Saya sudah mengenal si empunya Rumah Intaran, studio arsitektur di Singaraja ini berbulan lalu. Kebetulan Gede Kresna bersama istrinya, Ayu, kedua anak mereka, Gek dan Taksu kerap sambang Don Biyu. Kadang hanya datang berempat, kerap bersama kolega, para mahasiswa yang magang, atau stafnya. Tentu saja mereka makan di Don Biyu sambil berdiskusi dengan sesama mereka, atau bersama kawan saya, si bendesa Munduk.

Dia menyebut dirinya si arsitek desa. Mungkin karena selama ini tinggal di Desa Bengkala, beberapa km di luar Kota Singaraja. Sebelumnya lulusan Teknik Arsitektur UI ini sempat menetap beberapa tahun di Jakarta, lalu di Denpasar. Entah apa yang memanggil si bungsu dari lima bersaudara ini kembali ke kampung halaman, mempelajari arsitektur kehidupan.

kompleks 'rumah intaran' memang berada di bawah kerindangan pohon intaran

kompleks ‘rumah intaran’ memang berada di bawah kerindangan pohon intaran

“Ada Gede Kresna,” begitu kata bendesa kawan saya suatu siang, mengagetkan saya yang sedang cangkruk di selasar rumah utama.

“Siapa dia?” Saya yang baru beberapa minggu tinggal di Munduk, bertanya ‘oon’.

Untung si bendesa tersenyum. “Kamu mesti kenal,” hanya itu jawabannya. Dengan segan, saya pun menuju Don Biyu restoran, memperkenalkan diri kepada mereka.

Saya lihat ada lelaki dengan rambut meriap-riap sebahu duduk di sebuah kursi. Dahinya lebar, tanda kecerdasan dan ‘sedikit’ kebijaksanaan. Bajunya putih longgar lengan panjang. Dia sedang membuka laptop, memamerkan beberapa gambar.

“Dia sedang menggarap Hotel Mlanting yang baru dibeli Gus Agung,” bisik kawan saya sebelumnya.

“Siapa Gus Agung?” saya bertanya-tanya dalam hati. Ternyata dia salah satu investor terkemuka di Bali yang memiliki visi lingkungan dan kemasyarakatan.

Kelak saya tahu bahwa bapak Rumah Intaran ini seorang arsitek. Bukan sekedar arsitek yang merancang bangunan, tapi salah satu yang unik dengan membawa visi ‘hijau’ tak hanya di dalam karyanya namun juga dalam kehidupan sehari-hari.

Ada berapa arsitek yang tahu tentang organik, GMO, Monsato? Tahu tak sebatas teori dan berdasar berita yang dibaca di internet atau media, tapi juga menjiwainya. Itu sebabnya saya sempatkan berkunjung begitu keluar dari pertapaan di Brahmavihara Selasa tengah hari, 24 Juni. Mumpung bisa numpang mobil Hughes Si Besar ke Singaraja.

Saya berhenti di pertigaan Pura Desa Kubutambahan, lalu berjalan ke kanan, ke arah Kintamani sejauh 3 km. Sesuai dengan instruksi dari SMS Gede. Walau ransel terasa berat dengan beban full, kaki begitu ringan, dan nafas amat sangat panjang. Efek meditasi 16 jam selama lebih seminggu. Satu kilometer sebelum Rumah Intaran, saya bersua penduduk sekitar pemilik rumah makan, ngobrol sejenak, lalu diantar oleh anaknya naik motor. Sungguh khas keramahan orang desa.

Dalam imaji saya, bermodal membaca beberapa blog tentang Rumah Intaran, saya akan melihat rumah berwawasan lingkungan, dengan halaman hijau di bawah kerindangan pohon intaran. Yang ada di depan mata saya, mirip bengkel kapal yang besar. Banyak kayu bekas terhampar di depan mata. Beberapa mesin pertukangan seperti gergaji, penghalus kayu, juga sebuah pondok kayu mirip kandang TKI yang bekerja di sektor konstruksi di Malaysia. Tempat pertama yang saya sasar begitu sampai di Rumah Intaran memang bengkel para tukang atau istilah Gede, artisan.

Usai menaiki undak-undakan tanah yang berdebu, sampailah saya di rumah besar pertama. Kantor para arsitek yunior. Di sana hanya ada Kadek yang asyik dengan komputernya. Oya, ada empat ekor anak anjing menyambut saya. Imut wajah mereka, sok galak tapi berlari menjauh jika dipanggil dan didekati. Saya letakkan ransel di atas kursi beserta empat buku -kesalahan fatal, karena beberapa jam kemudian saya sadari bagian muka buku sudah tercabik, dibuat mainan anak anjing. Buku si Fukuoka malah kehilangan beberapa lembar halaman awalnya hehe–, lalu menjelajah ke dalam. Memandang beragam barang antik yang diselimuti debu. Rumah Intaran memang sedang berdebu. Tak hanya di pekarangan, tapi juga di halaman. Pertanda kemarau melanda. Ah, jadi merindu hujan den rerumput hijau.

