Dia dibesarkan dalam keluarga penganut dogma-dogma. Jika memiliki pandangan berbeda dengan orang orangtuanya -khususnya ibunya- lalu dikemukakannya, pasti umpatan, ‘anak durhaka, masuk neraka kamu. semoga kelak kamu jadi jambu monyet’ itu akan diterimanya. Mungkin itu sebabnya dia tak peduli dengan surga-neraka, yang jadi senjata mematikan mulut orangtua otoriter, atau pemuka agama yang sok menjadi ‘Tuhan’ jika memang Tuhan itu ada.

Perlawanan dalam dirinya tumbuh sejak awal. Seiring represi orangtua , lagi-lagi ibunya-selama belasan tahun. Ketika SD hingga SMU dia tak ingin tampil mirip sebayanya, cantik-feminin-rupawan. Dia lebih suka seragam putihnya yang robek di bagian kerah, atau sepatu bututnya yang berlubang di bagian depan. Dia tak mengeluhkan bau busuk pasar tradisional yang menyengat, tatkala angkot yang ditumpanginya ke sekolah melewati pasar terbesar dan terkumuh di kotanya. Dia justru asyik mengamati orang-orang, para penjual di dalamnya, bertanya-tanya bagaimana mereka dapat bertahan hidup setiap hari. Kelak dia pelajari, bau hanya tinggal di hidung kita sementara waktu. Setelah itu tak lagi terindus indra penciuman. Mirip kekebalan buatan.

lone ranger ala anak kepulauan :D

lone ranger ala anak kepulauan ๐Ÿ˜€

Ketimbang peduli kepada glamour teman-teman yang diantar mobil ke sekolah, dia malah tertarik kepada kawannya yang bercambang dan selalu ngontel pulang pergi sekolah. Ehem, begitu menurut pandangan matanya. Dia juga tak reken pada trend mode atau lifestyle. Dia terlatih membeli baju, sandang, atau apapun jika sangat membutuhkan, dan mampu menahan animo berbelanjanya hingga mati rasa. ‘Buat apa menumpuk barang atau memajangnya agar tidak malu dalam pergaulan. Memangnya apa yang kudapat? Toh mati pun hanya butuh 1mx2m, itu kalau dikubur. kalau dikremasi? manusia tak meninggalkan bekas fisik apapun ketika dia mampus.’ Itu anggapannya.

Pandangan ini dibawanya hingga merangkak ke dalam kehidupan yang lebih luas, dunia perkuliahan di kota lain propinsi. Sejak awal dia sudah mengenali kecenderungan dirinya, tidak takut dikucilkan, dimaki, atau dimusuhi kawannya karena menjalani pilihannya. Misalnya, dia merasa lebih nyaman tinggal di kos-kosan cowok tanpa perlu mengamini kumpul kebo. Dia merasa lebih gembira manakala mendaki gunung sendirian ketimbang ikut klub pencinta alam universitanya. Tak ada yang meledek penampilannya yan hanya bermodal sandal jepit, sarung kumal, dan sepotong jas hujan. Tak ada seniornya yang menceramahi, ‘naik gunung mesti pake sepatu, bekal yang lengkap. Jangan cuma bawa mi instan, roti sisir murah, dan vedples berisi air saja.’ Dia muak kepada ceramah usang yang memaksakan diri. ‘Memangnya kamu yang menanggung pengeluaran saya? Membelikan makanan bekal saya, membelikan sepatu, atau perlengkapan lainnya. Toh keamanan saya terletak di tangan saya, bukan tanganmu.’

Beberapa kali dia pernah jatuh ke jurang, beberapa kali selamat tanpa goresan berarti. Hanya sekali mukanya jadi serupa ‘pemeran ‘scarface’. Bocah pun takut memandangnya. Dan dia amat menikmatinya. Seolah Rambo jadi-jadian.

Mendaki gunung sendirian membuatnya mendapat banyak kenalan, Mulai tukang sabit rumput, penduduk sekitar, anak manja yang naik gunung minta digendong atau ditarik sehingga dapat diledeknya sepuas hati, dan kelompok pendaki gunung lainnya. Dia merasa hidupnya menjadi tanpa batas, bisa bergaul dengan siapa saja bukan karena identitas kelompoknya. Jika naik gunung dengan klub pencinta alam, perhatian lebih terpusat kepada orang-orang di klub, yang kerapnya memamerkan kehebatan diri sendiri. Layak kalau dia menjadi nyinyir kemudian.

