Tags

,


Suatu siang, bertahun silam, saya ketinggalan bus jurusan Bukit Mertajam di Taman Pelangi. Bus-bus umum jarak dekat di Malaysia tidaklah mudah didapat. Mereka hanya lewat pada jam tertentu. Bus ke BM -singatan dari Bukit Mertajam- hanya lewat dua jam sekali. Anda dilatih kesabaran tingkat tinggi untuk menunggu, dan kecewa jika sudah tertinggal. Untuk itu, naik taksi jadi pilihan ‘mahal’. Selain ongkosnya berlipat 10 kali, tak jarang ada yang dirampok saat naik taksi.

Hari itu saya agak beruntung. Ada dua orang penumpang lain yang hendak ke jurusan searah BM. Kami pun kongsi, seorang bayar 5 ringgit. Dibanding dengan  naik bus yang ongkosnya 1,6 ringgit, bolehlah. Ketimbang menunggu lama.

kalo ini bukan apek, tapi saudara saya yang tangki bahan bakar mobilnya bocor

kalo ini bukan apek, tapi saudara saya yang tangki bahan bakar mobilnya bocor

Selama perjalanan, sopir keturunan China yang berumur 50-an tahun itu pun menuturkan jalan hidupnya.

“Ai dulu kerja di Singapor, 20 tahun, sebelum pegang taksi,” katanya memecah kebisuan. Dua penumpang yang duduk di belakang tampak tak peduli, sibuk dengan gadgetnya. Jadi sayalah yang harus mengimbangi ‘sempang’ ini.

“Lalu kenapa keluar Apek? Pasti gaji di sana banyak kan.” Apek adalah sebutan ‘umum’ para Indon bagi lelaki keturunan China yang berumur 30-an ke atas atau dianggap tua.

“Betul. Ai boleh dapat tiga ribu dolar sebulan. Tapi duit ae habis dipake awek. Awek Ai orang Indon. Masih muda. Tapi eee.. curang.” Awek biasa digunakan untuk menyebut pacar.

“Kalau curang kenapa mau punya awek orang Indon?” Saya makin tertarik. Pasal perempuan Indon yang mau dipacari lelaki tua entah ‘datuk’, ‘apek’, bukan hal baru. Saya pikir di penjuru dunia selalu ada perempuan -apapun ras dan etnisnya- yang mau pacaran dengan para bandot semata demi uang. Juga sebaliknya, banyak lelaki muda piaraan perempuan mirip ibunya semata demi uang. Uang memang Tuhan paling disembah sekarang.

“Buat senang-senang saja. Kerja di Singapor keras, musti giat dari subuh sampe malam. Sabtu-Ahad aja Ai boleh rileks, ambil cuti.”

“Lalu kenapa sekarang jadi driver Apek?”

“Ketika Ai boleh simpan uang 30 ribu ringgit, Ai pun resign. Beli kereta dan Ai jadikan taksi. Sekarang lebih tenang, tak pikir kerja berat setiap hari,” tambahnya.

“Punya awek Indon lagi?” Saya menggoda. Jangan-jangan dia masih membujang. Atau.. sudah beristri?

“Tak ada awek. Enak sendiri. Nanti duit Ai habis lagi,” kelakarnya. Saya terbahak, teringat kawan-kawan pekerja di asrama yang hobi melorotin pacar-pacarnya. Walau tak semua, umumnya perempuan pekerja pabrik di Malaysia matre. Ada uang abang kugarap, tak ada uang abang kena kurap. Itu motto teramat biasa.

“Hei.. you mau shopping ya. Hati-hati kalo simpan uang. Semalam ai antar dua indon, dompetnya jatuh ke lantai mobil saya. Mereka sudah menangis-nangis, lalu ai kembalikan itu dompet,” si Apek melotot. Saya mengangguk cepat. Bagus juga ada sopir taksi jujur di negeri ini.

Ketika sampai depan BM Plaza, bergegas saya turun. Lagi-lagi si Apek berpesan agar saya berhati-hati seolah saya anaknya. Tak tahu lagi saya apakah akan bersua dengannya nanti.