Tags

,

Aku masih termangu, antara percaya dan tidak. Duduk di pembaringan berukuran besar, menghadap meja rias kayu yang menempel di dinding yang terkoplak-koplak karena lumut dan jamur. Di sisi kiri, meja persembahan -juga dari kayu- masih berdiri utuh. Di atasnya ada dua patung dewa, sekumpulan dupa, cawan tanah liatdipenuhi batang-batang bekas dupa yang menyala, juga air suci atau tirta, dan kotak plastik berisi uang sesembahan atau sari. Di atasnya, menempel pada dinding paling atas kamar, empat kotak kayu sesembahan. Ada banten dan canang, bekas nyala dupa yang abunya menjatuhi tumpukan boneka di samping meja sesembahan, yang tepat bersandar pada dua sisi jendela. Boneka-boneka itu koleksi anak sulung temanku yang rumahnya kutumpangi, sejak dia lahir hingga berumur 15 minggu kemarin.

temaram di kamar yang kuhuni

temaram di kamar yang kuhuni

Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa cangkir putih yang kuletakkan di atas meja rias berisi empat perlima air jeruk manis semalam. Aku meletakkannya begitu saja di sana, menindih lubangnya yang menganga dengan buku harian, karena tak mampu menghabiskannya saat itu.

Perutku kepenuhan dengan mi goreng yang kusantap. Sejak petang perutku kembung. Mungkin kebanyakan angin, mungkin terlalu lama menggiling tanpa bahan baku. Makan terakhirku pukul tujuh lima belas pagi. Aku malas mengisinya kembali setelah itu. Kenyang oleh pikiran dan bayangan. Jadi malam itu kuhalau paksa para angin dengan mi goreng manis asem yang menyengat. Segelas air jeruk pun hanya kusruput dua kali.

Aku berencana menghabiskan sisa wedang jeruk manis itu tengah malam, saat kubiasa terbangun dan merasa haus. Biasanya aku akan terbangun antara pukul setengah dua belas hingga tiga dini hari, kemudian minum segelas air, lalu menyelesaikan tulisan kisah-kisah yang terbengkalai berbulan atau bertahun lalu. Selalu begitu.

Aku memang terbangun malam itu, tepat tengah malam. Kudengar geraman dan gonggongan para anjing terlalu mengganggu. Selalu begitu selama lebih sepekan ini, sejak bella -anjing peliharaan orang rumah- mulai menarik lawan jenisnya. Ada saja tiga empat ekor anjing datang ke rumah, mengendap-endap lewat tiang pagar besi longgar sejak tengah malam hingga subuh, sekedar menyetubuhi betina jalang berbulu coklat itu. Tak hanya lima menit, mereka, para anjing itu, menyetubuhinya semalaman, dengan geraman khas gabungan antara rintihan, nikmat, dan nambah lagi, nambah lagi, sampai buncit si bella kelihatan nanti.

Aku pernah memergoki mereka bersetubuh, lalu melemparinya dengan bata. Sejak saat itu persetubuhan pun berpindah tempat. Tak lagi di keset depan kamar mandi luar, tapi di bagian atas restoran. Usai memuaskan nafsu dan tuntutan alam, setiap pagi para anjing akan berpindah ke kebun bawah, bermain di sana, menginjak-injak para jahe, prei, dan bawang merah yang baru kutanam beberapa minggu lalu. Laknat benar, asu tenan, aku hanya bisa mengumpat.

Ada lagi yang mengesalkan. Usai bersetubuh, anjing-anjing pun buang tahi seenaknya di gundukan pasir samping dapur. Pasir yang digunung di situ buat bahan persediaan pengerjaan penginapan baru di samping restoran. Ketika membuka jendela dapur di pagi hari, aku tinggal menghitung ada berapa tumpukan tahi hari itu. Bukti energi yang terbuang dari para anjing yang membuang ingusnya ke sumur bella malam sebelumnya. Jangan tanya baunya, sebaiknya kau menutup mukamu dengan masker anti asam.

