Tags

,


Sepintas, pernyataan di atas susah diterima akal, orang sakit kok disuruh olahraga. Namun berdasar pengalaman saya, walau divonis kanker, jangan lantas tidur melulu, menyesali nasib, minta selalu dilayani, dan berpikir akan mati. Polah begitu justru memicu stress, menurunkan kekebalan tubuh, dan mempercepat Anda menjadi penghuni tetap pekuburan.

Ketika menderita kanker, sambil menjalani perawatan dari dokter, niatkan untuk beraktivitas secara normal. Jika Anda punya sepetak kebun, maka berkebunlah. Bersentuhan dengan tanah dan tanaman akan memberi Anda banyak energi positif, menenangkan pikiran dan hati, dan ujung-ujungnya meningkatkan kekebalan tubuh. Bukankah pengobatan kanker justru efektif jika kekebalan tubuh meningkat?

sumber gambar:keepcalmomatic.co.uk

sumber gambar:keepcalmomatic.co.uk

Tiga hari usai menjalani pembedahan -dengan puluhan jahitan di perut- dokter memaksa saya untuk berlatih berjalan setiap hari. “Kamu harus berjalan dengan menegakkan tubuh,” perintahnya. Mampu berjalan 5 menit oke, lebih bagus kalau lebih lama berjalan. Maka dengan terbungkuk-bungkuk saya selalu berjalan menuju kamar mandi, atau ke mana pun. Beruntung saya dirawat di rumah sakit di Penang, yang dokternya galak, dan lebih menekankan ketahanan tubuh pasien untuk sembuh ketimbang bergantung kepada obat-obatan kimia. Beruntung juga saya hidup sendiri di sana, sehingga dipaksa mandiri, mengerjakan apapun sendiri.

Dua minggu setelah operasi bahkan saya sudah naik turun bus kota untuk sekedar kontrol ke rumah sakit dan menjalani ‘angkat jahitan’. Terasa berat, memanglah. Tapi itu membuat badan saya pulih lebih cepat. Fisik saya pun semakin kuat. Ketika pulang ke tanah air tiga bulan kemudian, saya menjalani kehidupan normal lainnya. Ke mana-mana berjalan kaki, meski dengan tubuh terbungkuk-bungkuk karena kulit di perut belum melar untuk menggantikan kulit yang terkena kanker dan dibuang dokter.

Latihan berjalan tegak tak kenal lelah membuahkan hasil. Enam bulan kemudian saya sudah bisa berdiri lurus, normal, meski belum dapat ‘kayang’. Jadi saya mulai berlatih angkat beban, mengangkat barbel setengah kilogram dulu, mengangkat air yang mendidih di ceret. Dengan begitu setahun kemudian, ketika memutuskan untuk berjalan-jalan keliling Kepulauan Madura atau Sumatra selama berminggu-minggu, tak lagi ada masalah ketika harus membopong ransel seberat 7 kilogram.

Olahraga selalu menjadi hal positif untuk menyembuhkan kanker selain pengaturan makanan. Makanan kaya serat dan vitamin seperti buah dan sayur, tak hanya kaya oksidan, tapi juga mampu meningkatkan ketahanan tubuh yang signifikan. Ketika menderita kanker, saya menjalani diet jus sayur dan buah selama setahun lebih. Hasilnya selama dua tahun berikutnya saya tak pernah disambangi penyakit seperti batuk, pilek, influensa. Justru ketika acara minum jus 3x sehari saya hentikan, batuk dan pilek mulai menghampiri.

Ada bahasan menarik soal pentingnya olahraga bagi penderita kanker payudara, seperti ditulis dalam artikel ini. Olahraga teratur pada penderita kanker payudara akan mengurangi depresi, menguatkan tubuh, menghilangkan perasaan lemas akibat kemoterapi, dan meningkatkan kualitas hidup. Olahraga akan menguatkan penderita untuk menjalani pengobatan kanker yang melelahkan dan berat. Maka berolahragalah, lawan kanker dengan aktivitas fisik dan bebaskan pikiran dari hal-hal yang tak perlu dipikirkan.

Sebuah buku karangan Rendy Pausch bertitel ‘The Last Lecture’ menggambarkan betapa kuat perjuangan Rendy melanjutkan aktivitasnya sehari-hari meskipun sudah divonis dokter umurnya tinggal 8 bulan akibat kanker pankreas yang diidapnya. Rendy tetap melakukan jogging di pagi hari, sesekali mengajar, dan menulis buku. Belum lagi waktunya habis buat menggendong anak dan lebih fokus kepada keluarganya. Tak ada kegiatan cuma berbaring di tempat tidur, menyesali nasib, menyumpah-nyumpah, hingga maut menjemput. Hasilnya, dia berumur lebih panjang dari perkiraan dokter walau akhirnya meninggal juga.

Saya punya kawan yang luar biasa menginspirasi, Pinky Saptandari namanya. Dulunya dia mengajar di Fisipol Unair. Walau divonis mengidap kanker payudara, berkali-kali dioperasi, bahkan mengalami pengangkatan payudara, dia pantang menyerah. Bertemu dengannya sungguh menyenangkan, selalu aktif, optimis, bergerak ke sana- ke mari. Hingga saat ini beliau masih hidup, sehat, dan aktif di berbagai lembaga kemasyarakatan.

Ada lagi Tante Kristis, yang bertahun lalu dinyatakan terkena kanker rahim. Perempuan setengah baya ini masih bugar, berkat aktivitas fisiknya yang tiada habis-habisnya. Tubuhnya pun tak menggemuk, malah semakin cantik dan bebas diabetes, apalagi stroke. Semua berkat aktivitas fisik, olahraga, bersosialisasi, dan selalu berpikir positif.

Salam Sehat,

lombablog_125x125