Kelak ketika dia kerap menjelajah daerah baru, dia melakukannya sendiri. Ala Longe Ranger, hanya dia tak berkuda. Bahkan ketika mengikatkan diri pada profesi kantoran, pekerjaan yang membutuhkan skill perorangan yang dia pilih. Dia suka melakukannya semua sendirian. Bukan karena tidak suka bekerjasama, hanya dengan sendiri membuat ide dan kreativitasnya berkembang maksimal. Itu sebabnya dia kerap menoreh prestasi, pujian dari majikan, meskipun banyak yang ingin menjegalnya. Majikan-majika kecil yang merasa tersaingi akan menganggapnya tak bisa bekerjasama, susah diatur, aneh, dan lainnya. Kelak, dia tinggalkan keterikatan pada pekerjaan kantoran, juga keterikatan pada hal-hal yang bersifat materi, dengan menjadi penulis independen.

Dia sadari kecenderungannya untuk menuliskan hal-hal yang berbeda. Dia bosan mengulang-ulang tema yang kerap dituliskan orang. Atau ikut-ikutan gaya yang ngetren, mirip orang latah, agar naskahnya tembus dapur penerbit. Dia hanya suka menulis dengan gayanya, caranya, pada tema-tema kemanusiaan dan kebersahajaan yang dianggapnya menarik. Tentu, tidak semua menyukai gaya penulisannya. Tetapi selalu ada, sekelompok orang, merasa tergugah dengan apa yang dia tulis. Itu sudah cukup baginya sebagai upahnya menulis, melihat pembacanya termotivasi untuk memandang dunia, manusia lain, dengan cara yang lebih baik.

Dia teringat, ketika naskah calon bukunya ditolak penerbit dengan alasan bukan sekedar tidak menjual, tapi genre tidak jelas, dia tidak kecewa. Dunia begitu luas. Selalu ada alternatif baru, kesempatan baru, yang membuka diri. Dia pilih menerbitkan bukunya sendiri dengan segala konsekuensinya. Bekerja lebih berat, belajar pemrograman komputer lebih banyak sehingga dia tak hanya mahir menulis, tapi juga menyunting, membuat layout dan kover sampul. Soal keuntungan yang minim, tak masalah. Selagi dia terus dapat menulis.

Hidup itu tantangan. Hidup juga memberi pilihan. Misalnya, jika kau kaya, maka bepergianlah naik pesawat dan tinggal di hotel, berkeliling manca dan benua. Jika kau miskin, kau tetap dapat berkelana tapi dengan syarat khusus. Tak bisa jadi turis, maka bekerjalan selama berkelana. Tak mungkin naik pesawat, maka berjalan kakilah. Semua peluang terbuka lebar. Asal kita tidak mudah putus asa dan mengeluh.

Begitu pula dalam bidang akademi. Tak punya cukup uang, otak pas-pasan tapi masih ingin menuntut ilmu, ya bersekolahlah pada alam. Jangan mengiri dan mencaci mereka yang kaya dan mampu bersekolah tinggi, atau para penerima beasiswa.

Dalam bidang kepenulisan, jika naskahmu ditolak penerbit besar, maka terbitkanlah sendiri sesuai dengan kemampuanmu. Atau jika kau menolak disetir para editor penerbit dan ingin hidup dengan gaya tulisanmu, terbitkan sendiri, promosikan sendiri, dan jika sudah memiliki pembaca khusus atau tetap, teruslah menjalin hubungan baik dengan mereka. Jangan sok, sombong, atau merasa pintar. Semua penulis adalah murid kehidupan. Prinsip itu itu dipegangnya kuat, ditancapkannya di jantung hatinya, agar terpateri selamanya.. Dia juga punya hobi baru untuk bertahan hidup, sering-seringlah menertawakan ketololan sendiri.

Hidup memberi manusia kesempatan untuk mengembangkan dirinya walau dikepung keterbatasan. Tak ada manusia bodoh, yang ada manusia malas dan kurang usaha. Bahkan cacat fisik pun bukan penjara, selama otaknya dapat berpikir jenih. Kekuatan pikiranlah yang pada intinya menggerakkan alam semesta, kekuatan semesta yang menghidupi orang-orang yang tak gampang menyerah.

Kini ibunya tak lagi memakinya sebagai ‘anak durhaka, kualatm kau akan masuk neraka’ jika mereka berbeda pendapat. Ibunya cukup bilang ‘ah teori!’ saat dia mengemukakan konsep pemikirannya. Dia sadar, perjuangan mustahil untuk mengubah watak manusia, apalagi setelah puluhan tahun membatu. Lebih mudah mengubah lingkungan sekitar, menjadikannya lebih baik atau buruk ketimbang mengubah seorang manusia. Dia sadari itu, dan hanya berharap, dengan sebuah buku, tulisan, orang akan membuka pintu otaknya, memperluas pandangannya, sehingga ‘kualat, anak durhaka, surga-neraka, dan jambu monyet’ itu hanya ‘ah teori!’.