Tags

,


Di Banda Neira, seorang bocah menyadari jika hendak berkomunikasi dengan sebayanya, orangtuanya, atau penduduk yang tinggal di pulaunya, dia cukup menggunakan bahasa lokal. ‘Panei mo pigi mana?’ akan dia gunakan untuk menanyakan arah tujuan seseorang. Namun si bocah segera berbahasa Indonesia jika berada di kelas, berbicara dengan gurunya, atau berbicara dengan dokter atau orang asing -bukan Orang Banda- yang baru pindah ke pulau itu. Sebaliknya, bocah akan menyapa, ‘Hi Mister, hawayu?’ jika bersua dengan turis-turis berambut merah. Si bocah tahu persis kegunaan ketiga bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari.

sebuah SD di Bandaneira

sebuah SD di Bandaneira

Bocah di daerah wisata Bali pun menggunakan tiga bahasa -bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris- untuk hal-hal yang berbeda. Mereka berbahasa Bali dengan orangtua, kawan sebaya asli Bali. Sebaliknya mereka berbahasa Indonesia di dalam kelas, atau saat bertemu bukan orang Bali. Jika bersua turis, mereka akan menirukan bahasa para pemandu wisata, ‘Morning mister, hawayu, thengkyu’. Beberapa bocah yang suka main playstation atau videogame tak jarang menanyakan lafal kata sekaligus arti tulisan di judul kaset PS atau video yang mereka mainkan.

Dua contoh di atas menunjukkan betapa perlunya memperkenalkan tiga bahasa kepada anak-anak.

Di sebuah kampung di Kepulauan Madura, pernah saya jumpai warganya fasih berbahasa Arab di samping bahasa Madura. Namun mereka hanya sepatah-dua patah kata berbahasa Indonesia. Penduduk kampung yang tua usia memahami bahasa Indonesia meskipun nyaris tak pernah menggunakannya untuk berkomunikasi. Hal yang sama saya jumpai di pelosok Aceh.

Seorang kawan keturunan Tionghoa di Jogjakarta malah memiliki anak-anak yang menguasai empat bahasa. Bahasa Mandarin sebagai bahasa leluhur dan dipergunakan untuk berkomunikasi dengan sesama kerabat Tionghoa, bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan anak-anak sebaya di sekolah maupun tetangga, lalu Bahasa Indonesia dan Inggris. Si kawan memang membiasakan anak-anaknya dengan buku-buku cerita dan komik berbahasa Inggris sekaligus tontonan teve program bahasa Inggris.

Apakah anak-anakmu nggak mumet?” tanya saya kepadanya suatu waktu.

Mungkin juga. Tapi mereka belajar bahasa bukan untuk dihafal, mereka menggunakannya sesuai kebutuhan. Dan aku tak mencekokinya dengan teori-teori bahasa seperti tata bahasa, dan lainnya.” Jawabannya membuat saya berpikir kencang.

Ketika bersua Dr Ouda Teda di suatu sore di Kotabharu Jogjakarta, tahulah saya maksud kawan saya di atas. Pak Ouda, pengajar Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma ini merasa resah, prihatin, dengan musnahnya bahasa-bahasa Nusantara. “Sekarang susah lho nemu anak Jogja yang bisa kromo inggil,” keluhnya. Langkanya anak Jawa bisa berbahasa kromo ini membuat Sultan HB X mewajibkan SD menerapkan pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal.

Ada kisah lucu, ketika kawan Pak Ouda membuka dua kursus -Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa- lebih banyak murid bahasa jawanya. Kok bisa? “Mungkin karena orangtuanya malu punya anak tak bisa berbahasa Jawa,’ jawabnya.

Berdasar kondisi di atas, Pak Ouda tidak tanggung-tanggung menyarankan agar anak usia SD diajar tiga bahasa -trilingual education- sekaligus, bahasa lokal daerah tersebut, bahasa Indonesia, sekaligus Inggris.

Apa tidak memberatkan?” tanya saya. Saya dengar, berdasar kurikulum 2013, pengajaran Bahasa Inggris ditiadakan untuk anak SD. Padahal pada kurikulum sebelumnya, Bahasa Inggris wajib diajarkan.

‘Tidak, asal materinya diberikan secara bersamaan dan yang diajarkan erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.” Wah, pengajar teater Universitas Sadhar ini membuat saya kembali manggut-manggut.

Dia lalu memberi contoh mengapa pengajaran bahasa kerap tidak mencapai sasaran.

Dalam pengajaran Bahasa Indonesia misalnya, biasa dimulai dengan:

Ini Budi

Ini Ibu Budi

Ini Wati

Pertanyaannya, siapa Budi, Ibu Budi, atau Wati? Sama sekali tak ada hubungannya dengan dunia si anak. Mending pengajaran dimulai dengan perkenalan :

Selamat pagi,

Perkenalkan nama saya …

Nama kamu siapa?

Saya tinggal di ..

Rumahmu di mana?

Materi seperti ini lebih muda ditangkap murid ketimbang materi hafalan ‘Ini Budi’ dst tadi

Dalam pengajaran Bahasa Daerah (Jawa), kerap dituliskan:

kembang tebu jenenge manggar

anak wedhus jenenge cempe

Jika si anak tinggal di desa, mungkin dia tahu bentuk kembang tebu, anak anak wedhus. Tapi anak kota? Atau anak-anak yang jauh dari perkebunan tebu dan wilayah peternakan? Mungkin mereka hanya tahu bentuk gula dan sate kambing. Jelas materi pengajaran seperti ini sia-sia, tidak mengenai sasaran.

Lantas, bagaimana trilingual education ini harus diajarkan secara bersamaan?

Contoh paling gampang pada sesi perkenalan, dituliskan:

sugeng enjang – pripun kabare

selamat pagi – apa kabar

good morning -how are you

dan seterusnya.

Terkesan membingungkan? Selama ketiganya disampaikan secara bersamaan, dan merupakan bahasa sehari-hari, tidaklah sulit untuk diajarkan. Apalagi usia SD merupakan usia keemasan untuk menyerap bahasa baru. Tentu saja semua harus disesuaikan dengan kebutuhan sebuah daerah.

Catatan:

Selama bulan April saya akan lebih banyak menulis tentang hal ikhwal pendidikan di Indonesia.

Baca juga artikel Pendidikan SD yang Manusiawi.