Tags

Ketika hendak membayar tiket feri di Gilimanuk, barulah dia sadar uangnya tinggal Rp.46.000 dan beberapa keping recehan lima ratusan. ‘Ah, tapi di depan Pelabuhan Ketapang ada minimarket dengan ATM BCA,’ pikirnya menenangkan diri. Dia tak membawa banyak uang kontan ketika tinggal di desa itu. Selain takut jadi sasaran tuyul -yang memang banyak dipelihara orang di sana- uangnya di bank hanya tersisa beberapa ratus ribu. Jadi dia hanya membekali diri sekedarnya saja selama 40 hari tinggal di pegunungan Bali utara.

Satu jam kemudian, saat feri merapat ke pelabuhan, dia bergegas menuju minimarket. Ingin segera dia mengambil uang tunai, lalu sekedar membeli penganan. Perutnya mencicit, sejak subuh tadi hanya diisi setengah gelas bekas kopi semalam. Kalau ingin balik ke kampungnya, dia harus berangkat pagi-pagi sekali, mengejar angkutan desa menuju kota kecamatan terdekat. Dari kota kecamatan dia akan naik bus kecil menuju Gilimanuk. Begitulah ritme mudiknya sekali sebulan itu.

salah satu gerbong kereta api di stasiun ketapang, banyuwangi

salah satu gerbong kereta api di stasiun ketapang, banyuwangi

Dia mirip tak percaya ketika layar di ATM menyatakan bahwa kartunya tak dapat diproses. Kok aneh? Dia ulang sekali lagi, hingga si petugas supermarket memberitahu mungkin mesin ATM masih rusak (atau kehabisan uang?)

Ini hari Minggu, pikirnya. Bisa jadi tak ada petugas bank yang datang mengecek mesin ATM. Jadi dia keluar dengan gontai, kalah. Dia menuju stasiun kereta api, berharap masih mendapatkan tiket kereta api Probowangi yang menuju Probolinggo. Dia selalu naik Probowangi jika pulang ke kotanya. ‘Kalau tidak salah tiketnya Rp.16.000’, dia mulai menghitung dengan batinnya.

Dia beruntung. Masih ada tiket ke Probolinggo. Tapi harga tiket Rp.18.000. Itu berarti sisa uangnya Rp.22.000. Dia tahu harga bus menuju Surabaya dari Probolinggo Rp.20.000. Tapi dia harus naik angkot dulu menuju terminal. Ongkosnya Rp.5.000 kalau malam. Dia mulai lagi menghitung. Mepet duitnya jika ditambah keping lima ratusan. ‘Aduh!’ keluhnya kesal. Ah, dia ingat, ada sepupunya yang tinggal di Songgon, Rogojampi, 20-an km dari Ketapang. Barangkali dia bisa pinjam uang Rp10-20 ribuan. Lalu diteleponnya sepupunya itu.

“Aku lagi mancing di kota, ikut lomba. Nggak mungkin menemuimu. Bayar lombanya aja lima puluh ribu,” teriak sepupunya. Dia memang meminta sepupunya menemuinya di stasiun, bukan berterusterang kalau dia kepepet dan butuh uang. ‘Ya sudah,’ pikirnya. ‘Nanti aku cari ATM BCA di Probolinggo saja,’ pikirnya. ‘Tapi, kau sampai di Probolinggo hampir jam delapan malam, dan Minggu pula. Kau pun tak tahu di mana ada ATM. Ingat, angkot di kota itu terbatas sampai jam delapan malam,’ bisik pikirannya yang lain. Dia mulai bimbang dan menimbang.

Andai tadi diterimanya ajakan sopir truk yang ditemuinya dalam bus menuju Gilimanuk, pasti selesai soal angkutan ini. Sopir itu berperawakan besar, badan dan lengannya dipenuhi tato. Bagi orang lain, mungkin lelaki itu mengerikan. Tapi dia suka dengan tato, sebuah bentuk apresiasi seni yang indah di tubuh. Oya, mereka tak sempat berkenalan. Dia hanya selalu memasang tampang senyum di bus, kepada siapa saja. Dia amat menikmati kehidupan di pulau dewata,, entah ritual maupun orang-orangnya. Itu yang membuatnya selalu murah senyum, seolah tak ada orang jahat di sini..

“Mau ke mana?” tanya sopir truk itu.

“Surabaya,” jawabnya cepat.

“Mau ikut truk saya,” tanya si sopir. Dia menggeleng. Bukan tak mau. Dia toh pernah menumpang truk sampai Lombok, Sumbawa, dan Flores. Dan para sopir itu amat ramah. Dia hanya ingin cepat sampai rumah. Bepergian dengan truk tak tentu kapan sampainya. Kerap truk-truk mesti berhenti lama di pos timbangan atau kantor polisi, untuk dipungli.

‘Andai aku tadi bilang iya,’ pikirnya mirip menyesal. Pada saat itu matanya menangkap sebuah pengumuman yang dipasang di bagian dalam stasiun, tertempel di baliho kecil. ‘Nikmati perjalanan Surabaya-Probolinggo dengan paket hemat Probowangi sejak 14 Februari 2014.”

‘Apa aku bermimpi?’ pikirnya, ‘apakah Probowangi benar sampai Surabaya?’ Pikirannya menari-nari. Dengan berdebar girang ditanyakannya hal itu kepada petugas di loket tiket. “Benar, tarifnya tiga puluh delapan ribu jika ke Surabaya, Mbak.”

