Tags


Saya mirip terkena efek ‘rexona’ jika melihat manusia-manusia bertato. Berseberangan dengan pendapat manusia Jaman Suharto bahwa tato identik dengan para gali, korak, napi, penghuni lapas sebelum neraka, saya justru melihat merekalah sejatinya manusia berjiwa seni. Manusia yang mengijinkan tubuhnya buat digambari secara permanen. Manusia cantik, dan penghamba keindahan.

tato 'salib' si Jo

tato ‘salib’ si Jo

Di Desa Munduk, pegunungan Bali Utara, saya kerap terbawa aroma menghunus dada tatkala melihat anak-anak muda anggota Sanggar Tripittakan yang megamel, bermain gamelan, memenuhi tubuhnya dengan tato. Tak hanya di sekujur tangan, tapi juga tungkai, lengan, dada, punggung. Sayang belum ada yang menato batok kepalanya. Tapi tetaplah aduhai. Sungguh!

‘Tato itu mirip candu, sekali pernah merasakan tato biasanya orang ingin tubuhnya ditato lagi, lagi, dan lagi,” kata Pak Panca, tukang tato di Munduk suatu hari. Ah, masa iya sih?

Saya lirik para pegawai Don Biyu, restoran milik teman, hampir semua bertato. Yang laki maupun perempuan. Bahkan pegawai kelas ‘piyik’ sekalipun, yang umurnya baru belasan dan tampak pemalu, ragu-ragu, dan penuh ketakutan. Tato mirip identitas diri. Semacam KTP. Ah jadi ingat tato ala Mentawai yang berfungsi sebagai penanda suatu klan, KTP juga

yang ditato pak panca, tukang tato asal Munduk

yang ditato pak panca, tukang tato asal Munduk

“Belum bisa disebut orang Munduk kalau belum ditato,” dengan gaya santai, saya lontarkan gurau itu kepada Jo, kawan yang berkunjung ke Munduk Januari 2014. Entah dianggap tantangan atau memang sedang ingin, Si Jo pun minta ditato oleh Pak Panca. Motifnya, sebuah salib di punggung, tepat di bawah leher, yang diselubungi ornamen khas Bali.

“Tidak sakit kok,” kata Jo sambil nyengir saat saya heboh menakut-nakutinya.

“Saya juga mau ditato Pak, nanti. Kecil saja, di pipi,” iseng saya bilang ke Pak Panca. Erlin, kawan saya, berteriak penuh ancaman. “Benar di pipi? Biar saya yang tanggung ongkosnya.”

Pak Panca yang sudah lebih 30 tahun itu hanya tersenyum. Saya amati dinamo yang dipijak-pijaknya untuk menggerakkan jarum di tangan. Pak Panca memang menato menggunakan mesin. Sekali tusuk, beberapa jarum langsung nungging ke kulit. Jadi tato bergambar pun cepat jadi.

tangan bertato, tetaplah welas asih

tangan bertato, tetaplah welas asih

Secara umum ada tiga jenis cara menato, dengan merobek, menusuk, atau menggunakan mesin. Cara merobek bisa seperti yang dilakukan tato ala Mentawai atau menjahit menggunakan benang, menusuk dilakukan secara manual dengan menusuk jarum berkali-kali menggunakan tangan biasa. Tato mesin seperti yang dilakukan Pak Panca tadi.

Sayangnya saya masih belum menemukan motif tato di pipi, malah keburu balik Surabaya untuk berbagi ilmu. Untung kemudian bersua Richard, mahasiswa kedokteran hewan yang sempat unjuk menato di C2O. Iseng saya tanya, mau nggak nato saya. “Kecil saja, gambar swastika,” pinta saya.

‘Kenapa gambar swastika, itu kan logo Nazi,” komentar seorang kawan.

swastika itu

swastika itu

“Lha Nazi kan cuma nyomot salah satu lambang Hinduisme,” elak saya. Swastika dalam Hindu melambangkan keseimbangan. Saya mau ditato gambar-gambar bermakna positif dan harus di kepala. Biar isi kepala saya seimbang, antara logika dan ilusi. Mungkin itu harapan bawah sadar saya.

Rabu kemarin Richard datang ke C2O library lengkap dengan peralatan tatonya. “Mau ditato di mana?” tanyanya. Saya tunjukkan kepala bagian belakang, di samping telinga kanan.

“Kenapa di situ?” Ya, kenapa di situ, bukan di pipi saja? Ah, nanti saya bakal jadi pusat perhatian kalau naik kereta api ekonomi, pikir saya. Pakai tindik tiga, walau hanya satu yang beranting saja, kerap saya dianggap nyeleneh.

Jadi begitulah. Richard mengeluarkan jarum tato yang baru. Mengambil sedikit tinta hitam, membersihkan bagian kulit kepala yang bakal ditato, dan.. acara pijat refleksi, eh tato refleksi pun dimulai. Tak sampai 10 menit saya rasakan gatal campur geli dan pedih, mirip tusuk jarum saja. Menyerupai ujung-ujung saraf kita dipencet lalu mengirimkan reaksi ke titik sakit. Nikmat. Sayang hanya sepuluh menit.

“Jangan kena air selama minimal empat hari, sampai kulit matinya ngelontok,” kata Richard.

“Oke,” jawab saya. ‘Oya, jangan kapok kalau setelah ini saya minta tato lagi. Sensasinya itu bikin kecanduan.” Tapi saya cuma mau ditato gambar kecil-kecil, lambang sesuatu dan bermakna dalam. Baru saya sadari sekarang bahwa tato itu candu. Tiba-tiba saja saya teringat Dewi Laksmi, yang dahinya dilalui goresan tato lambang keindahan.

Salam kecanduan,