Alkisah ada pengusaha batako kaya raya di kotaku. Begitu kayanya dia, sehingga hartanya tak habis dimakan tujuh turunan. Sayangnya, dia menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan. Sudah puluhan kali ‘Pak Kaya’ -begitu dia kusebut- belanja dokter, mengunjungi dokter spesialis mujarab satu ke dokter terkenal lainnya, namun penyakitnya belum menunjukkan tanda-tanda berkurang. Justru tubuhnya semakin lemah, nafasnya sepenggal dua penggal, dan ababnya menguar bau bacin.

warga di belakang 'Garden Village'

salah satu konsumen setia obat anti masuk angin

Suatu hari dia mengunjungi dokter pamungkas, spesialis segala penyakit di sebuah rumah sakit asing yang tarifnya selangit. Tanpa basa-basi dia utarakan maksud kedatangannya.

“Dokter, saya ingin obat anti mati,” katanya separo memerintah.

“Memangnya kenapa, Tuan? Apa Tuan Batako takut mati? Mati itu enak, lho, bisa mengakhiri penderitaan. Ketimbang hidup hanya berkubang penyakit,” jawab si dokter kalem, menurunkan kacamatanya, sambil memandang pasiennya yang sekarat.

“Kalau saya mati, keluarga saya bisa berantakan. Keempatbelas anak dari tiga istri saya akan berebut harta peninggalan saya. Mereka bakal cakar-cakaran, saling membenci, bahkan mungkin akan saling tenung dan bunuh. Belum lagi gundik-gundik saya akan bikin ulah yang akan memalukan nama baik keluarga saya.” Si pasien sekarat tampak gusar.

“Makanya Tuan, berpikirlah dulu sebelum berbuat. Kalau sudah seperti sekarang, apa nak buat.” Dokter memandang Tuan Batako penuh iba, sambil berpikir.

“Tapi saya punya penyelesaian buat kasus Tuan. Kenapa tak Tuan sumbangkan saja semua harta Tuan yang di bank untuk badan amal? Dengan begitu, keluarga Tuan akan utuh, gundik-gundik tak akan bikin ulah, dan nama Tuan akan dikenang sebagai orang baik sepanjang masa. Bagaimana Tuan?”

Tuan kaya berpikir cepat, lalu mengangguk. “Dokter punya usul badan amal yang kompeten untuk menerima harta saya?”

“Ah gampang Tuan. Kebetulan saya menjadi komisaris lembaga yang menyalurkan obat-obatan untuk memerangi penyakit yang menimpa orang miskin di 5 negara Asia Tenggara. Tak hanya di Indonesia, tapi juga Filipina, Kamboja, Laos, dan Thailand. Jika Tuan berkenan, dapat menyumbang kepada kami.” Si dokter tersenyum lebar, memamerkan geligi putihnya hasil implan yang tertata rapi dan bersinar mirip mutiara.

Tuan sekarat pun mengangguk-angguk gembira. Kini yakin sudah dirinya akan masuk surga berkat harta yang dikumpulkannya sepanjang hayat.

Tiga bulan kemudian Tuan kaya pemilik batako merk ‘Abuntein’ ini pun meninggal. Meskipun shock, ke-14 anaknya tak bisa berkata apa-apa saat pengacara memberitahu mereka bahwa harta ayah mereka sudah disumbangkan ke yayasan sosial. Para gundik Tuan Batako pun senyap, tahu bahwa kekasih mereka tak meninggalkan harta untuk diperebutkan. Sementara dokter pamungkas baru saja membuka pabrik obat di Indonesia dengan cabang di Thailand, Laos, kamboja, dan Filipina. Pabriknya memproduksi obat-obatan mirip minyak anti masuk angin, pil pengecor mencret, salep pencetus kentut, atau puyer pemusnah cacing. Obat murah meriah yang dikonsumsi jutaan jelata di penjuru Asia. Tenggara.

catatan : sekarang saya benar-benar akan bertapa, masuk brahmavihara. sampai jumpa 2 minggu lagi dengan pikiran yang lebih ‘fresh’ 😀

Advertisements