‘Bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya,’ begitu sabda nabi. Artinya, janganlah orang memanfaatkan tenaga orang lain secara tidak manusiawi. Begitu buruh usai bekerja, segera upahnya dibayar. Jangan menunggu nanti, besok, lusa, atau entah.

_MG_4162Namun di Indonesia, hal ini tak selalu berlaku. Terlebih jika itu menyangkut buku dan penulis. Terlebih jika buku dipesan online dan diterbitkan lewat jalur POD. Terlebih jika pembeli merasa kenal dengan penulisnya. Buku sudah ditangan, rasanya berat hati untuk membayarkan sejumlah uang. Dengan anggapan lebih mahal dari harga buku di pasaran, dengan alasan belum ada waktu untuk transfer, dengan asumsi karya ternyata buruk, dan sebagainya.

Jika diterbitkan oleh penerbit besar, buku akan dicetak ribuan. Mungkin 2500 eksemplar, mungkin 5000 eksemplar, mungkin lebih. Akibatnya ongkos cetak sebuah buku pun murah, hanya Rp7000 mungkin, Rp10000 mungkin. Harga buku di toko bisa jadi 4-5x harga sebenarnya. Andai buku tak seberapa laku, namun sudah menutup BEP (bteak event point), sudah balik modal, buku pun diobral dengan harga Rp5000, Rp2000. Itu yang sesungguhnya terjadi.

Bagaimana dengan yang menerbitkan POD? Sampai detik terakhir, harga buku akan tetap. Andai berlaku harga pertemanan, paling hanya turun Rp5000 atau Rp2000. Untung yang sebesar Rp10000 atau Rp15000 akan terpangkas menjadi Rp5000 atau Rp10000, itupun jika buku diborong pengerjaannya. Dan, Anda masih mengulur-ulur membayarnya, sementara memesan dengan segenap paksaan. Jadi Anda sedang menghisap keringatnya, mungkin juga darahnya, pelan-pelan.

Tapi itulah orang Indonesia, pembaca Indonesia, tidak semua mungkin. Tapi sebagian. Membeli baju gemar, membeli barang konsumtif harus, membeli buku eman-eman. Kalau kenal penulisnya, kenapa tidak mendapatkan secara gratisan. Maka bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya. Bayarlah buku sebelum Anda baca. Biasakan tidak meminta gratisan. Sebab jika tidak, takkan lahir penulis buku yang benar-benar kompetens di Indonesia, Anda hanya akan bisa bernostalgia tentang Pram, Chairil Anwar, Romo Mangun, karena Anda masih suka menghisap darah penulis, membiarkan peluhnya meleler hingga dia mati kering. Membiarkan darahnya menetes hingga tubuhnya pucat batu.

Salam,

 

Advertisements