Tags

, , ,


“Kalau sambang ke Munduk, setiap pagi saya ke pasar. Beli tepeng. Penjualnya sudah tua, sudah jualan sejak saya masih SD. Tepengnya enak luar biasa,” begitu tutur Kadek Widari, adik kawanku, saat kami menginap di rumahnya. Kadek tinggal di kawasan Renon, Denpasar.

Ketika tinggal di rumah kawan, aku pun tergoda merasakan nikmatnya tepeng buatan si nenek. Dadong Sandri, begitu nama si penjual. Kutaksir umurnya lebih tujuh puluh, mungkin malah mendekati delapan puluh. Namun itu tak menghentikannya dari berjualan di dalam pasar.

Dadong Sandri sedang melayani pembeli tepeng

Dadong Sandri sedang melayani pembeli tepeng

Lapaknya sempit saja. Tak sampai satu setengah meter persegi. Berdampingan dengan lapak penjual sayur dan buah, diapit oleh penjual makanan tradisional lainnya. Dia berdiri terbongkok-bongkok di depan meja bertabur panci dan baskom yang isinya bubur putih, santan, sayur, ada juga piring berisi gorengan kacang kedelai, srundeng kelapa, dan sambal.

Aku tak tahu apakah dia dapat berbahasa Indonesia. Suaranya lirih. Jadi kuacungkan satu jari ketika memesan sebuah tepeng. Dadong atau nenek di sampingnya yang menerjemahkan pesananku kepada si Dadong Sandri dalam bahasa setempat. Semisal aku ingin pedas, banyak kuah, dan sebagainya.

Yang disebut tepeng itu sejenis bubur putih, dilabur sayur campur tempe, gorengan kacang kedelai, srundeng, sedikit daging kadang, dan kuah berasa asin serta sambal. Rasanya ‘nyus’, sedap tak terkira. Aku langsung menyukainya sejak suapan pertama. Jika kita ingin makan di rumah, si Dadong akan membungkusnya dengan daun pisang berlapir kertas koran.

tepeng itu..

tepeng itu..

Di dalam pasar itu kulihat dua penjual tepeng. Di luar pasar, dalam warung-warung makan kecil, ada juga yang menyediakan tepeng di samping kupat soto dan kupat sayur. Harganya berkisar antara tiga ribu rupiah hingga lima ribu dengan porsi melar.

Beberapa kali membeli tepeng buatannya, membuat si Dadong ingat wajahku. Ketika bersua di tengah jalan suatu siang, kutepuk punggungnya. Dia menoleh, tersenyum lebar. Tampak beberapa geliginya masih utuh. “Dadong tak jual besok dan besoknya, ke pura.” Rupanya dia bisa juga berbahasa Indonesia, meski terpatah-patah.

Kawan bule cenikku, si Merchedez Chavieli, selalu menyebut nama Dadong Sandri tiap kali kami membicarakan Munduk. Ingatannya akan nenek perkasa yang pintar membuat bubur enak begitu lekat. Mbok Luh, yang biasa membantu pekerjaan rumah tangga kawanku, sekali menyebutnya penuh kekaguman.

“Hebat sekali Dadong Sandri. Pukul satu malam sudah bangun untuk memasak sayur, membuat bubur, agar bisa dijual di pasar pagi-pagi sekali.”

“Dibantu anaknya, kan Mbok?”

“Enggak, Dadong tinggal sendiri. Nggak mau dia tinggal sama anaknya. Nggak mau juga disuruh berhenti bekerja. Katanya masih bisa mencari duit sendiri.”

Mendengar kisah Mbok Luh, aku lalu teringat emak di rumah. Di usianya yang 67 tahun, dia ngotot mencuci, setrika, dan memasak sendiri. Kalau badannya sakit, dia lawan dengan bekerja atau jalan-jalan usai shalat Subuh. Kubiarkan saja apa mau emak. Melarangnya bagiku sama saja dengan mempercepat kematiannya. Kalau dia hendak ke luar rumah, bertemu teman-temannya atau ke luar kota, ikut latihan pernafasan, kufasilitasi saja. Udzur tak bermakna tak mampu berbuat apa-apa. Kini di hadapanku menjulang Dadong Sandri yang ringkih namun perkasa semangat hidupnya. Aku jadi maklum.

Suatu pagi aku membeli tiga bungkus tepeng di warung yang jaraknya 300 meter dari rumah. Mulanya aku hendak membeli sebungkus, namun si penjual -entah pekak atau hendak menilep- memberiku tiga bungkus. Iseng kutawarkan tepeng tersebut kepada kawan di dapur restoran, termasuk Mbok Luh. Tak ada yang menerima.

“Saya cuma suka tepeng buatan Dadong Sandri,” kata Mbok Luh. “Pas bumbunya.” Dengan gusar akhirnya kuberikan dua bungkus tepeng yang kemudian basi kepada ayam Mang Abon. Sedih rasanya membuang duit enam ribu sia-sia. Sejak itu, aku bertekad tak lagi datang ke warung ‘pekok’ untuk pesan makanan. Selalu salah persepsi dan menilep. Dulu beli gado-gado sebungkus diberi dua bungkus, kini soal tepeng.

“Dadong Sandri memang hebat ya Mbok. Sejak kapan dia jualan tepeng?” tanyaku ingin tahu.

“Mbok sendiri kurang tahu. Mungkin sejak gadis.”

“Wah.. kalau benar begitu, sudah kaya dia sekarang.”

“Harusnya begitu. Beberapa waktu lalu ada yang mencuri tabungan dadong Sandri di rumahnya. Duitnya dua puluh juta amblas, juga perhiasan emasnya.”

Aku terperangah. “Yang benar, Mbok?”

“Benar. Dia sampai nangis-nangis. Tetangga banyak yang kasihan. Kok tega si maling mengambil duit nenek-nenek yang kerjanya jualan tepeng. Nggak punya peri kemanusiaan itu.”

“Apa Dadong orangnya pelit?” Aku sungguh takjub.

“Enggak. Dulu, kalau pulang dari pasar, dia selalu memberi Rima sisa sayur dan tepeng. Katanya, Ini buat Rima.” Rima adalah anak Mbok Luh. Guru menari, sangat cantik, dan gampang jatuh iba. “Rima suka memberi Dadong serai dan empon-empon buat masak.”

“Lalu siapa yang nyolong, Mbok?”

“Mungkin juga saudaranya sendiri, karena si pencuri tahu benar letak uang dan emas Dadong Sandri.” Mbok Luh menghembuskan nafas keras-keras. Kesal kurasa.

“Bayangkan, berapa tahun dadong Sandri mesti bekerja untuk dapat uang segitu. Bisa belasan tahun. Tega benar yang mengambil uangnya.” Lagi-lagi Mbok Luh menghembuskan asap rokok dari mulutnya keras-keras.

“Benar, Mbok. Demi uang, orang jadi tegaan. Siapa pun dimangsa.”

“Nggak selamat si pencuri.”

Percakapanku dengan Mbok Luh tentang penjual tepeng itu berakhir menyedihkan. Usai hari itu, setiap kali bersua Dadong Sandri di jalan, atau membeli tepengnya di pasar, selalu kuelus tangannya. Tanda syukur dan hormat akan caranya menjalani hidup. Semoga rahmat Tuhan selalu mengalir dalam tubuh dan kesehatannya.

P.S. ‘Selamat Hari Kartini’ 😀