Aku sedang duduk di taman kota ketika melihatnya kembali. Putik-putik akasia menimpa kepalaku, diterbangkan oleh angin tenggara. Bayangan tubuhnya mirip cahaya senja yang digerakkan magnet bumi. Terselubung pita keemasan hingga serupa angsa liar yang terjun ke dalam kolam. Kuraba kepalaku, menutupi kegugupan. Sementara dirinya terus melaju, menujuku.

Tujuh revolusi bumi sudah berlalu, nyaris tak ada lagi rambutku yang hitam. Sebuah tragedi mematikan pigmen di dalam rambutku. Mirip sel-sel kanker yang disemprotkan  pada inang yang tepat. Nggragas, trengginas. Aku malu akan keadaanku. Cepat layu dimakan derita.

Mulanya aku ingin menghindar. Tapi tak mungkin. Dia terlanjur melihatku. Ada rasa rendah diri melandaku kala memandang betapa  matangnya dirinya sekarang. Rambutnya yang kecoklatan tergerai bebas sepanjang bahu. Rambut yang berkibar-kibar mirip ombak diterbangkan gundala. Kupalingkan wajah sejenak. Memikirkan ucapan yang hendak kulontarkan. Tapi aku keduluan.

“Apa kabar?” tanyanya ramah. Masih dengan suara berat seraknya. Suara masa lalu.

“Selalu baik,” jawabku akhirnya sambil tertawa. Menyembunyikan gemuruh dan takjub.

“Aku nyaris pangling melihatmu. Rambutmu…” Dia tak meneruskan kata-katanya.

Aku tersipu. “Iya.. separo rambutku memutih dalam semalam saat kau menghilang tiba-tiba dulu.”

Ah, akhirnya kulontarkan juga kata-kata itu. Betapa leganya. Selama ini aku percaya, hubungan yang dimulai dengan kejujuran selalu mendamaikan jiwa ketimbang kepura-puraan. Walau kadang memancing kebencian orang juga. Tapi aku tak takut dibenci. Tidak sekarang. Aku tak ingin berbohong kepadanya. Toh tak ada lagi yang kuharap darinya kini. Tak ada.

“Sehebat itu?” Mirip tak percaya wajahnya. Kutepis kenangan masa silam. Aku tak peduli lagi. Tidak kini.

“Begitulah.. untung segera kudapat obatnya.”

“Ooo…” Ada nada lega dalam suaranya. Tak perlu ada rasa bersalah sia-sia atau tanggung jawab percuma.

“Iya.. bigen. Hanya lima belas ribu per botol. Kalau aku sedang kaya, kubeli wella yang harganya 4 kali lipat. Kalau sedang bokek, beli saja tancho. Hanya lima ribu dan.. bisa beberapa kali dipakai keramas.”

Dia terbahak. Tak menyangka jawabanku seperti itu. Saat itulah kulihat betapa melompong isi mulutnya. Nyaris tak ada geliginya  yang utuh. Mirip kakek-kakek dalam kisah ‘Buaya di Kolam Rawa Aopa’.  Aku bersyukur hanya tiga gigiku yang tanggal. Itupun karena dicabut paksa oleh dokter gigi. Yang lain masih utuh.

Kurasa dia menyadari apa yang kupikirkan. Segera kedua bibirnya merapat sambil menyisakan garis lengkung yang mencuat ke atas. Kubalas senyumnya. Semanis yang tersisa.

“Kurasa gigimu aus karena selalu melahap tulang-tulang muda gadis utara,” kataku bercanda.

“Selatan, tepatnya. Gadis-gadis selatan. Aku lebih banyak tinggal di benua selatan selama ini.”

“Ooo.., tapi kurasa tanpa gigi keadaanmu akan lebih baik,” jawabku tersenyum.

“Oya? Kenapa begitu ?” Dia sungguh tertarik.

“Tentu saja. Kau tak perlu meninggalkan bercak-bercak merah kelabu atau coklat kehitaman di seluruh tubuh mereka. Di leher jenjang mereka, di tengkuk mereka, di payudara dan paha mereka.” Aku tertawa. Kehilangan rasa cemburu.

Dia pun tertawa. Sungguh tawa yang menawan di usia matang.

Tiba-tiba tawa kami dihentikan oleh segerombolan anak muda yang memandang takjub ke arah kami berdiri. Mereka lalu terburu menyerbu kami. Kuarahkan pandangan ke wajahnya.

“Tentu mereka ingin menyapa lelaki tampan di sampingku.” Kulihat dia menegakkan kerah baju putihnya, sementara aku segera mengeluarkan pena.

Tak berapa lama aku disibukkan dengan menorehkan tanda tangan di buku yang mereka bawa, di lengan baju, di kertas kosong, bahkan juga di helai saputangan. Mereka tentu segelintir orang yang pernah membaca epik yang kutulis. Sungguh jengah harus meladeni penggemar lapar seperti ini. Namun tanpa mereka, aku tak mungkin berdiri di sini sekarang. Tegak. Tak limbung oleh angin.

Sesekali kulirik dia, ingin tahu apa yang dilakukannya. Namun pandanganku segera terhalang oleh kerumunan penggemar yang seolah tak ada habisnya. Ketika akhirnya selesai kulayani penggemar terakhir, dia sudah menghilang. Entah terbang kemana. Namun kujamin rambutku tak akan berubah warna lagi dalam semalam. Warna pamungkas apa lagi yang bisa mengalahkan warna mati, putih. Tawaku berderai, ketika kumasukkan pena ke dalam tas. Kutinggalkan taman itu tanpa merasa perlu bergegas.

Catatan : diposting ulang untuk mengingatkan penulis akan humor-humor noir yang belum rampung digarap