Tags

,


Seorang guru SD di Batam mengeluh. Dia sedang mengajar anak didiknya menggambar. Tapi, betapa herannya ketika mayoritas anak didiknya menggambar dua gunung yang mengapit matahari. “Di Batam kan tidak ada gunung. Adanya pantai. Kenapa kalian menggambar gunung?” Dia keheranan. Lalu seorang anak menunjukkan gambar gunung, sawah, di buku pengantar kesenian mereka.

Era Pak Tino Sidin rupanya masih hidup. Memang benar acara menggambar yang diasuh Pak Tino Sidin di teve sudah puluhan tahun berlalu. Namun model pemandangan matahari diapit gunung dengan sawah di depannya terpatri di otak anak-anak lebih lama, 2 abad. Mungkin itu gambaran Indonesia secara umum, tak peduli anak hidup di kota tanpa gunung, di pantai dengan matahari merah dan ikan, atau di tempat lainnya. Pendidikan lebih banyak memberikan ilusi ketimbang kenyataan. Pendidikan di Indonesia cenderung menyederhanakan masalah, bukannya membuat anak sebagai ‘problem solver’. Seorang pakar pendidikan pernah menyatakan hal ini.

bermain di pasir

bermain di pasir

Pendidikan ilusi ini kemudian malah dilegalkan pemerintah lewat kurikulum, di antaranya kurikulum kesenian seperti contoh di atas. Guru takluk pada kurikulum, terlebih sejak diberlakukannya sertifikasi yang kemudian dalam penerapannya tak lebih dari jual beli. Berani bayar berapa untuk lulus sertifikasi?

Kawan saya yang pelukis sekaligus pengajar, Si Ouda, berkisah tentang pengalamannya mengajar menggambar pada anak-anak. Dia meletakkan sebuah benda di atas meja, di atasnya lampu menyinari. Si anak diminta mengamati benda itu dengan cermat, mana bagian yang lebih gelap, mana yang lebih terang, warna yang lebih terang apa saja, apa mengandung kuning atau putih. Begitu juga bagian yang lebih gelap. Warna merah misalnya tak harus diwarnai sekedar merah, tapi dicampur warna lain agar menyerupai warna aslinya.

“Lama-lama, gambar anak yang kuajar jadi lebih bagus dan hidup. Dia juga jadi pengamat yang detil dalam kehidupan sehari-hari,” tutur kawan tersebut.

Di sebuah kelas di SD, para murid wajib membawa sabun batangan. Guru kesenian lalu memerintahkan para murid membuat sebuah benda yang dikenalnya menggunakan sabun itu. Tak ada model nyata di dalam kelas, hanya serangkaian perintah. Murid pun berimajinasi, mengingat benda yang dikenalnya. Pengenalan bentuk lewat patung jelas gagal. Harusnya murid diajak meraba sebuah benda, lalu belajar meniru bentuk benda itu dengan sabun yang mereka bawa. Bukannya memperlakukan murid mirip pematung ahli yang sudah mampu mengurai imajinasi ke bentuk tertentu. Ini yang banyak terjadi.

Seorang guru tari mulai memperkenalkan tari dengan mengajak siswa-siswanya menonton pertunjukan tari. Dia akan melihat mana murid yang berminat menari mana yang cuma suka meniru bunyi. Itu idealnya. Bukannya memberikan buku aneka tari di Indonesia, berisi nama tari dan asal daerah tari tersebut. Lalu meminta para murid menghafalnya.

Pada pendidikan seni bebas, usai memberikan berbagai pengantar seni kepada para murid -baik menggambar, mengukir, menyanyi, membuat kerajinan tertentu- maka para murid kemudian diminta membuat karya tertentu. Murid lalu diminta mempresentasikan karyanya, berkisah tentang judul karyanya, mengapa dia memilih bentu menggambar misalnya, adakah tokoh pelukis yang dikaguminya, dan sebagainya.

Sebagai contoh, Sigi menunjukkan gambarnya tentang si hero Spiderman. Lalu inilah jawabannya:

‘Aku pilih Spiderman setelah menonton film Spiderman di komputer kakakku. Aku suka spiderman karena bisa meloncat-loncat di antara gedung bertingkat. Rumahku di tingkat tiga sebuah apartemen. Setiap sore aku suka melihat pemandangan dari jendela rumah, membayangkan diriku meloncat-loncat dari satu apartemen ke apartemen lain. Ada teman baikku yang tinggal di apartemen tetangga. Kalau jadi spiderman aku tinggal meloncat sekali saja, nggak perlu turun tangga tiga tingkat lalu naik tangga lagi ke rumah dia. Capek rasanya.”

Begitulah pelajaran seni seharusnya diadakan. Membuat seseorang dapat mengekspresikan dirinya, entah perasaan, pikiran, atau apapun. Tak peduli apakah karya seni seorang anak buruk atau tak mewujud, yang penting dia tahu alasan membuat karya itu dan tahu makna seni yang dibuatnya. Dengan cara ini, diharapkan kemudian hari si anak bebas berekspresi, mengeluarkan idenya lewat jalan yang seharusnya, bukannya berbuat anarkhi atau melakukan tindak kejahatan.

Catatan

Baca juga ‘Pendidikan SD yang Manusiawi’