Tags

,

Sekali tempo tanyalah mengapa orang seantero jagad berduyun-duyun datang ke Siem Reap? Bisa dipastikan Angkor Wat jawabnya. Lalu tanya lagi kepada mereka yang sudah datang ke kota tua di Kamboja ini, apa yang membuat mereka betah di Siem Reap? Angkor Wat hanyalah satu dari sekian jawaban seperti:

‘kotanya nyaman, hijau, dan rindang
‘ada wifi di mana-mana, gampang banget internetan
‘penginapannya murah dan bersih
‘polisinya ramah, makanan murah, bisa asik belanja
‘bebas bersepeda ke mana-mana

Siem Reap mirip didisain demi kepentingan turis. Pemerintah Kamboja menyiapkan berbagai kemudahan buat para pelancong di sini, mulai fasilitas free wifi, penginapan yang murah namun nyaman, makanan jalanan yang meriah, area berbelanja barang kerajinan, dan masih banyak lagi. Dengan mudah turis dapat menemukan bangku-bangku di taman kota dan tepi sungai yang cukup tenang buat beristirahat. Belum lagi banyaknya wat atau kuil di tengah kota, juga tuktuk yang siap mengantar. Pemerintah Kamboja berharap, kenyamanan dan kemudahan fasilitas akan membuat turis betah tinggal dan terus datang ke Siem Reap. Saya sendiri merasa betah di kota ini dan tinggal, bermalas-malasan, selama 6 hari.

si manis di kampung muslim

si manis di kampung muslim

Lalu bagaimana dengan kehidupan warga Siem Reap sendiri? Apakah mereka juga menikmati fasilitas semudah para turis? Itu pertanyaan yang terlontar di pikiran saya. Pemilik hotel, guest house, bisa dipastikan hidupnya senyaman para turis. Tapi bagaimana dengan pekerjanya, orang-orang yang berjualan di pasar, anak-anak yang mengemis, atau pemulung kardus, kaleng bekas, dan botol plastik?

Di Belakang Garden Village

Suatu hari saya berjalan menyusuri sebuah gang di belakang penginapan ‘Garden Village’. Gang selebar 2-3 meter itu belum beraspal, masih tanah liat warna coklat kemerahan, yang berlumpur dan licin ketika hujan. Mula-mula saya melihat deretan penginapan, rumah makan, toko suvenir. Lalu merambat ke toko kelontong kecil, dan rumah-rumah penduduk. Pada sebuah sungai -atau mirip selokal lebar- gang menuju jalanan tanah liat yang cukup lebar. Aneka kendaraan lalu lalang. Ada motor, tuktuk, tak jarang juga mobil. Kemudian serombongan sapi menyerbu jalanan. Cukup panjang barisannya. Seorang penggembala mengarahkan sapi-sapi itu lewat gemeletar suara pecut. Pemandangan yang menerbitkan tawa. Rupanya saya menuju kawasan muslim Seam Reap di Kampung Steung Tmei.

menggembala sapi

menggembala sapi

Beberapa meter dari iring-iringan sapi berdiri Masjid Al Nikmatul Islami, begitu tulisan yang terbaca pada dinding atas masjid bertingkat dua ini. Beberapa pekerja sedang merenovasi masjid, di antaranya perempuan. Tampaknya sebentar lagi wajah sederhana masjid akan berubah. Bahan pelapis lantai dan dinding dari keramik berjajar di satu bagian. Saya bayangkan masjid-masjid molek di tanah air, meski berada di gang sempit dan kumuh.

Di depan masjid, usai menyeberangi jembatan di atas selokan, gubuk-gubuk dari kayu kelapa dan beratap nyiur kering berjajar. Kadang gubuk itu didirikan bersender pada bangunan permanen rumah batu. Beberapa meter depan gubuk, ada tempat untuk mandi. Sebuah pancuran yang terhubung dengan tempat penyimpanan air ada di sana, terbaca ‘Bantuan dari LSM Anu’. Ada beberapa bocah telanjang dimandikan oleh ibunya yang mengenakan hijab. Ada lagi anak-anak hanya mengenakan kolor bermain di bagian lain halaman.

