Tags

,

Ini kali ketiga saya mengunjungi Brahmavihara Arama di Singaraja, Bali, dalam rangka meditasi vipassana. Ketika tinggal di Jawa, jika ingin mengikuti meditasi, saya harus ke vihara di Klaten atau di Batu Malang. Karena tinggal incognito di Bali Utara, maka Brahmavihara menjadi pilihan utama.

meditasi jalan dalam sebuah retreat meditasi - foto: lily fistania

meditasi jalan dalam sebuah retreat meditasi – foto: lily fistania

Brahmavihara Arama terletak di puncak pebukitan, di Desa Banjar, sekitar 3 km dari jalan raya antara Gilimanuk-Singaraja. Paling gampang jika hendak ke vihara dari Gilimanuk dengan angkutan umum (bus jurusang Singaraja), turun saja di Seririt (tarif bus Rp.25.000), lalu naik ojek -ongkosnya sekitar Rp.10.000- menuju vihara. Ada plank nama bertulis ‘Brahmavihara Arama, Banjar Tegeha, Banjar, Kabupaten Buleleng’, di depan vihara, tepat di kanan jalan.

Perkenalan saya dengan Brahmavihara dimulai September 2013, ketika mengikuti retreat meditasi vipassana yang dikenal dengan Meditasi Mengenal Diri (MMD), dibimbing Bapak Hudoyo Hupudio. Kebetulan waktu itu saya numpang di rumah kawan di Desa Munduk, sekitar 20 km dari vihara. Sempat terbersit pertanyaan ketika itu, kok ada vihara, tempat ibadah umat Buddha di Bali? Setahu saya, Bali kan dipenuhi pura, tempat ibadah umat Hindu yang menjadi mayoritas penghuni pulau dewata?

Saya juga bertanya-tanya, mengapa vihara diberi nama ‘Brahma’? Bukankah Brahma itu nama satu dewa dalam agama Hindu?

Vihara ini didirikan oleh Bante Giri pada 1969. Semula vihara didirikan di dekat pemandian air panas, lalu dipindahkan ke Banjar.

Brahmavihara Arama terdiri dari tiga kata, yaitu: brahma, vihara, dan arama. Brahma berarti agung, sangat luhur, terpuji, mulia. Jadi bukan semata nama dewa. Sedang vihara bermakna cara hidup, dan arama adalah tempat. Vihara terbesar di Bali ini memang dimaksudkan menjadi tempat untuk melatih diri, menempa perilaku terpuji, yang meliputi metta, karuna, mudita dan upekkha, dan bisa didapat lewat meditasi vipassana bhavana. Vihara ini tak hanya menjadi tempat para bhiksu tinggal, tapi juga menjadi pusat pelatihan meditasi seperti yang sekarang dilakukan.

satu sisi miniatur stupa yang meniru candi borobudur

satu sisi miniatur stupa yang meniru candi borobudur

Kali kedua saya ikut meditasi vipassana di vihara ini pada bulan Desember, dibimbing Sayadaw U Tejanita, dan kali ketiga pertengahan Juni ini dibimbing Sayadaw Nyanaramsi. Ada kawan yang bilang saya kecanduan meditasi, ada lagi yang ngomong saya banyak masalah. Mungkin mereka benar. Meditasi memberi efek nyaman, kalem, tenang. Meditasi juga membuat pikiran tenang sehingga manusia akan bereaksi terhadap kehidupan seperlunya saja. Saya tak perlu memusingkan perkataan atau perbuatan orang yang menyakitkan, gosip-gosip yang jika kita tanggapi justru mengacaukan pikiran kita.

Meditasi membuat saya dapat mengontrol emosi, dan pikiran jadi lebih fokus. Perbuatan pun semakin taktis dan efisien. Kita jadi lebih welas asih terhadap sesama dan penuh perhatian akan hidup di saat ini. Itu hanya sedikit dari melimpahnya manfaat meditasi. Namun saya selalu kembali ke Brahmavihara bukan semata karena itu. Saya merasa selalu ada yang memanggil kembali untuk datang ke vihara, menikmati perhatian baik, penuh kasih sayang dari para pengurus vihara, juga menikmati momen-momen meditasi yang berlangsung intensif sejak pukul 03.45 hingga 21.30. Tanpa henti, walau diselingi kegiatan sehari-hari seperti sarapan, makan siang, mandi, mencuci, dan membersihkan kamar. Mungkin karena bebas mengatur waktu kerja saya, tak perlu ngantor, mandiri, sehingga saya selalu memiliki waktu untuk mengikuti meditasi panjang, setidaknya dua kali setahun.