Pernah sekali aku mengeluh kepada tetangga si empunya warung di samping atas rumah tentang rintihan para anjing. Apa jawabnya? “Biasa, menjelang nyepi memang musim kawin bagi para anjing. Mungkin anjing-anjing itu dimasuki roh-roh para pengganggu, sehingga lebih bergelora dan liar.” Ada-ada saja.

Malam itu aku tak sempat minum, tak pula menulis. Hanya sebentar kulirik buku ‘Nusa Damai’-nya Karl May yang mulai terasa panjang dan membosankan. Membaca beberapa lembar sejak halaman tiga ratus sekian, berpindah ke buku ‘Sumatra Tempo Doeloe’ di bagian si penjelajah Amerika keparat, Walter Gibson, mengisahkan kunjungannya ke Palembang. Itu lebih menarik. Deskripsinya jelas, tak bersifat opini atau berat sebelah. Mungkin sekitar pukul tigaan aku tertidur, dan bangun dua jam kemudian, lalu menyadari wedang jeruk manisku tinggal setengah senti tingginya. Kugaruk-garuk kepala yang memang gatal. Uban tumbuh di sana-sini. Terpaksa, pagi itu kuteguk kopi. Pengganti air jeruk yang dihirup entah siapa.

Entah siapa itu memang ada di kamarku sejak aku menghuninya penghujung Juli tahun lalu. Mungkin dia sudah berada di sana lama sebelumnya. Penghuni lama lainnya -yang kini sudah berpindah rumah di desa lain- pernah berkisah kepadaku tentang masa kecilnya. Saat itu dia tertidur, dan terbangun melihat wanita berambut panjang terbang di atas kamarnya.  Tentu saja aku menanggapinya dengan tertawa. Membayangkan si wanita terbang dengan sapunya. Mirip si sirik dalam serial ‘Juwita dan Si Sirik’. Tentu kali ini bukan sekedar fantasi anak-anak. Di kamarku ada pintu gerbang menuju dunia lain. Entah di bagian mana, tapi pintu itu mudah terbuka -walau tak berderit- jelang tengah malam sampai jelang subuh. Berkali aku merasakannya, juga menyaksikannya.

Ketika awal menghuni kamar ini, selalu ada saja yang membangunkanku di malam buta. Pada malam ketiga, sesosok wajah berambut panjang putih terurai menyapaku dengan ‘Om Swastyastu’ lalu bercakap dalam bahasa yang kutak pahami. Bahasa Bali kurasa. Mungkin dia memperkenalkan dirinya. Di tengah malam yang lain, aku terlonjak dari tidurku saat seekor buaya tiba-tiba jatuh ke pelukanku. Malam itu, aku baru terlelap jelang subuh. Ada lagi malam-malam panjang saat kamarku mirip jalan tol, begitu riuh akan puluhan bayangan  yang bepergian ke sana ke mari, keluar masuk dari jendela kaca yang terkunci dan berdampingan dengan panti -pura keluarga besar- menuju dinding tempat meja rias bersandar.

Engkau mungkin bertanya-tanya, entah siapa itu mirip apa, atau siapa. Apakah mirip mak lampir, wewe gombel, antu banyu, pocong, atau apalah? Aku tak bisa menjawabnya langsung. Ketika penglihatanku menyaksikan itu semua, kamarku sedang tanpa lampu. Gelap. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu kamar mandi yang menyala, atau lampu di tetangga samping atas yang menerobos lewat jendela kaca. Mereka, para entah siapa itu, mirip kabut dengan beragam bentuk. Ada nenek-nenek, anak kecil, lelaki berdastar, bersarung, ber-‘kamen’. Kadang mereka menegaskan diri dengan detil bentuknya. Dastarnya putih, kamennya merah, selendangnya kuning. Tapi selalu di saat kamarku gelap.

Penglihatanku itu mirip pelita. Melebihi sepasang mata. Dengan mata terpejam, penglihatan masih berbinar. Mudah bagiku menelisik apa yang tersimpan di sebuah almari yang tertutup rapat. Atau yang terahasia di sebalik hati manusia. Namun lagi-lagi, penglihatan menyala dan padam semaunya. Tak selalu bisa ku perintah. Menyala seperlunya, biasanya dengan alasan keselamatan. Aku pernah mencobanya demi pesugihan. Gagal total!

