Tags


Setelah melalui proses yang cukup panjang, buku Lelaki dari Samatoa akhirnya dapat dicetak dan diterbitkan. Ini buku keempat saya, dan buku ketiga yang berkisah tentang perjalanan. Ada beberapa hal yang berbeda pada buku ini, dibanding buku perjalanan sebelumnya ’30 Hari Keliling Sumatra’ dan ‘Negeri Pala’) yaitu:

1.Tidak berkisah tentang pejalan dan tempat-tempat di nusantara, tapi di empat negara tetangga (Khmer, Siam. Malaya, Lorosae).

2.Kisah diramu dalam bentuk fiksi -kadang semi fiksi-, jadi bukan features atau deskripsi perjalanan

3.Sebagian kisah adalah pengalaman pribadi, ada juga pengalaman orang lain, sebagian lagi adalah imajinasi.Β  Mana yang realita mana yang maya, sila berasumsi sendiri πŸ˜€

Ada 22 kisah -dari 23 kisah yang saya rencanakan, namun gagal karena kehabisan tenaga di ujung penyelesaian- di buku berukuran 13cmx19cm ini. Tujuh kisah berasal dari Kamboja, 9 kisah dari Semenanjung Melayu, 5 kisah dari Siam, dan 2 kisah dari Timor Leste. Beberapa kisah adalah daur ulang yang diperkaya, misalnya Pedro Membaca Alkemis, dan Anna Maria. Ada cerita yang pernah terbit di baltyra seperti Gelandangan dari Siem Reap dan Cinta Abadi Cheng Ho (minus ending cerita). Namun lebih banyak kisah yang masih baru dan belum sempat saya ‘publish‘.

buku yang siap diedarkan

buku yang siap diedarkan, harga Rp.50.000, 214 halaman

Sebagai bocoran, berikut daftar isi buku :

1.Flanel Merah
2.Gelandangan dari Siem Reap
3.Lelaki dari Samatoa
4.Penjagal Takeo
5.Pohon chankiri
6.Raiya
7.Ujian
8.Cinta Abadi Cheng Ho
9.Gerimis di Chow Rasta
10.Hotel Appu
11.Kartu Pos
12.Kembali ke Kerachut
13,Pelukis Famosa
14.Tabib Cantik di Jalan Campbell
15.Wang
16.Anjing Ayutthaya
17.Cinta 2 Mantan Pendeta
18.Mata Burhan
19.Penumpang No,17A
20.Perjalanan ke Selatan
21,Anna Maria
22.Pedro Membaca Alkemis

Hampir semua kisah di buku ini adalah hasil perjalanan lebih dua bulan pada Juli-September 2012 ke empat negara (Malaysia, Siam, Khmer, sedikit Myanmar) yang menghabiskan dana sekitar 700 dolar -sudah termasuk paspor, transport, makan, dan oleh-oleh-, lumayan mahal ketika dolar masih Rp.9000. Apalagi saya tidak memanfaatkan gratisan di couchsurfing, justru selalu bekerja sebagai relawan tatkala memanfaatkan jasa teman di CS (seperti bekerja di yayasan orang cacat Penang dengan ambassador CS Penang, Ang Huah. Atau membantu Reddie -anggota aktif pesepeda dan CS Nibong Tebal- untuk menyusun bukunya, juga bekerja sebagai relawan pertanian ketika CS-an di pegunungan Chiang Mai, relawan di panti asuhan yang dibina Hoo, CS Kamboja.Β  πŸ˜€ ).

Melakukan perjalanan itu mudah, menuliskannya susah, apalagi jika tulisan itu untuk dibukukan. Lebih sulit lagi menjual buku tersebut. Karena itu saya ucapkan banyak terimakasih kepada beberapa pihak yang membantu proses penerbitan buku ini. Di antaranya: Mbak Isti dari Revka Petra Media Surabaya yang dengan kilat mencetak buku ini secara POD (hanya 2 hari), lalu beberapa kawan yang tak putus-putusnya membantu secara finansial sehingga saya dapat memodali penerbitan buku ini. Tak lupa ucapan terimakasih kepada mereka yang selalu membeli dan membaca buku saya (ada beberapa fans loyal yang rajin menanyakan kapan buku baru terbit. hal ini membuat saya terlecut untuk terus menghasilkan buku baru).

Tentu banyak kekurangan dalam buku ini, baik dari segi isi maupun tampilan. Ini buku terberat penulisannya yang pernah saya terbitkan. Saya harus menulis 14 jam sehari untuk menyelesaikannya selama beberapa bulan aktif, dan kerap kehilangan tenaga di tengah-tengah penyelesaian buku. Untungnya saya punya kegiatan menanam sayur dan meditasi, jadi amat menolong ‘sisi jurang’ dalam proses penulisan buku.

Ini juga satu-satunya buku yang saya tulis sendiri, saya sunting dan layout sendiri, bahkan sampulnya saya desain sendiri. Menjadi penulis di jalur Indi yang tak memiliki cukup modal memang berat. Harus serba bisa, terus belajar, dan pandai mengakali keadaan. Padahal, nyaris tak ada keuntungan finansial yang cukup dengan menjadi penulis Indi selain kepuasan batin karena menjalankan panggilan hati. Guru saya pernah bilang, ‘apapun pekerjaan yang kamu lakukan, baik itu menghasilkan uang atau sekedar menguras tenaga, lakukan sepenuh hati. soal imbalan, kita tak penah bisa mengukurnya.’ Dan saya telah membuktikannya.

Salam,