Saya pernah mengikuti beberapa jenis metode meditasi vipassana, dan merasa paling pas dengan metode yang diajarkan Sayadaw. Mungkin karena meditasi dijalankan berseling antara satu jam meditasi jalan lalu satu jam meditasi duduk -aturan ini tidak baku, bisa saja 2 jam meditasi duduk lalu 45 menit meditasi jalan, sesuai permintaan tubuh- sehingga tubuh tidak menjadi kaku dan kesakitan.

Ada metode meditasi vipassana lain yang mengajarkan semata-mata duduk selama minimal 8 jam seharian, ada metode bebas yang menyerahkan kepada peserta mana meditasi yang paling cocok buat mereka. Dalam kehidupan sehari-hari saya memilih tak dibelenggu aturan, namun dalam meditasi saya lebih pas dengan banyaknya aturan ketat yang mengikat. Itu karena hasil meditasi baru bisa tercapat jika dilakukan dengan ketat, disiplin, dan tekad yang kuat. Apalagi meditasi terus menerus yang berlangsung belasan jam. Bahkan meditasi terus berlangsung ketika kita melakukan kegiatan seperti makan, mandi, mencuci, dan sebagainya. Intinya metode ini -menurut saya- paling bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

_MG_0099Kali ini saya datang pada hari ke-4 meditasi. Efek demam chikungunya masih saya rasakan, ngilu di lutut kanan. Beruntung panitia retreat memberi kelonggaran dengan memperbolehkan saya datang terlambat. Dari Surabaya saya naik kereta api Sri Tanjung jam 13.40, setelah sambung menyambung dengan feri, bus, dan ojek, saya menginjak vihara pukul 07.00, tepat waktu sarapan usai. Toh saya diminta panitia untuk makan dulu sebelum mandi dan memulai meditasi.

Peserta meditasi lumayan banyak, ada 38 orang, terdiri dari 13 pria dan 25 perempuan. Selalu, di setiap retreat yang saya ikuti, perempuan lebih banyak yang berminat meditasi ketimbang lelaki. Namun kali ini tak banyak orang asing yang ikut, hanya ada 4 perempuan bule dan 4 lelaki bule. Sisanya orang Indonesia, mayoritas buddhist.

Sering kawan bertanya apa saya sudah menjadi pengikut jalan Buddha dan meninggalkan agama warisan. Saya tak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Setahu dan sepaham saya, Buddha adalah orang yang tercerahkan, terbebaskan. Menjadi buddhist berarti menjalani hidup ala Sidarta agar terbebaskan. Bukan masalah saya harus menyembah Tuhan ini atau Tuhan itu. Jadi bagi saya ini way of life. Mungkin saja pendapat saya salah.

Meditasi sebetulnya bisa diikuti semua jenis manusia, tak pandang agamanya. Bagi pengikut kejawen, dikenal istilah semedi, bertapa, atau ngelakoni, yang mirip meditasi. Dalam Islam kalau mau kita gali makna mendalam tentang puasa, sebetulnya juga meditasi. Bukan sekedar menahan makan minum, tapi juga syahwat, amarah, berkata kotor dan tak berguna. Namun puasa kemudian kehilangan makna menjadi menahan lapar haus dan syahwat. Setiap agama dan kepercayaan, memiliki beragam bentuk meditasinya sendiri-sendiri.

Meditasi vipassana pun boleh diikuti siapa saja. Di sini saya bersua Dewi Hughes yang sempat saya wawancara ketika bekerja di Majalah Femina silam. Ada pula Imaculata, dosen teologi kristian. Tujuan meditasi ini untuk mengikis kekotoran batin, memurnikan pikiran. Tak peduli agama yang dianut peserta.