Ketika kamarku benderang oleh bolam, hal-hal entah siapa mulai berkurang. Tidurku mulai lelap dan panjang. Karena kubiarkan bolam menyala sepanjang malam. Lampu-lampu yang lain silakan mati, asal jangan yang di kamar. Itu berlangsung berminggu-minggu. Terkadang di saat menyala pun si entah siapa masih datang. Lalu dupa kunyalakan, canang berjajar disiapkan pembantu rumah. Kamarku kan kamar sembahyang. Selalu ada persembahan di malam purnama, malam tilem, hari-hari besar seperti saraswati, galungan, nyepi, pagerwesi, tumpak landhep, dan seterusnya. Juga persembahan saat orang-orang datang membawa banten kepada ‘bendesa’, berharap hari baik buat pernikahan, penguburan, kelahiran, dan beragam ritual kehidupan.

Kau bilang aku takut? Mungkin pada awalnya, dan pada beberapa malam tertentu. Rasa seram menegakkan bulu-bulu di tengkuk, juga di sekujur tangan kanan. Mirip pertanda. Namun aku tak segera takut tatkala telapak kaki kananku tiba-tiba mendingin, padahal yang kiri begitu panas. Atau di tengah malam aku terjaga mendadak, menyadari sisi kanan tubuhku -sepanjang jempol kaki, betis, paha, pinggang, punggung, hingga ke bahu dan leher – dijalari rasa nyeri yang tak biasa. Teramat sakit, bahkan sulit untuk digerakkan. Aku tak menganggapnya sebagai kiriman, santet, atau apalah. Kuanggap kedua sisi energi tubuhku sedang tak seimbang. Jadi aku mulai bersila, bermeditasi sejenak. Jika rasa nyeri tak jua menghilang, aku pun bangkit. Melakukan yoga kecil-kecilan atau meditasi jalan. Kadang kupijat sendiri bagian yang sakit. Mencoba membuka titik-titik energi tubuh agar alirannya lancar. Dan, dalam beberapa jam segalanya mulai membaik, nyeri lenyap, tubuh segar, aku lebih sadar.

Di pulau ini, khususnya di desa ini, dunia nyata dan supranatural hidup berdampingan. Yang nyata terus menghidupi yang entah siapa lewat ritual yang tiada habisnya, sejak pagi hingga keesokan paginya. Asap dupa menyala tiada henti, memanggil entah siapa untuk terus berjaga, membuat jagat seimbang. Di sini, roh leluhur dan para penguasa ilmu hitam-putih saling melengkapi. Roh leluhur keluarga A akan menjaga keluarganya terus-menerus, hingga dia menemukan tubuh baru untuk lahir kembali. Atau, dia harus moksa, bersatu dengan pencipta. Si penganut ilmu hitam berupaya meningkatkan kekuatan dengan segala cara. Menjajal siapa saja yang dianggapnya berilmu. Termasuk, menggunakan kemampuannya atas permintaan pihak tertentu dengan imbalan segepok uang, atau pelayanan istimewa. Sedang si dukun putih pun sama. Hanya, lawannya lebih terarah, si balian hitam. Begitu kehidupan di pelihara, begitu alam digerakkan. Aku mirip terjepit di antaranya, pendatang yang tak bertujuan apa-apa.

Mungkin nanti malam tak lagi kuletakkan secangkir air jeruk manis di meja rias. Cukup segelas kopi dan sebotol air putih. Biasanya, kopi dan air akan utuh sampai pagi tiba. Tak ada yang mengusiknya. Pagi ini dengan langkah malas, kumulai ritual membuat satu mug air jeruk manis. Sarapanku. Hanya untuk pagi ini.

Catatan:

balian: dukun, bendesa: kepala desa adat, canang: sesaji berupa bunga, banten: sesaji berupa makanan, kamen: kain mirip jarit, tilem: bulan awal,

Advertisements