Tags

,


Aku turun  di Dompu, di persimpangan jalan. Lelaki tua itu membantu menurunkan ranselku dari bus. “Mau ke mana?” tanyanya.

“Huu Pak,” jawabku. “Di mana saya harus naik bus menuju Huu?”

kampung nelayan

kampung nelayan

Tanpa menjawab lelaki itu terus membopong ranselku hingga menyeberangi satu-satunya jalan raya, berjalan kaki lurus sepanjang 500 m, hingga sampai di pertigaan. “Tunggu saja bus di sini, ini bus menuju Huu,” katanya sambil menyerahkan ranselku lalu meninggalkanku begitu saja. Dia tak memberiku kesempatan untuk berucap terimakasih.

Ini kali kedua kuinjakkan Sumbawa. Sebulan lalu aku juga melewati Sumbawa menuju Flores. Kini sepulang dari Danau Tiga Warna dan Komodo, kembali kulewati Sumbawa. Hanya kali ini aku mau ke Huu, demi sambang kawan lama, Anna.

Empat tahun lalu aku bertemu Anna dan suaminya, Louis, di Segara Anak, Rinjani. Mereka sedang berbulanmadu dengan mendaki Rinjani. Mereka numpang tidur di basecamp kami, aku dan kawanku si badan raksasa.

Sebelum meninggalkan Segara Anak, paginya Anna memberiku alamat tempat tinggalnya dalam sobekan kertas. “Mampirlah di tempatku, pantainya bagus, enak buat surfing”, katanya.

Waktu itu aku belum tahu apa yang dimaksudnya surfing itu, walau aku penggemar serial teve ‘Hawai Five O’. Dan kini, aku terdampar di ujung jalan menunggu bus menuju tempat yang entah bagaimana bentuknya.

Setengah jam kemudian bus datang, penuh sesak.

Aku berdiri di depan, menggelantung di samping sopir, dihimpit ibu-ibu yang menggendong balitanya dan keranjang dari bambu besar. Ember-ember plastik memenuhi lantai bus, berjejal dengan handuk dan barang belanjaan. Kutengadahkan wajah, menyapu sekeliling. Baru kusadari nyaris tak ada penumpang pria di sini, kecuali sopir dan kernetnya. Semua perempuan dan anak-anak. Anak-anak itu bertelanjang kaki, sebagian hanya mengenakan celana pendek yang pudar warnanya. Hidung mereka dipenuhi ingus berwarna kuning kehijauan yang mengalir keluar masuk seiring sedotan nafas. Banyak di antara mereka yang kulitnya bersisik dan ditumbuhi koreng mirip luka.

bermain di pantai

bermain di pantai

Aku boleh tahan berdiri terjejal dalam bus penuh perempuan dan bocah beringus, Namun aku tak tahan baunya. Entah mengapa menguar bau amis tak biasa di sini. Amis yang mengaduk perutmu, menyisakan mual sekaligus pening kepala. Namun aku mencoba bertahan. Mungkin ini bau laut yang sesungguhnya, pikirku waktu itu. Laut dan segala jenis penghuninya.

Empat puluh menit kemudian sampailah kami di ujung pantai, usai melewati beragam pondok wisata, homestay, dan penginapan. Huu benar-benar daerah turis, semua pondok dan penginapan ditulis dalam bahasa Inggris. Tentu ramai bule di tempat ini, begitu pikirku.

Aku turun di penginapan yang ditunjuk kawanku. Saudaranya, si empunya penginapan itu, sepasang suami istri muda bersahaja. Mereka ramah, dan girang mendapat tamu lokal di antara puluhan bule yang berkunjung ke Huu setiap hari.

Petang itu, ketika diajak Anna berkeliling, baru kusadar turis di Huu itu spesifik. Mereka pastilah peselancar. Bukan sembarang turis yang mirip menyerbu Bali. Umumnya peselancar profesional dari berbagai negara. Ada Eropa, Amerika, dan Australia. Perut mereka begitu ramping dan ‘six pack’. Otot-otot perut menonjol dengan seksinya. Ke mana pun mereka pergi sejak pagi buta hingga petang, papan seluncur tak pernah lepas dari genggaman.

Di antara peselancar itu, banyak orang lokal tinggal. Pemilik penginapan, penjual ikan bakar di pantai, dan para nelayan. Kampung nelayan berada di ujung, di mana busku siang itu berhenti. Saat itu listrik belum dicecap warga Huu. Penerangan hanya bermodal senter dan lilin. Batu baterei menjadi kebutuhan utama para turis peselancar yang gemar menenteng walkman.

Suami kawanku yang orang Prancis sedang pulang ke negaranya. Dia seorang misionaris yang membantu warga lokal dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Banyak warga Huu terkena penyakit kulit dan diare akibat terbatasnya persediaan air bersih. Sumur mirip barang langka. Sesayur susah tumbuh di pantai. Namun ikan melimpah. Makanan sehari-hari penduduk hanya nasi dan ikan. Sesekali mereka menuju Dompu, membeli sesayur atau bahan pokok lainnya.

Aku tak cukup berkeliling. Pemandangan di atas bus menyadarkanku bahwa para nelayan Huu hidup penuh keterbatasan. Kelak ada seorang lelaki asing yang terketuk dengan kondisi di Huu dan pantai sekitarnya. Dia tinggalkan pekerjaannya di Eropa, dia abdikan hidup membantu masyarakat setempat, mirip yang dilakukan suami Anna yang orang Prancis itu. Ketika kutinggalkan Huu keesokan siang, kusadar bahwa bau laut itu melekat ke mana pun kujejak pantai-pantai perawan di Indonesia. Bau nelayan yang hidup terpencil, jauh dari ketercukupan air bersih atau fasilitas kesehatan kalau tak bisa disebut melarat. Bau ketimpangan pembangunan di Indonesia.