Beberapa aturan ketat pun diterapkan. Seperti sesama peserta dilarang berbicara selama 10 hari meditasi berlangsung, dilarang berkata bohong, membunuh makhluk hidup entah manusia, hewan seperti semut dan nyamuk. Pada beberapa metode meditasi vipasana peserta dilarang memakai parfum, mengenakan perhiasan, makan terakhir sebelum tengah hari, dan sebagainya. Aturan diterapkan agar setiap peserta dapat mencapai tujuan meditasi. Memurnikan pikirannya dan mengikis kotoran batin.

Pada meditasi sebelumnya, saya melihat banyak peserta yang menyerah, pulang sebelum meditasi usai. Kali ini tak ada peserta yang balik kampung. Bahkan kondisi hening dipertahankan hingga makan pagi terakhir. Mungkin karena sebagian peserta pernah menjalani meditasi sebelumnya. Mungkin pula karena setiap peserta memiliki tekad yang kuat untuk menjalani meditasi sampai akhir.

Yogi -sebutan bagi peserta meditasi- perempuan ditempatkan di kamar-kamar yang berada dekat dengan ruang makan. Setiap kamar diisi 2 yogi. Mereka harus berbagi wastafel dan kamar mandi bersama, dalam sunyi. Gerakan menggunakan kamar mandi, membuka dan menutup pintu pun harus sepelan mungkin hingga setiap gerakan dapat dirasakan sampai ke helaan nafas. Sedang yogi lelaki tinggal di kuti lelaki di bawah, yang juga dibagi menjadi kamar-kamar dengan 2 yogi setiap kamar.

Ruang meditasi utama adalah stupa hall yang ornamen luarnya merupakan miniatur Candi Borobudur. Di ruang ini semua yogi harus melakukan chanting -pembacaan doa- pukul 5 pagi hingga 6 pagi. Pada malam hari kembali yogi berkumpul pukul 20.00-21-30 untuk pembacaan chanting dan meditasi duduk bersama. Stupa Hall juga digunakan bagi bhiksu memberi ceramah atau dhamma talk. Di luar jadwal tersebut stupa hall hanya digunakan yogi perempuan untuk bermeditasi, sedang yogi lelaki menggunakan ruang meditasi di depan Bhante giri, atau dhammasala.

Saya sendiri lebih suka bermeditasi di depan ruang perpustakaan atau di depan patung Buddha. Kadang saya bermeditasi di semacam gazebo yang tersebar di antara pepohonan mangga di bawah. Udara terbuka membuat saya bebas bernafas, dan bermeditasi lebih hening.

Ada jalur-jalur terbuka di depan stupa. Di sinilah para yogi melakukan meditasi jalan setiap hari jika hari tidak panas, sejak pukul 3.45 hingga 20.00. Tentu saja waktunya berselang dengan meditasi duduk. Agustus 2012 saya mengenal meditasi jalan di sebuah kuil Buddha di Bangkok. Namun baru Desember 2013 belajar meditasi jalan dalam retreat di Brahmavihara. Sejak saat itu saya mencoba mmempraktekkan meditasi jalan setiap hari, senyampang ada kesempatan. Kadang hanya 30 menit, kadang lebih dari satu jam. Sungguh saya rasakan manfaatnya, membuat tubuh lebih bertenaga, mengusir kantuk, melancarkan pekerjaan organ pencernaan. Jangan mengeluh jika kerap melakukan meditasi jalan akan membuat Anda gampang buang angin.

Dalam retreat, meditasi jalan harus dilakukan usai acara makan. Tujuannya apalagi jika untuk mengusir ngantuk dan memperlancar pencernaan. Maka, ketimbang tidur, leyeh-leyeh usai makan, mending berjalanlah. Berjalan selambat mungkin, bukan hanya satu step (kiri-kanan), tapi bisa 3 step (angkat-dorong-turun), hingga 5,6,7 step. Rasanya luar biasa bisa merasakan dan mengetahui begitu banyak gerakan dalam setiap langkah dan helaan nafas.

Ketika belajar meditasi jalan, yogi memulai dari step terendah. Lalu seiring lamanya latihan yogis akan meningkatkan step latihannya sesuai dengan kemampuannya merasakan gerakan. Tentu semakin banyak step semakin lambat langkah dan semakin panjang nafasnya, serta semakin tinggi konsentrasi yang dibutuhkan.

