Tags

,

Setelah hampir dua tahun ‘bertapa’, kembali akhir Mei saya terbitkan buku baru bertajuk ‘Lelaki dari Samatoa’. Buku ini merupakan kumpulan fiksi perjalanan, yang lahir dari perkawinan antara pengalaman melakukan perjalanan, cerita orang-orang yang saya temui selama melakukan perjalanan, studi referensi di perpustakaan, plus imajinasi di kepala. Empat faktor ini menjadi campuran adonan di setiap artikel.

Ada 22 kisah di buku setebal 220-an halaman ini, kisah yang dikumpulkan dari melakukan perjalanan di negara: Siam, Khmer, Semenanjung Malaya. dan bumi Lorosae. Kisah yang mungkin lolos dari mata pejalan.

rekaan 'calon sampul'-nya yang agak romantis

rekaan ‘calon sampul’-nya yang agak romantis

Beragam cerita dituliskan. Mulai metamorfosa seorang pendeta menjadi penjagal bangsanya sendiri (Penjagal dari Takeo), akhir kisah cinta Laksamana Cheng Ho yang pernah menjadi kasim itu (Cinta Abadi Cheng Ho), kehebatan teratai sebagai penyembuh sekaligus pembunuh di tangan para penduduk lokal benua Asia (Lelaki dari Samatoa), persahabatan antara penjaga taman nasional dan pendatang manca (Kembali ke Kerachut), kisah cinta dua anak manusia yang berbeda ras dan agama (Wang), kisah cinta para bhiksu yang memutuskan menjadi petani (Cinta 2 Mantan Pendeta),  pedihnya nasib orang-orang yang terbelah akibat pemisahan negara (Anna Maria dan Impian Sarima), hingga penemuan obat kanker di kedai obat China (Tabib Cantik di Jalan Campbell).

Dibanding tiga buku sebelumnya, buku ini memiliki genre yang berbeda dan mungkin belum umum di pasaran. Jadi harap pembaca (dan pembeli), khususnya pembaca tiga buku sebelumnya, menjadi maklum. Sebagai penulis, saya butuh bermain, melakukan eksplorasi baru dalam setiap penulisan. Dengan demikian saya merasa hidup, dan menjadi hidup, terlepas dari apakah buku akan menjadi populer atau tidak. Jalan setiap penulis tentulah berbeda, apalagi penulis pejalan.

Buku ini (masih) diterbitkan secara mandiri dengan sistem cetak POD. Mulai proses editing, layout, hingga pemilihan sampul, saya kerjakan sendiri untuk memangkas ongkos produksi. Harganya mungkin sedikit lebih tinggi dibanding buku dengan ketebalan sama namun memiliki tampilan yang lebih baik jika diterbitkan oleh penerbit besar. Jadi mohon dimengerti

Saya berharap di masa mendatang akan terus dapat menulis buku-buku semacam ini -entah didukung penerbit besar atau menerbitkan sendiri-, karena tugas seorang penulis memang menulis, entah dia mampu hidup layak dengan tulisannya, atau mati kelaparan karena dimakan tulisannya. Mirip Van Gogh yang hanya berhasi menjual satu lukisannya ketika hidup, lalu bunuh diri dimakan kegilaannya.

Akhirul kata, fiksi perjalanan mirip bunga rumput (yang menjadi latar sampul buku) yang dapat tumbuh di mana-mana, dan selalu jadi bahan injakan kaki manusia yang tak menyadari keindahannya. Maka mari terus melakukan perjalanan dan membangun imajinasi,

Salam 😀

Advertisements