan menghisap darah orang ala drakula.” Aku tertawa.

Hidup dikepung mistik sungguh membingungkan. Nalar manusia seolah tak ada harganya, atau sudah hilang. Yang ada hanya prasangka keparat. Ah, seharusnya kita hidup dengan membebaskan, bukan malah mencengkeram dan menyalahkan. Aku percaya apapun bisa dilogika asal kita tak jemu belajar.

Andai hal-hal klenik itu benar hidup. Santet, guna-guna, dan semacamnya, manusia sebetulnya punya pertahanan diri yang sangat kokoh dan tak tertembus kekuatan semacam itu. Pertahanan yang dibentuk oleh perilaku terpuji, hati yang bersih, dan pikiran suci. Hanya, berapa gelintir orang yang mau memelihara perilaku, hati, dan pikirannya?

Munduk, 4 februari
Curhat di pagi hari,

Advertisements