Ada beberapa hal yang saya pelajari selama melakukan retreat meditasi. Kesatu, meditasi bukan kompetisi. Setiap yogi akan memiliki pencapaian yang berbeda dengan yogi lainnya. Pengalaman spiritual mereka pun berbeda-beda. Kekotoran batin yang mereka miliki pun berbeda. Sekilas menyebut ceramah Sayadaw Nyanaramsi, kekotoran batin mirip kemarahan, kedengkian, keserakahan, dan dilusi sungguh menjadi penyebab utama dukha atau penderitaan di dunia. Marah karena pernah disakiti, disia-sia, diperlakukan tidak adil, lalu melampiaskan kemarahan justru akan mengobarkan amarah yang lebih besar. Mirip menuang minyak ke dalam api. Begitu juga dengan kebencian, keserakahan, yang berawal dari rasa enak, menyenangkan, lalu menimbulkan hasrat untuk memiliki, sehingga melahirkan sifat lapar terus, kurang terus.

Kedua, karena kami, para yogi, harus merasakan, dengan memperlambat semua gerakan selama meditasi, termasuk makan, maka hanya sedikit makanan yang mampu masuk ke perut. Saya pribadi memilih makanan berupa sayur dan buah setiap bersantap, dan hanya 2-3 sendok karbohidrat. Mengunyah dengan lambat, merasakan pergerakan gigi saat bertemu dan berpisah, membuat kita cepat kenyang. Tak heran umumnya yogi akan kehilangan berat badan antara 3-5 kg usai retreat.

Ketiga, jangan memasang target apapun dalam meditasi. Meditasi yang biasa dikenal adalah meditasi duduk. Namun meditasi yang dilakukan dengan memperhatikan kembang kempisnya perut -dalam metode ini- menurut saya paling berat. Bukan hanya karena ngilu di lutut kanan masih terasa, tapi juga gangguan di kala duduk begitu besar. Mulai pikiran-pikiran yang muncul tenggelam, kehendak untuk melakukan sesuatu kemudian, hingga rasa kantuk. Benar kalau ada yang mengatakan bahwa meditasi membutuhkan tekad dan kesabaran yang luar biasa. Yogi biasanya diminta tidak menargetkan sesuatu. Kesembuhan dari penyakit tertentu, menjadi ‘sakti’, atau hal lain itu hanya efek sampingan meditasi. Tujuan utama meditasi tetaplah mengikis kekotoran batin.

Dalam retreat, para yogi diberi kesempatan untuk menyampaikan keluhan, kemajuan meditasinya, dalam wawancara dengan guru -bhante Sayadaw Nyanaramsi dalam hal ini- setiap dua hari sekali. Pada wawancara terakhir, guru saya bilang bahwa seharusnya ada kemajuan usai melakukan setiap retreat dan mempraktekkan meditasi. Saya lalu melakukan evaluasi sejak 2 tahun mengenal dan mempraktekkan vipassana, kemajuan apa yang saya dapat. Yang jelas saya menjadi manusia yang lebih baik, yang memperlakukan sesama lebih manusiawi dan penuh kasih sayang. Saya juga bekerja tak semata mengejar kepuasan materi tapi selalu memasukkan unsur apakah karya saya berguna buat kemanusiaan. Semoga itu berlanjut terus hingga menjelang hayat.

Ketika akhirnya saya harus meninggalkan Brahmavihara Selasa, 24 Juni usai makan siang, saya tidak merasakan sensasi ‘gembira berlebihan’ seperti dalam retreat-retreat meditasi sebelumnya. Saya hanya merasa biasa, tenang, juga tak sempat beramah tamah dengan banyak yogi lainnya. Paling hanya bertukar gurauan dan ledekan dengan Hughes dan Imaculata, si pemilik sekolah khusus penderita autis. Namun, ketika harus berjalan kaki sejauh 3 km menuju Rumah Intaran dengan membawa beban ‘lumayan berat’, saya merasa nafas begitu ringan. Bahkan di saat hendak terpejam di malam hari, nafas terasa begitu teratur. Sementara ini saya masih bermeditasi dalam kehidupan sehari-hari, bergerak lambat penuh kehati-hatian, dan mulut terasa ngilu saat berbicara ‘terlalu banyak’.

Salam metta,

Advertisements