Saya pernah mengalaminya, dan tak ingin mengulanginya. Andai mengulanginya pun, saya rasa masih sanggup dengan angka sekian untuk saat ini. Tentu dengan batasan-batasan khusus.

Saya ingat waktu itu, tahun 2000-an awal. Tinggal di Jogjakarta, kos di rumah kawan -dan saya selalu membayar kos walau kerap telat 1-2 bulan, lho! Saya bekerja di sebuah media online saat itu, digaji berdasar tulisan yang dimuat. Desk saya seni dan buku. Jadi saya rajin meliput pameran seni dan rajin membaca buku. Untuk setiap tulisan yang masuk saya diberi honor Rp.30.000. Namun jika dalam sebulan mampu menulis 10 tulisan, saya akan dibayar Rp.500.000. Tak masalah buat saya, karena setiap artikel hanya berisi antara 350-500 kata.

di masa lalu dan kini, ini makanan mewah meriah

di masa lalu dan kini, ini makanan mewah meriah

Saya juga menjadi kontributor tetap sebuah majalah wisata lokal saat itu. Spesialisasi saya artikel tentang kehidupan dan perjalanan. Setiap artikel beserta foto yang masuk, saya mendapat sekitar Rp250.000-Rp.350.000. Hampir setiap bulan tulisan saya nongol di majalan itu.

Lebih banyak honor yang saya dapat di saat itu habis saya belanjakan buku dan kaset. Nah, suatu hari saya tergiur ajakan kawan untuk membantu bisnisnya. Uang tabungan Rp.1,5 juta pun tumpas saya setor ke dia. Kebetulan di bulan yang sama tak satu pun tulisan saya dimuat majalah langganan, sementara media online tempat saya bekerja sedang bermasalah. gaji 2 bulan pun tertunda. Mampuslah saya!

Akhirnya saya jual beberapa kaset. Mungkin ada 12 kaset bekas koleksi yang saya jual di lapak Malioboro. Saya mendapat Rp.60.000 untuk hidup sebulan. Saya harus menyiasati hidup. Caranya?

Alih-alih membunuh orang yang meminjam uang saya, saya pilih membeli 2 kilogram beras, saat itu harga per kg Rp.4000. Lalu tiap dua hari sekali saya belanja ke pasar terdekat, membeli kerupuk Rp.500 dan seikat bayam seharga Rp.500. Dua macam lauk itu saya santap untuk dua hari. Alhasil, uang saya berkurang sekitar Rp.38.000. Masih ada Rp.22.000 yang saya pergunakan untuk membeli gula, teh, dan kopi. Juga sesekali ngangkring di warung nasi kucing, sekedar menikmati gorengan dengan kawan-kawan. Alhasil, saya selamat.

Apakah beras 2 kilogram itu cukup buat sebulan? Tentu saja cukup. Saya hanya memasak tiga genggam beras sehari, memberinya banyak air, dan memakannya sebagai bubur 2x sehari. Mengenyangkan kok, dan dijamin masih membuat kita hidup. Begitulah cara saya hidup di saat sempit tanpa membunuh orang.

Catatan:

Suatu ketika, bukan hanya kaset-kaset koleksi yang menolong saya di saat kere, tapi juga koleksi buku dan masih banyak koleksi lainnya. Semoga tak ada yang meniru nasib manis saya :D.