“Kalau gitu, bisa dong saya pesan tiket lagi dari Probolinggo menuju Surabaya, Mbak? Nambah berapa?”

“Dua puluh ribu!”

Tanpa pikir panjang, diangsurkannya lembar Rp.20.000 terakhir miliknya. Kini dia hanya punya Rp.2.000.

Beberapa menit kemudian perutnya mulai kemruyuk. Dia benar-benar lapar. Tubuhnya mulai gemetaran. Air dalam botol yang dibawanya dari desa tak mampu menghentikan rasa lapar. ‘Sial!’ pikirnya. Dititipkannya ranselnya kepada penumpang lain, gadis muda berhijab hitam. Dia hendak ke ATM, mencoba peruntungan. Kali ini ATM bank lain yang disasarnya.

Ada ATM BNI di samping minimarket yang mengecewakan hatinya tadi. ‘Bank pemerintah biasanya lebih bertanggung jawab, tak membiarkan kotak ATM-nya kosong di hari ahad,’ pikirnya. Dia masukkan kartunya, dia berikan no PIN-nya. Tapi kok macet. Ujung-ujungnya keluar tulisan bahwa kartunya telah diblokir. ‘Mati aku,’ umpatnya tertahan.

Dirogohnya kantongnya, dihitungnya keping lima ratusan, disatukannya dengan dua lembar seribuan. Dia menuju warung terdekat, membeli roti sisir merk ‘RAMAYANA’. ‘Semoga mengenyangkan,’ doanya.

Kereta api Probowangi berangkat pukul 12.40, dan diperkirakan sampai Surabaya pukul 21.40. Dia banyak membaca dan membisu di dalam kereta. Sesekali dia membalas SMS seorang kawan yang memintanya menjadi tamu dalam mata kuliah jurnalistik di kampusnya di Malang. ‘Siap Mbak, jam 11.00 aku akan tiba di malang,’ balasnya via SMS menggunakan kartu yang biasa ditancapkannya di modem. Air liurnya terbit tak terkendali saat dilihatnya dua penumpang yang duduk di depannya melahap nasi pecel ‘Garahan’ seharga tiga ribu rupiah sepincuk. Jadi dipalingkannya wajahnya, pura-pura tidur. Satu-satunya harapannya saat itu, kereta api bakal berhenti di Stasiun Wonokromo, sehingga dia hanya butuh berjalan kaki tak lebih 40 menit menuju rumahnya. Tapi…

Sepure gak mandeg nang wonokromo, Mbak, tapi langsung Gubeng. Mboh nek sinyale abang alias ana gangguan,” kata seorang petugas kereta bagian mengangkut sampah. ‘Mati aku,’ lagi-lagi diulangnya kata itu dalam batinnya. Jika itu terjadi, dia harus bermalam di stasiun dan baru pulang keesokan harinya. Bisa batal rencananya ke Malang. Kecuali kalau dia punya sisa tenaga untuk berjalan kaki ke rumah.

Dia punya sahabat, tempatnya berbagi cerita gila dan hal-hal remeh temeh. Sahabatnya, perempuan muda yang bekerja di sebuah perpustakaan kecil di Surabaya. Sahabatnya ini sudah bersuami dan punya anak kecil. Pendidikannya tidak tinggi, tak tamat sekolah menengah. Tapi kemauannya untuk belajar dan membaca begitu kuat. Mereka selalu kontak lewat SMS, terlebih jika dia pulang kampung. Dia cerita kondisinya sambil menambahkan kata ‘Sial aku hehehe.. bakal tidur di stasiun.’

Aduh, aku ga bisa membantumu, Mbak. Bojoku sakit,’ kata sahabatnya. Biasanya, jika berkunjung ke perpustakaan itu, dia akan pulang cengpat, berboncengan empat orang dengan suami dan anak perempuan sahabatnya menggunakan motor suami sahabatnya. Nekad benar, kata teman-temannya.

Probowangi berhenti di Gubeng. Dia putuskan berjalan kaki menuju rumah malam itu. Teringat kepada janjinya untuk datang ke Malang besok. Dia melakukan sugesti diri, harus kuat, harus kuat, harus kuat. ‘Paling tengah malam sampai rumah,’ pikirnya. Di rumah hanya ada ibunya yang mulai sakit-sakitan dan mungkin sedang tak punya uang. Ini kan tanggal tua, 23 Maret. Namun, baru satu langkah kakinya meninggalkan gerbong, HP-nya berdering. Ada panggilan dari kawannya, si pemain band asal Kampung Arab.

“Kujemput ya Mbak, ketemu di pom bensin’.

Alamak, siapa yang memberitahu anak itu. Dia keheranan. Dia jarang mau menceritakan kerepotannya kepada teman-temannya, kecuali benar-benar akrab. Jangan-jangan…

Sebelum pukul sebelas malam dia sampai rumah dengan perut penuh. Temannya menraktirnya makan malam sambil mendiskusikan calon novel berlatar Orang Arab perantauan di Nusantara. Hah, ada berapa novel yang mengangkat kaum imigran Timur-Tengah di negeri ini? Nyaris tak ada. Malam itu, dia terlelap tanpa mimpi, dan terbangun keesokan paginya untuk bersiap ke Malang. Hidup memang tak bisa diduga, sesuai amal perbuatan alias karma masing-masing orang.

Advertisements