Di samping kantor arsitek yunior, ada kantor Gede Kresna dan stafnya. Terkunci. Gede, Ayu, Taksu dan Gek, para staf dan mahasiswa magang sedang bertandang ke Munduk. Saya lalu ngobrol dengan Mbok Wayan yang sedang menyapu halaman dan menawari kopi. Tak lama saya bersua Guru Nyoman, paman Gede yang biasa membantu proyek-proyeknya. Guru Nyoman penuh senyum, wajahnya bersih, dan berjiwa muda.

Sore menjelang ketika akhirnya Gede Kresna datang, kami bercakap dan berkenalan dengan staf beserta mahasiswa magang. Akhirnya saya tinggal di Rumah Intaran lima malam, mencoba memahami filosofi rumah ini dari apa yang saya lihat, saya rasakan, serta brosur yang saya baca. Apa yang saya dapat kemudian akan saya uraikan di foto-foto di bawah ini. Tentu saya ingin tinggal lebih lama di sini, sambil berbuat sesuatu, tapi nanti. Gede sedang sibuk, tukang-tukang yang mayoritas dari Jawa sedang akan pulkam menjelang lebaran. Padahal saya ingin belajar dari para tukang. Mencuri ilmu dan ‘kemalasan’ mereka. Kebetulan pula artikel bertajuk ‘Rumah Bumi’ harus masuk seminggu kemudian.

Ada satu hal yang bisa saya informasikan. Gede Kresna menerima para mahasiswa magang, entah itu untuk menjadikan karyanya obyek skripsi dan penelitian, atau sekedar belajar di Rumah Intaran. Umumnya yang magang mahasiswa arsitektur. Dia memiliki kriteria khusus bagi para pemagang, di antaranya bukan sekedar menjadi arsitek yang belajar mengolah bahan dari alam setempat, tapi juga memiliki jiwa, pola kehidupan sehari-hari yang alami. Ini tentu bukan hal mudah. Gede melarang makanan fastfood, bahan-bahan makanan produk GMO, atau obat, makanan, bahan yang diproduksi Monsato.

Saya jadi teringat kawan yang menjadi aktivis sok ‘green’ yang kerap bilang, “Saya ini vegetarian. Cinta tempe dan hanya makan roti gandum, bukan roti putih”. Tapi dia tak paham bahwa tempenya menggunakan kedelai impor yang jelas produk GMO, gandumnya juga produk GMO. Kalau sakit kepala, dia segera membeli aspirin yang diproduksi perusahaan milik Monsato. Dia mencuci dengan deterjen penuh sulfat, menyukai komestik berbahan kimia dan pemutih wajah, dll dll. Yang begini, jelas aktivis ‘green’ gadungan, omong doang. Setidaknya masih berbentuk ‘green’ fisik, sekedar berpikiran ‘green’, belum merasuk ke jiwa yang kemudian dimunculkan dalam tindak laku sehari-hari.

Ah, saya terlalu banyak cakap. Monggo disimak fotonya saja.

Salam,

sulit menemukan jendela berdaun di rumah-rumah di sini. adanya lubang yang dimodifikasi, sehingga kerap disebut 'rumah berpori

sulit menemukan jendela berdaun di rumah-rumah di sini. adanya lubang yang dimodifikasi, sehingga kerap disebut ‘rumah berpori

ketika matahari bersinar, ayam, anjing, dan burung merpati bersahabat. namun di saat gelap, ada anak anjing yang doyan berburu ayam.

ketika matahari bersinar, ayam, anjing, dan burung merpati bersahabat. namun di saat gelap, ada anak anjing yang doyan berburu ayam.

di sore hari, usai bekerja, para tukang biasanya main pingpong di sini. di sampingnya, ada tempat mencuci piring tradisional yang berbau udara terbuka

di sore hari, usai bekerja, para tukang biasanya main pingpong di sini. di sampingnya, ada tempat mencuci piring tradisional yang berbau udara terbuka

keranjang bambu yang digantung ini multi-fungsi: bisa sebagai tempat menyimpan makanan mirip lemari makan, bisa menjadi tempat ayam bersarang, sebelum bertelur

keranjang bambu yang digantung ini multi-fungsi: bisa sebagai tempat menyimpan makanan mirip lemari makan, bisa menjadi tempat ayam bersarang, sebelum bertelur

bengkel kayu, tempat para tukang bekerja. ada di bagian paling depan 'rumah intaran'

bengkel kayu, tempat para tukang bekerja. ada di bagian paling depan ‘rumah intaran’

di selasar kantor arsitek yunior, banyak dipajang barang antik. sayang berdebu.

di selasar kantor arsitek yunior, banyak dipajang barang antik. sayang berdebu.

foto ini paling sering dipajang. salah satu dinding kantor Gede Kresna yang memanfaatkan kurungan bambu

foto ini paling sering dipajang. salah satu dinding kantor Gede Kresna yang memanfaatkan kurungan bambu