Tags

, ,

Ada sebuah pulau yang membuatku berdecak kagum ketika sambang ke Banda Kepulauan. Pulau Ay namanya. Di pulau ini pohon-pohon pala tumbuh menyubur, begitu juga dengan sesayur seperti cabe, sawi, ubi kayu, jagung, dan tanaman lainnya. Padahal di pulau ini tak ada mata air. Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Ay adalah satu di antara enam pulau di Kepulauan Banda yang berpenghuni. Pulau lainnya adalah Neira, Gunung Api, Lonthoir, Hatta, dan Run. Di masa pendudukan Belanda, Ay digunakan sebagai tempat membuang musuh, baik itu mereka yang melawan Belanda secara langsung maupun serdadu Hindia Belanda yang memberontak. Para buangan di Ay dipekerjakan sebagai budak perkebunan pala.

_MG_2540Sisa perbudakan pala ini bisa kita saksikan dari beberapa puing bangunan perkenier yang masih ada. Di antaranya: Welvaren dan Matalenco (kisah perkenier dan sejarahnya dapat dibaca di buku Negeri Pala).

Ada satu pertanyaan yang tercetus menyaksikan betapa perkebunan pala tumbuh subur sejak berabad lalu hingga sekarang, padahal Ay tak punya sumber air. Dari mana makhluk hidup di Ay -baik penduduknya maupun para tanaman- mendapatkan air untuk hidup?

 “Dulu, kami punya satu sumur, satu-satunya sumur di sini walau kalau musim kemarau tiba, sumur kering,” kata Kaur Desa tempatku menginap. Ada juga semacam lubang bawah tanah di Benteng Revengie. Lubang kecil ini mirip tempat penyimpanan air, melimpah di saat hujan namun masih berair di musim kemarau.

Tentu saja lubang di benteng ‘balas dendam’ -diambil dari kata ‘revenge’- tadi tak akan cukup memenuhi kebutuhan minum dan masak penduduk, apalagi untuk menyiram tanaman seperti pala dan sayuran. Nah, sejak masa pendudukan Belanda di abad ke-18, Belanda mewajibkan setiap ruman membuat bak penampungan air. Bak ini ada di setiap rumah, ukurannya besar, bisa 3mx4m,1,5m. Di musim hujan bak-bak ini menampung sebanyak mungkin air. Di musim kemarau, orang menggunakan air di bak untuk mandi, mencuci, memasak, juga menyiram tanaman.

siap-siap mengimpor air ke pulau tetangga

siap-siap mengimpor air ke pulau tetangga

Ketika musim kemarau berkepanjangan, penggunaan air diperhemat hanya untuk minum dan memasak. Mereka mandi memakai air laut, ketika membilas tubuh baru menggunakan air tawar. Demikian pula dengan urusan kakus. Urusan mencuci baju pindah ke pulau lain. Setiap pagi akan ada tiga perahu motor ‘standby’ mengangkut jirigen-jirigen kosong, untuk mengimpor air dari pulau lain, yaitu Neira.

Bagaimana dengan urusan berkebun dan menanam sayur?

Ay dikenal sebagai penyedia sayuran dan buahan bagi Kepulauan Banda. Jangan heran kalau pulau-pulau seperti Lonthoir, Hatta, Run, bahkan Neira bergantung pada Ay untuk memasok sawi, daun ubi, bayam merah, ubi kayu, pepaya, mangga, pisang, dan sebagainya. Pulau-pulau yang memiliki mata air nyaris sulit menumbuhkan beragam tanaman selain pala dan kenari. Belum-belum, kebun mereka dirusak oleh babi hutan, monyet, atau ular. Sedang di Ay hewan pengganggu tersebut di atas tak dapat hidup. Bagaimana mungkin mau hidup jika tak ada air.

Untuk menyiasati ketiadaan sumber air, warga Ay pun mengatur musim bertanamnya. Misalnya mereka mulai membenihkan pala di musim hujan. Begitu juga untuk menanam benih sesayur dan buah. Ketika datang kemarau, tanaman ini dibiarkan hidup tanpa air, di bawah keteduhan pohon kenari. Sayur yang membesar, pohon buahan, juga pala, pisang, ubi kayu, dan jagung hanya berharap pada belas kasih embun dan pohon peneduh untuk menjaga kelembaban. Dengan begitu, warga Ay bertahan hidup selama berabad-abad.

kebun pala di pulau ay

kebun pala di pulau ay

Dulu konon ada sumber air di Ay. Namun ketika penduduk asli Ay dibumihanguskan oleh Belanda, orang sakti di Ay lalu menutup dan menyamarkan sumber air. Harapannya, dapat membunuh pasukan musuh (Belanda). Rupanya musuh lebih pintar. Tak hanya mengerahkan para budak membuat reservoir, tapi juga mengubah pola tanam. Dengan begitu penduduk baru Ay dapat bertahan.

Ada sebuah anggapan di Ay dan juga Run, bahwa kekayaan sebuah keluarga ditentukan oleh seberapa luas penyimpanan air yang mereka punya. Jadi jangan heran kalau mereka hanya tidur di kamar seluas 1,5mx2m, tapi punya bak air seluas 3mx4mx2m. Itulah identitas kekayaan khas Ay dan Run.

Advertisements