Tags

, ,


Five!” teriakku.

Twelve dollars, Madam!” kata lelaki teman dadakan si tukang ojek.

Aku menggeleng. Terlalu mahal. Entah kalau aku naik tuktuk.

Ten, oke?” Mereka menurunkan harga. Dengan dongkol, kutinggalkan tempat itu.

membelah jalanan Phnom Penh

membelah jalanan Phnom Penh

You know, Killing Field is 16 kilometres from here.” Aku masih tak bergeming. Mending ikut agen wisata yang banyak terdapat di bagian kota yang menghadap ke pantai. Pergi ke Killing Field dan museum pembantaian hanya 5 dolar. Naik van pula. Sayangnya aku mengejar waktu. Tengah hari aku harus menuju Takeo.

Aku berjalan menjauhi Independent Monument, meninggalkan tanah lapang. Terus berjalan. Tanpa menoleh ke dumelan para tukang ojek dan tuktuk di pinggir lapangan tadi. Di ujung lapangan, tiba-tiba tukang ojek yang pertama kutawar mendekatiku. Dia mengucapkan bahasa Khmer sambil tangannya mengacungkan 6 jari.

Six dollars?” tanyaku.

Lalu dia menunjuk jarum jam di tangannya, dari pukul 10.00 sampai 12.00.

Deal, oke!” seruku. Lalu dia menyodoriku helm tua yang tak bisa diikat talinya. Mungkin setua motornya, yang kutaksir buatan awal tahun 1970-an. Lalu motor menderu menembus jalanan Phnom Penh, ke arah luar kota, menuju Choeung Ek.

Tukang ojek itu memacu motornya kuat-kuat. Tapi sekuatnya, sekencangnya, mungkin kecepatan motor sekitar 50 km/jam. Maklum, motor tua. Namun caranya mengendalikan motor, membuatku jantungan. Tak kenal lampu merah, tak melihat ke kiri atau kanan. Tak ada reting, langsung nyelonong berbelok atau memotong jalan. Dan baru kusadar, di jalanan Phnom Penh ini, pengendara motor adalah raja. Polisi lalulintas? Ah, kurasa mereka semacam pajangan yang dipasang jika saja ada turis memerlukan bantuan arah.

model motor yang umum digunakan

model motor yang umum digunakan

Aku bersimpangan dengan beberapa motor yang sama gilanya, mungkin malah lebih. Ada motor berpenumpang lima orang. Anak kecil di depan, nyaris berdiri sambil memegang stang, lalu lelaki bapaknya, lalu dua anak kecil duduk di tengah, baru perempuan ibunya. Lima orang! Tanpa helm atau pengaman apapun, dan motor mereka lumayan ngebut!

Lalu ada seorang lelaki memboncengkan perempuan yang membawa semacam kotak besar berbentuk kotak aluminium. Kutaksir kalau bukan oven ya tempat kue. Begitu besar dan tingginya kotak itu sehingga si perempuan duduk di atasnya, lalu kedua tangannya memegang leher si lelaki. Bayangkan kalau ada lubang besar menghadang di depannya, atau apapun. Entah apa yang terjadi pada mereka. Antara tertawa dan takjub, aku memandangnya, sebelum motorku ‘ngepet’, memasuki jalanan luar kota yang berlubang-lubang.

Tukang ojekku beberapa kali menunjuk-nunjuk sesuatu sambil berbicara dalam bahasa Khmer. Karena tak paham, jadi kutepuk-tepuk bahunya. Sekitar 45 menit kemudian sampailah kami di Choeung Ek Genocidal Cetre alias Killing Fields. Dia akan menunggu di luar sambil menunjuk arlojinya, yang kuterjemahkan dia hanya memberiku waktu sampai pukul sebelas. Tapi di Killing Field hanya satu jam mana cukup bagiku. Tapi segera kukibaskan pikiran itu. Kurasa jika aku terlambat setengah jam, dia akan maklum. Toh ongkos belum kubayar.

—00000

Aku keluar dari Killing Fields pukul 11.20. Tukang ojek itu masih ada di sana, duduk di sebuah warung. Dia segera menyambutku begitu melihatku, dan mengulurkan helm. Lagi-lagi dia menunjuk arlojinya. Kuacuhkan saja. Mungkin itu satu-satunya dialog yang dia anggap aku pahami, atau dia pahami? Lalu kami segera melaju ‘ugal-ugalan’ di atas motornya.

pengendara motor di poipet lebih sopan, model motornya pun lebih baru

pengendara motor di poipet lebih sopan, model motornya pun lebih baru

Perjalanan pulang terasa lebih lambat ketimbang berangkat. Tukang ojekku tampak putus asa karena harus berkali mengerem motornya. Jalan raya mulai padat. Truk-truk di jalur luar kota panjang berderet. Entah mereka mengangkut apa. Debu-debu beterbangan, menusuk lubang hidung dan membuat mataku berair. Luar kota Phnom Penh ternyata penuh polusi. Tak ubahnya kondisi jalur pantura Jawa.

Ketika memasuki kota, si tukang ojek merasa kembali berjaya. Memacu motornya tanpa saingan, menabras lampu merah, bahkan keluar masuk jalan-jalan tikus yang naik turun di sepanjang kampung-kampung Phnom Penh. Baru kutahu bentuk kampung di megacity ini. Mengesankan. Kalau tidak naik ojek yang bikin deg-degan, mana mungkin aku mengalami petualangan jalan raya yang menegangkan begini.

Akhirnya dia menurunkanku tepat di depan penginapan. Kuulurkan uang 25.000 riel. Hanya sekilas dia memeriksa lalu mengucapkan ‘terimakasih’, kemudian memacu motornya kencang-kencang.

Pengalaman berojek kembali kuulangi sepulang dari Takeo. Diturunkan minivan di bagian kota yang tak kukenal –sebetulnya aku berada di dekat rumah pemilik Our Friend Orphanage, namun aku ogah sambang- jadi kuhentikan tukang ojek yang lewat. Sebelum dia bertanya, langsung kusebut nama ‘Phsar Thmey’, dan ‘dua dolar’. Tanpa pikir panjang dia mengangguk.

Kumulai petualangan berikutnya. Melebihi naik Harley atau trail menuju dataran pasir Bomo, rasanya. Ini lebih menegangkan, lebih memicu adrenalin, dan membuatku bersemangat. Meliuk-liuk di jalanan Phnom Penh yang sibuk, tukang ojekku tampak gagah menerbangkan honda tahun 1972 berwarna hijau. Menyalip di antara dua mobil, bahkan nyaris menabrak sebuah tuktuk yang merapat pelan. Tapi tak kudengar satu pun umpatan. Justru dia tersenyum dan bersuara ramah. Mirip, “Nyaris saja,” atau, “maaf.” Benar kata Piet kawanku yang bule itu. “Phnom Penh? You shoud try motorbiking around the city.” Laknat betul!