Tags


Belum pukul tujuh pagi ketika Enief dan saya turun dari bemo lyn D, bergegas mengelilingi areal Pasar Pagi Tugu Pahlawan (TP) dari perempatan Jalan Tembaan menuju Jalan Bubutan. Hari itu saya ingin membawa Enif -kawan asal Betawi- mengelilingi pasar kaget di areal sekitar TP. Inilah pasar rakyat, pasar kaum jelata alias marjinal yang hanya ada setiap Minggu, sedari pukul 06.00 hingga 10.00. Pasar yang menjual segala jenis barang, mulai sandang baru-bekas, permainan bocah, asesoris, barang elektronik bekas, hewan peliharaan mirip burung, tupai, iguano, mencit, belalang, dan masih banyak lagi.

suasana pasar Tugu Pahlawan

suasana pasar Tugu Pahlawan

Sering saya membawa kawan yang berkunjung ke Surabaya untuk mampir di pasar pagi TP. Sekedar pamer, ‘Ini lho ciri khas Surabaya yang lain’. Memang di daerah lain ada pasar mirip TP, tapi mungkin nggak seheboh TP. Apalagi di sini kita bisa ‘hunting’ banyak foto. Tak sekedar motret transaksi jual beli di pasar, tapi juga bangunan tua di jalan-jalan sekitarnya seperti Jalan Gula, Jalan Coklat, Jalan Kembang Jepun dan sebagainya. Kita juga bisa berburu barang bekas ‘sulit dicari’ di bagian lain pasar, hanya beberapa puluh meter dari areal pasar TP, misalnya di Jalan Stasiun Kota dan Jalan Bongkaran.

Hari itu saya berencana berburu wadah kosmetik bekas, buat wadah krim cocoa butter yang sedang saya ujicoba produksi. Setahu saya, tak banyak orang yang suka menyampah wadah kosmetik. Begitu kosmetiknya habis, wadah pun masuk keranjang sampah. Maka saya hendak berburu ke pasar-pasar semacam ini. Siapa tahu dapat.

baju Rp5000-an selembar

baju Rp5000-an selembar

“Kayaknya nggak ada di sini, ini sih tempat barang baru,” tegur Enif. Kami sedang melihat-lihat lapak yang digelar sepanjang Kantor Pos Besar. Memang, barang bekas yang digelar di sana lebih berupa baju bekas karungan, onderrdil mesin seperti tang, obeng, dan cuilan barang-barang elektronik. Kami pun berjalan bablas, tak membelok ke arah Jalan Stasiun Kota. Justru kami berbelok ke kanan menuju jalan kecil di belakang Jalan Veteran. Jalan Sulung namanya. Di sini lebih menarik barangnya. Melulu baju bekas dalam karungan yang sebagian masih serupa baru.

Terlalu banyak melihat menimbulkan hasrat memegang. Ada beberapa baju itu terlihat elok dipakai. Setelah itu terbit hasrat menawar. “Lima ribu ya, Mas. Apa? Sepuluh? Enggak ah!” Begitu gaya kami memutari arela lapak baju bekas tadi. Memang tak berniat membeli. Sekedar iseng melihat.

mau numpang truk ke bali, lombok, sumbawa, flores? di sini tempatnya :D

mau numpang truk ke bali, lombok, sumbawa, flores? di sini tempatnya 😀

Saya lalu berhenti di bagian tengah Jalan Sulung, memandangi deretan truk-truk besar yang diparkir memanjang. Di sana memang menjadi salah satu pusat beberapa ekspedisi pengiriman barang, selain di Jalan Pelabuhan dekat Dermaga Tanjung Perak. Saya lihat beberapa truk yang diparkir mengambil tujuan Bali, Lombok, dan Sumbawa.

