Tags

,

Medio 2008. Ada duapuluhan pasien, duduk di bangku-bangku plastik menunggu berbincang dengan Chris K.H Theo. Dia bukan dokter tentunya. Gelarnya doktor, dulu pernah mengajar dan juga meneliti di Jurusan Botani, USM Penang. Bersama dengan seorang peneliti di Indonesia, dia mengembangkan pengobatan alternatif kanker berbahan baku keladi tikus. Pengalaman kehilangan anak karena kanker, disusul istrinya yang mengidap kanker, mendorong Theo membuka klinik kanker untuk umum, sebagai pengobatan alternatif penyakit kanker.

foto doktor Chris Theo, sumber: cacare.org

foto doktor Chris Theo, sumber: cacare.org

Seorang kawan chatting -waktu itu Mirc- memberitahuku tentang Theo dan klinik kankernya, CA Care di Penang. Jadi aku menuju ke sana setelah dokter yang melakukan pengangkatan benjolan di perutku ogah membuka jahitan bekas operasi, karena dari pemeriksaan lab aku positif terkena kanker.

Waktu itu setiap pasien yang baru datang akan menuju meja yang terbentang memanjang searah pintu. Di sana berdiri 2-3 relawan yang siap membantu. Mereka, istri Theo, dan beberapa penyintas kanker. Setiap pasien akan disodori kertas untuk diisi. Dia juga harus membubuhkan namanya di sebuah daftar.

Di ujung ruangan, sejajar dengan meja resepsionis -sekaligus meja obat- ada sebuah teve. Teve itu menyiarkan makanan apa saja yang pantang disantap penderita kanker. Sekilas kulirik, cabai diberi tanda X artinya pantang dimakan. Rambutan juga X. Lalu durian, dan beberapa buah beraoma keras, termasuk nanas dan mangga. Aku menelan ludah.

Lalu makanan apa saja yang boleh disantap? Ada garam yang langsung diolah dari air laut -bukan garam pabrikan alias yang dilabeli beryodium- dan berbentuk butiran kasar, lalu minyak zaitun -minyak kelapa atau sawit yang dijual di toko rupanya dilarang- serta gandum, beras merah -beras putih dilarang- dan masih banyak pernik lainnya. Aku menelan ludah lagi. Terlalu banyak larangan.

sumber gambar: theresviewscience.wordpress.com

sumber gambar: theresviewscience.wordpress.com

Hari itu minggu ketiga usai operasi pengangkatan benjolan. Benjolan mirip tumor di kanan perut itu sebesar buah sawo, dokter menolak membuka jahitanku. Dokter bilang aku harus berobat ke dokter onkologi, agar penyakitku tertanggulangi. Aku hanya mengiyakan, sambil mencari alternatif lain. Klinik kanker milik doktor Theo di Penang ini salah satu alternatifnya.

Sambil menunggu aku melihat bagaimana para pasien datang. Ada seorang lelaki yang disertai anak dan istrinya. Rupanya dia tinggal di sebuah kota di Pulau Sumatra. Dia terlihat bugar. Entah kanker jenis apa yang dideritanya. Dahinya mengerut tajam saat disebutkan tak boleh makan roti, keju, daging, juga aneka makanan pabrikan maupun instan yang tersedia di supermarket. “Diet besar-besaran, dong!” serunya kecewa. Sementara istri dan anak perempuannya menatapnya tajam, seolah mengancam ‘Awas kalau Papa nggak nurut!”

Satu per satu pasien dipanggil, diwawancarai mulai apa saja gejala yang mereka rasakan, menderita insomnia tidak, sakit di bagian tubuh tertentu, hingga anjuran untuk berpantang memakan banyak makanan. Tiba-tiba pintu terkuak, seorang perempuan berumur 30-an masuk dipapah dua kawannya. Tubuhnya benar-benar binarangka, wajahnya tirus, dan pandangannya mirip orang menangis. Pasien berat, kupikir. Namun aku tak berani mendekatinya, apalagi menanyainya. Takut mengganggu.

Ketika kuliha arloji, kutahu aku tak bisa menunggu lebih lama. Aku harus bekerja sore itu, giliran shift malam di pabrikku. Jadi kukatakan kepada seorang sukarelawan bahwa aku harus pergi. Dia menahanku, berjanji akan menyegerakan giliranku. Aku dipanggil doktor Theo kemudian, ditanya mirip pertanyaan yang harus kuisi dalam lembar-lembar online di cacare.org. Dia juga menyuruhku meninggalkan segala jajanan olahan. Krakers, susu formula, gula, garam buatan pabrik, aneka buah keras, daging, minyak goreng pabrikan, dan masih banyak lagi. Dia lalu memberi resep yang harus kutebus di meja resepsionis.

Aku terlalu serakah hari itu. Memesan resep untuk sebulan penuh, bukannya 1-2 minggu. Ada teh mirip ramuan obat China, dan rebusan yang lain. Total kuhabiskan 300 ringgit. Kubayar semua. Kurogoh kantongku dan menyisakan 20 ringgit, cukup buat bea dua kali naik bus menuju hostel tempatku tinggal.

Kelak, hanya 3 minggu aku tahan menenggak semua ramuan itu. Aku tak kembali ke klinik kanker itu lagi. Aku memilih pengobatan herbal yang lain. Kau tahu, merebus aneka ramuan dan meminumnya butuh waktu lama dan kedisiplinan yang tinggi. Hal mustahal kupenuhi di sela 14 jam hariku tersita bekerja di pabrik. Andai aku hanya berdiam di rumah, tentu itu mudah kupenuhi. Delapan bulan kemudian aku benar-benar menjalani operasi kanker. Ramuan dan obat herbal itu memang tidak menyembuhkan kankerku. Namun obat-obat alternatif ini terbukti meningkatkan kekebalan tubuhku sehingga aku masih kuat bekerja 14 jam sehari, 28 hari sebulan, walau benjolan di perutku terus membesar. Tentu aku mengeluarkan bea cukup besar untuk pengobatan alternatif ini, karena tak ditanggung pabrikku. Namun aku tak merasa rugi. Ada pengalaman, ada usaha, dan akhirnya menghasilkan kesembuhan.

Advertisements