Pukul delapan lebih sedikit pagi itu dia sudah keluar rumah, berjalan kaki menuju kantor pos yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Tidak tergesa, dia nikmati hari. Sepanjang jalan dia berpapasan dengan dua pemulung. Pemulung pertama, seorang lelaki setengah baya dengan kumis jewawut putih dan telanjang kaki. Dia sedang membopong karung rami, tangan kanannya memegang capit.

“Nderek langkung, Pak,” tegur perempuan itu sambil tersenyum. Pemulung itu menoleh, menganggukkan kepala, lalu membalas sapaannya. Wajah si lelaki mendadak ceria, penuh senyum, meniru si perempuan.

sepanjang jalan

sepanjang jalan

Beberapa puluh meter kemudian perempuan itu kembali bersua pemulung. Si pemulung sedang melipat-lipat dos bekas di atas becaknya. Becak dipenuhi koran bekas, dos-dos bekas, dan plastik. Becak diparkir di halaman kawasan perumahan tentara ‘lama’ yang nyaris tanpa pagar. Wajahnya serius, begitu mungkin dia menekuni kerjanya setiap hari, demi menuai rupiah. Perempuan itu mulai berpikir, sungguh banyak nikmat Tuhan. Memulung sampah pun dapat menjadi gantungan hidup, asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Masalahnya hanya persepsi kita, pandangan sempit kita, yang mengotak-ngotakkan pekerjaan. Dokter pekerjaan terhormat, guru pekerjaan mulia, pembantu rumah tangga jangan dianggap, pemulung pekerjaan penuh kotoran. Padahal semuanya sama, hanya pekerjaan untuk menghasilkan uang dan mengisi kehidupan. Orang yang mengerjakannya seharusnya dianggap sederajad. Jadi..

Tak disadarinya langkah kakinya sudah menginjak halaman kantor pos. Pak pos langganan menyambutnya, lagi-lagi tertular senyumannya. Sambil melayaninya, lelaki muda itu bertanya dia mau berkelana ke mana setelah ini. Dia tahu pelanggannya panjang kaki sekaligus panjang hati. Si perempuan balas bertanya kapan terakhir kantor pos buka sebelum cuti panjang lebaran.

“Sabtu, tanggal 26 Juli,” kata Pak pos sambil terus mengetik alamat dengan komputer.

“Wow, mepet sekali buat mudik. Kapan mulai kerja lagi?” Perempuan itu kembali bertanya.

“Tanggal 2 Agustus sudah masuk.”

Wew, 2 Agustus itu Sabtu juga. “Harpitnas, Mas?” Mereka tertawa . Bisa dipastikan hari itu akan banyak PNS yang meliburkan diri. Begitu bayangan si perempuan.

Pulang dari kantor pos, masih dengan senyum, dia hampiri penjual jajan di pinggir jalan. Dibelinya beberapa potong tahu goreng dan artabak. Memanglah buka puasa masih lama. Namun memandang si mbak penjual yang mukanya sedih, iba dirinya. Barangkali dengan membeli beberapa jajan, si mbak penjual akan sedikit terhibur. Toh nanti jajannya bisa disimpan di kulkas.

Lalu dia bergegas menuju supermarket tua tapi baru di ujung perempatan. ‘New Palapa’ namanya. Dia hendak membeli beberapa alat tulis, sarung plastik, baking soda, kacamata minus, dan bolam. Pada setiap kasir saat hendak membayar belanjaannya, dilihatnya wajah gadis-gadis -atau menyerupai gadis- yang mengantuk. Mulut menguap lebar, wajah cemberut, senyum mahal, dan sok sibuk. Senyumannya tak berarti bagi mereka. Mungkin mereka sedang memikirkan THR yang belum dibayar. Lebaran tinggal dua minggu lagi, harga-harga makanan melangit, toko-toko pakaian menawarkan banjir diskon. Jadi, mirip neraka rasanya menunggu.

Meninggalkan supermarket, dia melintasi pinggiran selokan yang panjang dan cukup dalam namun nyaris asat. Banyak pasukan kuning bekerja di sana. Mereka sedang meraup tanah berlumpur dari dalam selokan untuk dimasukkan ke dalam karung rami warna putih. Banyak karung berjejer, mirip tanggul penangkal banjir. Mungkin ini salah satu program Risma, walikota Surabaya, dalam bidang pertamanan. Karung berisi lumpur akan jadi bahan pupuk organik murah buat taman-taman yang dibuatnya memenuhi kota. Sungguh cerdik dan tepat sasaran.

Beberapa lelaki menoleh ke arahnya. Dia menganggukkan kepala, masih tersenyum, sambil berkata, “Mari, Pak!”

Lagi-lagi sambutannya luar biasa. Mereka ganti menganggukkan kepala, menjawab senyumannya dengan sikap yang lebih ramah. Begitu terus hingga barisan pekerja bakti selokan habis. Seolah mereka mengenalnya dengan baik, bertetangga dekat. Padahal…

Ah, dia jadi berpikir, apakah selama ini jarang orang memberi perhatian kepada orang-orang kecil ini, menoleh dan menyapa mereka, si penyapu jalan, pemulung, tukang sampah. Sehingga, sedikit anggukan, sapaan dan senyuman mampu membuat mereka merasa dimanusiakan? Entahlah!

Andai dia tersenyum kepada bintang pujaannya, pejabat yang dihormatinya, pengusaha kaya yang sedikit dikenalnya, apakah balasan keramahan juga akan didapatnya? Entahlah! Tiba-tiba dia teringat sobat masa sekolah yang kini jadi orang besar dan dihormati negerinya, bahkan dunia. Sekali mereka bersua namun si sobat tak mengenalnya. Waktu dan keberuntungan bisa mengubah tanduk seorang karib, namun tidak mengubah para jelata ini. Dia merintih, masih dengan tersenyum.

Advertisements