“Nggak bikin postingan baru, Kak?”

“Nggak, malas!”

“Postingan jalan-jalan, gitu!”

“Halah, sudah banyak orang nulis hal jalan-jalan. Blog jalan-jalan mirip jejamuran dan perkudisan. Mungkin lebih banyak blog jalan-jalannya ketimbang orang yang jalan-jalan sekarang. Kekekekek”

“Kalau gitu posting tentang situasi politik yang sedang hot-hotnya nih. Pasti banyak yang baca.”

“Capek ah! Saya kan memilih hidup di ‘jalan sunyi’, pantang untuk berpolitik apalagi berkoalisasi dengan penguasa. Kalau mau membangun negara ya membangun aja, nggak perlu berkoar-koar. Kalau mau memberantas kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, ya dimulai dari tetangga kiri kanan, bukan gembar-gembor proyek dan program nasional.”

“Wah.. kalau gitu posting tentang rumah sakit dan penyakit aja. Aku lihat postingan jenis ini di blog Kakak banyak pembacanya, bisa mencapai puluhan ribu orang.”

“Malas, ah. Saya sedang ingin hidup sehat ala saya, bukan ala dokter atau ahli kesehatan.”

“Jadi Kakak mau apa sekarang?”

“Mau jalan, aja. Menyepi di Brahmavihara selama beberapa minggu. Sambil menjalani  meditasi vipassana. Terlalu pikuk di luar sini. Kepala saya pening.”

“Oke Kak, selamat jalan. Jangan lupa oleh-oleh buat aku, ya.”

“Oleh-oleh apa?”

“Obat untuk penyakit orang miskin. Maklum Kak, aku belum pernah kaya.”

“Oke, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata. Sadhu.. sadhu.. sadhu

Advertisements