“Kalau mau keliling Indonesia Timur gratis, bisa numpang truk-truk ini,” saya bilang kepada Enif. Dia hanya nyengir. Saya sendiri berencana ke Sumbawa naik salah satu truk nanti. Cuma berbekal uang rokok dan tahan ngobrol sepanjang jalan.

drum dan jirigen bekas

drum dan jirigen bekas

Ketika barisan truk berakhir, tampaklah deretan tong-tong plastik bekas, jirigen, dan drum-drus plasik bekas. Teringat saya ketika membeli bahan pupuk buat seorang kawan, saya mesti membeli drum plastik berukuran 200 liter seharga Rp170.000. ‘Di sini tentu lebih murah,’ pikir saya.

Kami lalu menyeberangi sungai, meniti sebuah jembatan aspal. Dari sana kembali kami memasuki jalan kecil yang dipenuhi oleh lapak-lapak baju bekas. Jalan Stasiun Kali, namanya. ‘Beli nggak ya?’ hati saya mulai bimbang. Saya butuh satu hem putih untuk keperluan mengajar sesekali. Hem putih juga wajib saya kenakan saat retreat meditasi, atau mengikuti ritual yang memaksa saya memasuki pura-pura di Bali. Iseng saya dekati sebuah lapak yang menjajar hem-hem putih di satu baris.

botol-botol parfum bekas

botol-botol parfum bekas

“Pintenan buk klambine niki?” tanya saya dalam bahasa Suroboyoan medok.

“Limang ewuan,” jawab si penjual.

Tanpa pikir panjang, saya raih dua baju lengan panjang. Mirip baru, warnanya pun mengkilat tanpa pudar. Ternyata saya tak sendiri. Enif pun dapat buruan sebuah kaos hitam keren dengan harga sama. Keren tak harus mahal ternyata!

Keluar dari gang, menyeberang Jalan Stasiun Kota, sampailah saya di gugusan lapak pengepul barang bekas seperti botol mineral plastik, jirigen, botol beling meniman bermerk, parfum, dll. Lalu memasuki Jalan Bongkaran, saya temukan lapak penjual wadah kosmetik bekas. Sayang harganya kemahalan. Biasanya mereka membeli dari para pemulung dengan harga per-kilogram. Tapi mereka menjual dengan harga satuan Rp.1000. ‘Wah, ogah. Mending lihat-lihat dulu,’ pikir saya. Apalagi saya masih harus mencuci dan memperbaiki tampilan wadah bekas itu.

Enif menikmati bangunan tua

Enif menikmati bangunan tua

Lepas dari Jalan Bongkaran, kami lalu lebih memusatkan perhatian pada bangunan kuno di sekitarnya. Di sekitar Jalan Gula, Jalan Coklat, juga Jalan Kembang Jepun. Terus saja berjalan meski perut ndangdutan minta diisi. Tiba di tepi sungai, saya lalu mengajak Enif berhenti di sebuah warung kopi sambil bernostalgia. “Di sini dulu saya pernah menangani kasus penculikan bayi kembar. Waktu itu saya masih kerja di JP,” pamer saya.

Iseng saya tanya kepada si Mbok penjual apakah ada yang punya bayi kembar dan diculik di situ. “Ooh.. itu tetangga saya, Mbak. Di sana tempatnya,” jawabnya jujur. Olala.. mirip bermimpi rasanya, menelusuri kembali secuil peristiwa masa lalu. “Niku penculike guoblok. Nyolong bayi kok loro-lorone, nggih ketemon. Gara-gara bayi sijine nangis, terus sing sijine nangis pisan. Nek nyolong bayi siji malih lak mbotek ketemon.” Benar juga, penculiknya terlalu rakus.

andai bisa dicungkil dan dipasang di rumah

andai bisa dicungkil dan dipasang di rumah

Usai ngopi panas dan makan tahu petis plus brownies gandum kiriman Ninok, kami meneruskan perjalanan. Kali ini berjalan kaki ke arah BG Junction. Saya ingin membeli beberapa benang rajutan buat celana pendek pesanan teman-teman. Sayang Toko Kurnia yang dituju sedang tutup. Akhirnya kami minum es degan di Jalan Blauran. Kisah menyusuri Pasar Pagi TP pun berakhir tepat tengah hari.