Cobalah sekali, sekali saja, mendekati mereka, berbincang dengan mereka, sambil membagi-bagikan gula-gula dan roti. Lalu berbincang dengan orangtua mereka. Tak semua mengerti Bahasa Inggris. Tapi sedikit Bahasa Melayu mereka paham. Dan, mereka cukup ramah. Ya si orangtua, anak-anaknya, para tetangga. Guyup.

warga di belakang 'Garden Village'

warga di belakang ‘Garden Village’

Di bagian Siem Reap yang ini jangan berharap semua berjalan nyaman. Nyamuk masih menjadi musuh, juga banjir, jalanan becek di musim hujan atau berdebu di musim kemarau. Jangan berharap menemukan wifi di sini, atau tak diganggu celoteh bocah yang membahana ke mana-mana.

Umumnya turis menapaki jalanan ini demi menemukan masjid atau warung muslim. Bisa dipastikan, kau tak akan menemukan roti berisi ham di sini. Tapi gulai, kare kambing, juga ada. Ketika hendak menyeberang jalan, saya melihat iring-iringan kerbau berwarna kelabu sedang digiring pulang. Jika sapi-sapi yang lalang sebelumnya begitu kurus, kerbau ini amatlah kokoh. Bisa dipastikan di sekitar ini masih ada area persawahan. Kerbau masih jadi andalan untuk membajak sawah.

Sebelum Tonle Sap

Letaknya hanya beberapa kilometer di luar Siem Reap, ketika membelok ke kanan, menuju Kampong Phluk, pemukiman di tepi Danau Tonle Sap. Di sini kondisi rumah penduduk berbeda 180 derajad dengan tengah kota. Mereka masih mengandalkan air sungai yang kerap banjir, hasil limpahan air danau. Sekali tempo mintalah sopir tuktuk berhenti, atau bersepedalah menuju jalan-jalan di sini. Berbincang langsung dengan penduduk, segera kau tahu bahwa cacingan masih menjadi penyakit nomor wahid bagi mereka, mengalahkan diare, ispa, demam berdarah, atau malaria.

be4Pernah saya bertanya kepada kawan asli Kamboja, pertanyaan tolol tentunya. “Mengapa sapi-sapi di Kamboja kurus-kurus, padahal lahan merumput begitu luas?” Kawan saya tertawa, bukannya menjawab “Tapi di sini babi gemuk-gemuk” atau semacamnya. Bisa jadi sapi-sapi di sini pun cacingan, pengaruh banjir tahunan akibat meluapnya Sungai Mekhong.

Minimnya perhatian pemerintah membuat segelintir warga yang peduli, bekerjasama dengan turis-turis asing yang juga peduli, bergerak membantu sebisanya. Ada beberapa rumah yang memfasilitasi pengobatan gratis bagi warga yang sakit. Voluntirnya turis asing yang mengerti kesehatan, baik perawat maupun dokter. Ada juga turis yang mau mengajar warga sekitar. Tentu saja mengajar Bahasa Inggris.

Kepedulian ini sedikit menjembatani jenjang fasilitas antara turis-warga sekitar. Memandang Kamboja dan Siem Reap khususnya, mirip memandang negeri sendiri 20-30 tahun lalu. Komersialisasi belum di level teratas, kejujuran dan kerja keras masih dianut sebagian besar rakyatnya, namun ada kecenderungan pemerintah lebih berpihak kepada pemilik modal dan pembangunan atas nama devisa.

fasilitas air bersih bantuan NGO

fasilitas air bersih bantuan NGO

“Kawanku memaksaku datang melihat Angkor saat ini juga. Dia bilang, kalau aku menunda-nunda waktuku berkunjung, akan menyesal nanti. Angkor dan Siem Reap 10 tahun kemudian bakal tidak nyaman lagi.” Begitu aku kawan saya yang bekerja di Institute Francais Jogjakarta. Ketika kami berkunjung, kawasan Siem Reap dan Angkor Wat masih dipenuhi hutan dan pepohonan setinggi belasan hingga puluhan meter. Namun sudah banyak pepohonan dicabut paksa. Satu-satunya yang membuat pepohonan purba ini dilindungi adalah bantuan Internasional untuk menjaga kelestarian Angkor dan sekitarnya. Kelestarian yang kemudian menarik jutaan wisatawan dunia, dan menggerakkan pemerintah setempat memperbaiki fasilitas wisatanya. Pertanyaannya, akankah kemakmuran pembangunan wisata ini akhirnya juga menyejahterakan warganya?

Advertisements